Paradoks Pemulihan vs Fundamental Ekonomi

Kamis, 20/02/2014

Sejumlah indikator ekonomi nasional hingga minggu pertama Februari 2014 menunjukkan perkembangan yang positif di tengah tertekannya ekonomi sejumlah negara berkembang setelah terjadi penguatan terjadi di negara maju seperti AS. Neraca perdagangan Indonesia pada Desember 2013 mencatatkan surplus US$ 1,52 miliar atau tertinggi sejak 2011.

Surplus ini memberi kekuatan perbaikan neraca transaksi berjalan dan neraca modal. Surplus neraca perdagangan Desember 2013 juga telah mendorong peningkatan cadangan devisa dan penguatan nilai tukar rupiah. Cadangan devisa hingga akhir Januari 2014 sebesar US$100,7 miliar atau setara dengan 5-6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Tekanan nilai tukar rupiah juga terlihat semakin menipis dan diharapkan akan terus menguat hingga akhir tahun ini. Pendapatan per kapita di akhir 2013 meningkat hingga Rp 36,5 juta dari Rp 33,5 juta pada 2012.

Terkait dengan kinerja ekonomi tersebut, pemerintah terus melakukan respon cepat untuk mengatasi potensi risiko paska bencana melalui sejumlah kebijakan khususnya menjaga daya beli masyarakat, pengendalian inflasi dan memastikan fundamental ekonomi tetap kokoh.

Sementara itu, Bank Dunia baru-baru ini menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini ke level 3,2% atau naik 0,2% dari proyeksi sebelumnya dan 3,4% pada 2015. Revisi ke atas proyeksi pertumbuhan global ini setelah negara-negara maju seperti Amerika dan zona Euro menunjukkan perkembangan positif sepanjang kuartal terakhir 2013 hingga awal 2014. Pertumbuhan ekonomi negara-negara maju diperkirakan menguat ke level 2,2% pada 2014 atau naik dari proyeksi sebelumnya 2,0%. Penguatan kawasan ini dipicu oleh tumbuhnya sektor industri khsusunya di negara seperti Jerman, Perancis, dan Inggris setelah dua tahun ini mengalami kontraksi. Namun demikian, penguatan ekonomi negara maju ini memicu kekhawatiran khususnya di negara berkembang dengan profil defisit fiskal yang besar dan fundamental ekonomi yang rapuh.

Pasca penguatan ekonomi di negara maju, sebagian besar negara berkembang diselimuti tekanan eksternal yang menggerus nilai tukar mata uang dan risiko inflasi. Pelemahan nilai tukar mata uang negara berkembang dipicu oleh capital outflow dan menguatnya mata uang sejumlah negara maju. Capital outflows yang disertai dengan volatilitas harga komoditas dunia menstimuli inflasi yang tinggi dan menghadirkan cost of fund yang tinggi pula pada industri keuangan. Kondisi ini diperburuk oleh perubahan cuaca ekstrem yang menganggu produksi dan menyebakan kelangkaan komoditas di pasar dunia.

Bagi Indonesia, meski sinyal pemulihan negara-negara maju yang dipandang dapat menjadi katalisator pertumbuhan global tahun ini, namun beberapa catatan masih perlu untuk terus diperhatikan. Pertama, diskursus terkait kenaikan pagu utang AS. Kedua, perbaikan output manufaktur belum mampu memperbaiki kinerja ekspor Amerika di Desember 2013. Defisit neraca perdagangan AS bulan Desember 2013 meningkat 12% dari bulan sebelumnya mencapai US$38,7 miliar.

Situasi di atas tentunya menghadirkan paradoks pemulihan global. Di satu sisi, ekonomi global menunjukkan sinyal pemulihan yang ditopang oleh negara-negara maju. Di sisi lain penguatan ekonomi negara maju memberi tekanan bagi ekonomi negara berkembang khsusunya dengan struktur ekonomi yang rentan.

Sementara itu pasar negara-maju terbesar saat ini adalah kawasan Asia yang sebagian besar adalah kumpulan negara-negara berkembang. Sehingga penguatan ekonomi negara maju hanya akan berdampak posisitf terhadap perekonomian dunia jika ekonomi negara-negara berkembang juga menunjukkan arah yang sama. Karena itu, Pemerintah perlu terus memperkokoh fundamental ekonomi nasional dengan mengedepankan strategi pertumbuhan yang berkualitas melalui keep buying policy dan mendorong sektor investasi sebagai mesin pertumbuhan nasional.