Kemendag: Revitalisasi Pasar Untuk Persaingan Sehat

NERACA

Cianjur - Pesatnya pertumbuhan pasar ritel modern turut mengancam pasar-pasar tradisional atau pasar rakyat. Salah satu jalan keluarnya agar pasar rakyat bisa bersaing dengan pasar ritel modern adalah dengan revitalisasi. Hal tersebut seperti diungkapkan Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi saat ditemui usai meresmikan Pasar Cibeber, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Kamis (20/2).

"Usaha untuk melakukan revitalisasi pasar juga bagian dari menyehatkan persaingan. Karena dalam revitalisasi pasar yang lebih diutamakan adalah konsumen. Konsumen mau nya apa? Konsumen mau pasar yang bersih, yang terang, harganya bisa diandalkan dalam artian harga tidak beubah-ubah dan retalif stabil," ujarnya.

Ia mengatakan antara pasar ritel modern dengan pasar rakyat juga memiliki konsumen yang berbeda-beda. "Masing-masing pasar memiliki peran. Pasar swasta memiliki peran tertentu dan pasar rakyatpun punya peran tertentu. Konsumen pun bebas untuk memilih, terkadang konsumen juga mempunyai tipe-tipe. Misalnya dalam kondisi tertentu akan pergi ke tempat ini, dan kondisi tertentu bisa pergi ke tempat lain. Hal itu yang tidak bisa dibatasi," ucapnya.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, jumlah pasar rakyat yang tercatat mencapai 9.559 pasar. Sementara yang belum tercatat sekitar 3.000 pasar, artinya jumlah pasar mencapai 12.559. Sejauh ini, Kemendag telah melakukan revitalisasi pasar sebanyak 491 pasar dengan nilai anggaran mencapai Rp1,6 triliun. Pada 2014, Kemendag berencana akan melakukan revitalisasi sebanyak 80 pasar dengan anggaran mencapai Rp500 miliar.

Mengenai zonasi antara pasar rakyat dengan pasar ritel modern, Bayu mengaku bahwa pembatasan zonasi diatur melalui Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) masing-masing daerah. "Zonasi telah diatur lewat RUTR masih-masing Pemerintah Daerah (Pemda). Di Undang-undang perdagangan pun disebutkan bahwa pasar rakyat untuk dilindungi akan tetapi pelaksanaannya diatur melalui tata ruang di masing-masing daerah," jelasnya.

Ditambahkan Bayu, revitalisasi pasar bukan sekedar membangun fisik tapi juga bagaimana mengajar masyarakat pasar yaitu pedagang dan konsumen mengelola pasar dengan baik. Pihaknya juga mengaku akan membangun sekolah pasar. Maksud dari sekolah pasar adalah membuat para pedagang menjadi pedagang yang baik. Misalnya dalam pemeliharaan pasar, pengelolaan pasar. "Hal itu adalah bentuk-bentuk agar tidak hanya fisiknya saja tetapi kegiatan di pasar tersebut jadi lebih baik," tukasnya.

Menurut dia, revitalisasi pasar telah bermanfaat bagi para pedagang di pasar tersebut. Pasalnya setelah pasar di revitalisasi maka pendapatan pedagang ikut meningkat. "Berdasarkan pengalaman yang kita lihat, rata-rata omsetnya naik mulai dari 30% sampai dengan 250%," imbuhnya.

Resmikan Pasar Cibeber

Dalam kesempatan yang sama, Bayu juga meresmikan Pasar Cibeber di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Pasar yang sempat terbakar beberapa tahun lalu telah berhasil dibangun kembali dengan menelan dana sebesar Rp6,5 miliar. Dana tersebut berasal dari dana tugas pembantuan Kementerian Perdagangan pada 2013.

Menurut Bayu, program revitalisasi pasar tradisional yang dilaksanakan oleh Kemendag melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) dan tugas pembantuan juga merupakan salah satu upaya mendorong percepatan pembangunan di daerah. "Pertumbuhan ekonomi di daerah akan memperkuat sektor perdagangan dan meningkatkan daya saing pasar domestik. Hal ini sangat penting dalam menghadapi tantangan dan kompetisi global yang semakin ketat," imbuhnya.

Lebih lanjut, Wamendag menggarisbawahi bahwa Kemendag akan melakukan pendampingan dan memantau kemajuan hasil revitalisasi pasar tersebut, utamanya pasar tradisional yang menjadi percontohan, sehingga pasar dapat menjadi kebanggaan bagi rakyat sekitarnya. “Kami akan terus memantau perkembangannya. Namun tentu saja keberhasilan pelaksanaan program pasar percontohan ini tergantung dari kerja sama yang sinergis dari seluruh pemangku kepentingan, baik Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, maupun para pengelola pasar, pedagang, dan konsumen," jelasnya.

Sementara itu, Bupati Cianjur Tjetjep Muchtar Soleh mengatakan dengan adanya peresmian pasar Cibeber dapat mendorong perekonomian Kabupaten Cianjur khususnya di Cibeber. Pihaknya juga mengaku menyusun program untuk meningkatkan daya beli masyarakat diantaranya dengan melakukan revitalisasi pasar, mengembangkan UKM dan program ketahanan pangan.

Tjetjep menjelaskan bahwa di Kabupaten Cianjur terdapat 15 pasar dengan 6.758 unit kios. Namun demikian, ia mengaku ada 4 pasar yang harus dilakukan revitalisasi karena keadaannya sudah tidak memungkinkan. Seperti Pasar Ciranjang, Pasar Cikalong, Pasar Sukanegara dan Pasar Warungkonang yang baru saja dilanda bencana kebakaran. "Pembangunan pasar adalah komitem untuk memenuhi kebutuhan pasar dan diberikan secara gratis," pungkasnya.

Related posts