Mendag Jajaki Impor Daging Sapi Dari Jepang

Pasok Kebutuhan Kelas Premium

Jumat, 21/02/2014

NERACA

Jakarta – Menyusul retaknya hubungan diplomatik dan perdagangan Indonesia dan Australia, dalam rangka memenuhi kebutuhan akan daging nasional kini pemerintah menjamah negara lain untuk dapat bisa mendatangkan impor daging sapi, salah satu negara yang dibidik sebagai negara pengimpor daging sapi adalah Jepang.

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengakui saat sedang menjajaki peluang impor daging sapi dari Jepang. Sebagai langkah pemenuhan kebutuhan daging nasional. "Saya juga sebagai mantan duta besar Jepang melihat banyak peluang yang bisa diambil dari negara Jepang salah satunya impor daging," katanya di Jakarta, Kamis (20/2).

Dia melihat jenis daging sapi dari Jepang yakni daging wagyu dan OB, cocok mengisi kebutuhan restoran premium. Oleh karena itu, mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal ini menampik bahwa impor ini untuk menurunkan harga daging nasional.

Sampai pekan ini, rata-rata harga daging di seluruh Indonesia tak kunjung turun dari kisaran Rp 91.100 per kilogram. Kondisi ini membuat konsumen di dalam negeri terbebani harga daging sapi termahal sedunia.

Lutfi menceritakan, importasi dari Jepang lebih diarahkan pada daging kualitas premium. Jika kerja sama perdagangan ini terwujud, mendag yakin produk itu tak masuk ke pasar becek atau tradisional. Selain itu, daging-daging kualitas unggul ini untuk memasok kebutuhan restoran yang semakin menjamur di Tanah Air.

"Berapa banyak restoran jepang di Indonesia, jadi ini mesti dijaga. Ini kan dagingnya yang premium, jadi dagingnya sangat mahal," ungkap pria pengganti Gita Wirjawan ini.

Dari data Kementerian Perdagangan, kebutuhan impor sapi jenis biasa tahun ini mencapai 720.000 ekor. Peningkatannya naik 50 persen dibanding 2013. Pada triwulan I 2014 saja, izin impor dikeluarkan untuk 125.000 ekor sapi.

Sebelumnya, mantan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan menceritakan alasan Indonesia harus mengimpor daging sapi. Dia mencatat kebutuhan sapi potong di dalam negeri saat ini mencapai 3-4 juta ekor per tahun. Sementara stok sapi tahun ini berkurang hanya sebanyak 12 juta ekor.

"Pada tahun sebelumnya stok sapi kita mencapai 15-16 juta. Untuk sapi yang boleh dipotong hanya 2 juta ekor. Problemnya, bagaimana kita mengisi sisanya itu. Mau enggak mau kita harus impor," ujar Gita, ketika masih menjabat Mendag.

Menurutnya, melihat jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 240 juta jiwa, idealnya dengan pertambahan penduduk sebanyak 350 juta dalam beberapa tahun mendatang, Indonesia memiliki 60 juta ekor sapi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan lepas dari impor.

Pasokan Tercukupi

Sedangkan menurut Direktur Jenderal Peternakan Kementerian Pertanian (Kementan), Syukur Iwantoro, mengatakan pasokan daging sapi nasional tahun 2014 mencukupi, asalkan persoalan transportasi dari sentra produksi ke sentra pasar dibenahi.

"Kebutuhan daging sapi tahun 2014 diperkirakan 575 ribu ton, sedangkan potensi sapi lokal sebanyak 542 ribu ton atau 93 persen dari kebutuhan," katanya.

Ia mengatakan dengan jumlah potensi sapi lokal sebanyak itu sebenarnya sudah dapat memenuhi kebutuhan, namun lokasi sentra produksi tersebar sehingga masih membutuhkan fasilitas transportasi dan pelabuhan yang memadai. "Sentra produksi sapi yang terbesar di antaranya NTT, NTB, Sulsel, dan Jatim, sedangkan sentra pasar terbesar berada di Banten, Jakarta, Jawa Barat, sedangkan untuk daerah lain relatif tidak terlalu besar," papar Syukur.

Ia mengatakan untuk mengangkut sapi ke sentra pasar perlu sarana transportasi dan fasilitas bongkar muat yang memadai sehingga potensi stok sapi yang tersedia agar dapat terdistribusi dengan baik. Menurut Syukur, kalau melihat stok sapi sebenarnya tidak perlu khawatir akan kekurangan sepanjang distribusi dari sentra produksi ke sentra pasar dapat berjalan efisien.

Ia mengatakan seharusnya transportasi kapal dapat memenuhi syarat kesejahteraan hewan ternak sehingga bobotnya ketika sampai di sentra pasar tidak berkurang atau bahkan justru bertambah.

Syukur mengatakan, data di 2013, 30 persen sapi mengalami penurunan bobot badan dan 8-10 persen cacat atau bahkan mati. Akibat transportasi pengiriman yang tidak memenuhi syarat tersebut membuat potensi daging lokal efektif yang tersedia menjadi sekitar 463 ribu ton (81 persen dari kebutuhan).

Menurut Syukur, sebenarnya dengan stok sapi nasional seperti saat ini tidak perlu impor dari negara tetangga sepanjang persoalan distribusi dari sentra produksi ke sentra pasar dapat terjamin. Persoalannya untuk masalah transportasi, pelabuhan angkut, dan pelabuhan bongkar muat bukan menjadi tupoksi (tugas, pokok, dan fungsi) kementerian pertanian, tetapi berada di wilayah instansi lain.