Lampu Merah Ketahanan Energi

Kamis, 20/02/2014

Oleh: Munib Ansori

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Bila merujuk pada data cadangan BBM nasional, maka jelas bahwa ketahanan energi Indonesia begitu rapuh. Dibanding negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura saja, kekuatan energi di negeri ini sudah kalah jauh. Data terakhir menunjukkan, Indonesia belum punya cadangan BBM nasional, hanya punya cadangan operasional yang berada di depo BBM dan SPBU Pertamina hingga 21 hari dan tidak boleh digunakan dalam keadaan normal. Celakanya, dari 21 hari cadangan operasional BBM itu, khusus untuk bahan bakar pertahanan seperti kendaraan tempur dan lainnya hanya cukup untuk 4 hari saja.

Sementara cadangan BBM Malaysia cukup hingga 25 hari, Singapura negara punya cadangan 90 hari. Negeri Tirai Bambu, China, punya cadangan 90 hari, sementara Amerika Serikat punya cadangan 260 hari. Tentu saja, ketahanan energi suatu negara dapat dilihat dari banyaknya stok BBM. Faktanya, Indonesia hingga kini belum punya sistem stok BBM nasional.

Seorang direktur di Kementerian ESDM pernah bilang, Indonesia berperang melawan Singapura atau Amerika Serikat, maka hanya mampu bertahan 4 hari saja. Kalimat ini ada benarnya, jika merujuk pada data di atas. Apalagi, Singapura sudah membuat komitmen dengan AS untuk menjadi terminal BBM di Asia Tenggara. Singapura punya kilang minyak tercanggih di dunia, dan faktanya Indonesia saat ini sangat bergantung kepada pasokan BBM dari sana.

Dalam Undang-Undang No. 30/2007 tentang Energi disebutkan adanya tiga bentuk cadangan. Yakni, cadangan strategis, cadangan penyangga, dan cadangan operasional. Ketiga cadangan itu disebut sebagai norma di dalam undang-undang energi. Realitanya, cadangan operasional Pertamina hanya 21 hari. Bagaimana dengan cadangan penyangga? Itu belum ada, apalagi dengan cadangan strategis yang masih nol.

Tanpa cadangan penyangga dan cadangan strategis, dalam keadaan darurat, Indonesia bakal lumpuh. Itu sebabnya, Presiden, DPR, Dewan Energi Nasional, Kementerian ESDM, BPH Migas, DPR, dan seluruh pemangku kepentingan energi, termasuk Pertamina, harus membuat aturan terkait cadangan BBM. Di lain pihak, tentu perlu biaya yang sangat besar untuk mewujudkan cadangan BBM. Sehingga, dengan aturan yang kuat, masalah tersebut bakal mudah diselesaikan.

Kosongnya cadangan BBM di Indonesia hanyalah satu masalah energi nasional. Konsumsi yang tinggi, dengan mengandalkan impor, adalah masalah lainnya. Masalah disparitas harga antara BBM subsidi dan non subsidi juga menjadi problem pelik selanjutnya.

Namun yang jauh lebih besar adalah masalah cadangan minyak terbukti. Selama 50 tahun terakhir, Indonesia telah menguras 23 miliar barel minyak dari perut bumi. Saat ini sisa cadangan minyak Indonesia tersisa 4 miliar barel, yang kalau dikuras sekitar 800 barel per hari, bakal ludes dalam tempo 10 tahun.

Di atas segala permasalahan tersebut, energi nasional masuk dalam kategori darurat. Ketahanan energi sangat rapuh, dan hampir berada di lampu merah. Tanpa penyikapan yang strategis, bukan mustahil, dalam waktu dekat, Indonesia hanya akan menangis karena gagal mengelola sektor terpenting dalam berbangsa dan bernegara.