Mendesak, TI Pantau Anak

Jumat, 21/02/2014

Oleh:Kencana Sari, SKM., MPH

Peneliti di Litbang Kesehatan Kemenkes

Dua tahun pertama merupakan masa emas pertumbuhan anak karenanya pemberian nutrisi harus optimal untuk tumbuh kembang dengan baik. Menurut WHO (2013) secara global terdapat 162 juta anak balita stunting dan hampir 100 juta anak kurus. Sebagian besar disebabkan karena praktik pemberian makan yang tidak tepat dan menderita penyakit infeksi berulang. Pemberian makanan yang baik merupakan kunci untuk menjaga daya tahan tubuh anak dan pertumbuhan perkembangan anak yang sehat.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar 2007-2013 di Indonesia pada tahun 2007 prevalensi gizi buruk sebesar 5,4%. Angka itu pada tahun 2010 turun menjadi 4,9%, kemudian pada tahun 2013 meningkat menjadi 5,7%. Prevalensi gizi kurang pada tahun 2007 dan 2010 sebesar 13,0%, meningkat di tahun 2013 menjadi 13,9%. Sedangkan berdasarkan indeks tinggi badan terhadap umur (TB/U), pada tahun 2007 prevalensi balita pendek sebesar 36,8%, menurun pada 2010 menjadi 35,6% tetapi kembali meningkat pada tahun 2013 menjadi 37,2%.

Pertumbuhan merupakan proxy kesehatan anak secara keseluruhan. Patut diingat pertumbuhan bersifat dinamis sehingga penting dimonitor perubahannya. Kecukupan zat gizi diukur melalui anthropometri dengan dibandingkan dengan standar yang ada. Melalui pemantauan dan pertumbuhan seharusnya anak yang dalam proses kekurangan zat gizi bisa diidentifikasi sebelum akhirnya mereka mengalami gizi kurang ataupun gizi buruk. Oleh karena itu pemantauan tumbuh kembang anak penting dilakukan sebagai salah satu cara pencegahan kekurangan gizi anak.

Sayangnya pemantauan tumbuh kembang saat ini mengandalkan tenaga kesehatan seperti pos pelayanan terpadu (posyandu). Padahal kinerja posyandu menurun, ditandai minimnya jumlah posyandu aktif. Selain itu juga kelemahan pemantauan tumbang di posyandu adalah hanya menimbang saja tanpa menjelaskan mengenai status gizi dan perkembangan anak. Nyatanya terdapat 34,3% yang tidak pernah melakukan penimbangan (Riskesdas, 2013). Alasan selain karena anak sudah berusia lebih dari satu tahun (27,2%) adalah karena sibuk/repot (24,2%) (Riskesdas, 2013).

Karena itu perlu pemanfaatan teknologi informasi (TI) yang telah diketahui secara massal. Misalnya memanfaatkan teknologi yang tersemat di telpon genggam, tablet dan sebagainya. Ragam produk smartphone, termasuk smartphone buatan China dan semakin murahnya tarif layanan data membuat konsumen semakin banyak pilihan. Hasil temuan Nielsen tentang penggunaan smartphone di Asia menujukkan prosentase pengguna smartphone di Indonesia sebesar 19% dengan 31 % diantaranya aktif menggunakan aplikasi di Hp-nya.

Terlaksananya pemantauan pertumbuhan di tengah kesibukan masyarakat, terutama perkotaan, akan lebih visible jika tersedia teknologi yang bisa memfasilitasi. Orangtua diharapkan lebih mudah untuk mengakses teknologi dibandingkan untuk mengantarkan anaknya ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk memantau tumbuh kembang anak.

Sayangnya saat ini mobile application lebih banyak dikembangkan di luar negeri dan berfokus hanya untuk pemantauan pertumbuhan. Walaupun sistem kesehatan nasional sudah mencakup tujuan agar terselenggaranya kegiatan penelitian dan pengembangan dan penapisan teknologi dan produk teknologi kesehatan utuk menghasilkan informasi kesehatan, teknologi, dan teknologi informasi kesehatan, tetapi nyatanya belum banyak teknologi yang dihasilkan untuk meningkatkan derajat kesehatan Indonesia. Pengembangan aplikasi yang ramah pengguna dalam pemantauan pertumbuhan anak, karenanya perlu dilakukan.