Konsep Merebut Ekonomi Indonesia dari Tangan Asing

NERACA

Jakarta - Indonesia harus mandiri secara ekonomi karena selama ini masih terjebak dalam ketergantungan ekonomi dan perdagangan. Indonesia harus melakukan transformasi ekonomi dari berorientasi luar negeri menjadi perekonomian domestik.

"Kedaulatan politik dan ekonomi sulit dilaksanakan karena perekonomian Indonesia tergantung ekonomi global dan dikuasai oleh asing. Kemudian konsep itu bagaimana merebut ekonomi Indonesia dari tangan asing ke ekonomi rakyat," kata Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Dawam Rahardjo dalam bedah buku berjudul "Menggagas Indonesia Masa Depan" karya Mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn) Djoko Santoso di Auditorium Adhiyana, Wisma Antara, Jakarta, Rabu (19/2).

Dawam juga mengatakan dalam pengelolaan energi, seharusnya tidak boleh dikuasai perusahaan asing. Menurut dia, dalam bidang energi harus dikembangkan energi alternatif sebagai salah satu gagasannya.“Bung Karno mengatakan jangan menggali sumber daya alam kecuali para insinyur sudah mampu dan Indonesia memiliki modal,” ujar dia.

Dia mengutip penyataan Bung Karno mengenai ciri negara yang menjadi sasaran kolonialisme, pertama sebuah negara yang menjadi sasaran investasi asing namun tidak memiliki kepribadian. Kedua, lanjut Dawam, sebuah negara bangga menjadi surga investasi asing, dan Indonesia mengalami itu yang menjadi sasaran impor bahan mentah dari luar negeri.“Ketiga, kita menjadi penyuplai buruh murah, akibatnya rakyat Indonesia miskin dengan upah yang rendah,” tambah dia.

Dia menegaskan yang dibutuhkan Indonesia saat ini adalah pemimpin yang berkepribadian bangsa yaitu kembali pada pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Dawam mengatakan apabila hal itu tidak ada berarti tidak memiliki kepercayaan diri dalam memimpin Indonesia.“Berani tidak (pemimpin kembali pada pancasila dan UUD 45). Kalau tidak berani berarti kita tidak punya kepribadian dan tidak ada kepercayaan diri,” ungkap Dawam.

Dawam pun menilai para calon pemimpin perlu di tes apakah berani menegakkan nasionalisme ekonomi yaitu berani kah kembali pada Pancasila dan UUD 45. Selain itu, dia juga menegaskan pemimpin harus berani mengambil sikap tegas dalam mengubah strategi pembangunan nasional agar berorientasi ke dalam.

Kemudian dia juga menuturkan strategi pembangunan Indonesia memiliki arah pada pertumbuhan ekonomi sehingga memiliki konsekuensi butuh modal dan teknologi. Namun menurut dia, Indonesia tidak memiliki modal dan teknologi sehingga yang dilakukan pemerintah adalah mengundang modal asing."Pembangunan Indonesia adalah melalui modal luar negeri bukan didasarkan pada sumber daya ekonomi," kata Dawam.

Dawam pun menegaskan konsekuensi dari pola pembangunan itu adalah Indonesia mengundang modal luar negeri dan para investor itu memilih proyek pembangunan yang menguntungkan diri sendiri. Proyek itu, menurut dia, seperti eksploitasi sumber kekayaan alam Indonesia seperti minyak, gas, batu bara, dan membuka perkebunan kelapa sawit."Mereka juga lakukan industrialisasi namun dengan mengolah bahan baku dari mereka. Indonesia impor bahan baku," tutur dia.

Dia menilai dalam pembangunan itu, Indonesia diharuskan menggunakan teknologi canggih dan itu merupakan jebakan industrialisasi. Hal itu, menurut dia, merupakan penggunaan bahan baku dan teknologi dari luar negeri."Kita harus beli dan impor (bahan baku dan teknologi) lalu Indonesia tidak memiliki dana. Solusinya adalah berhutang dan terus meningkat hingga saat ini," ujar Dawam.

Kondisi hutang yang menumpuk itu, lanjut Dawam, menyebabkan Indonesia masuk dalam jebakan hutang yang disebabkan jebakan perdagangan karena harus impor bahan baku dan teknologi.

Sementara itu, Djoko Santoso mengatakan kepemimpinan nasional adalah upaya menegakkan keadilan bukan hanya mencari fasilitas dan kenikmatan."Dalam buku saya, dijelaskan pemikiran dan analisis saya tentang kepemimpinan nasional dan cita-cita Indonesia sebagai bangsa besar di masa depan," kata dia.

Dia juga menjelaskan seorang pemimpin bangsa harus memiliki ketegasan dalam aturan main yang sudah ditentukan konstitusi. Seorang pemimpin, lanjut dia, juga harus mempunyai komitmen untuk menciptakan keadilan, kesejahteraan, dan keamanan bagi rakyat yang dipimpinnya."Pemimpin harus melaksanakan apa yang sudah diamanatkan konstitusi tersebut secara tegas dan konsisten," ujar Djoko.

Djoko pun berharap bukunya itu dapat memberikan dorongan bagi lahirnya pemikiran dan paradigma baru tentang kepemimpinan nasional di masa mendatang. Menurut dia, akan munculnya kesadaran bersama bahwa bangsa Indonesia ke depan harus dipimpin seorang figur yang berkapasitas dan berkompetensi tinggi didukung rekam jejak kepemimpinan yang jelas."Pemimpin itu bukan hanya punya tingkat popularitas yang tinggi namun harus memiliki kapasitas dalam memimpin," ungkap dia.

“Saya berharap akan muncul seorang pemimpin yang sanggup membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar, mandiri, dan berdikari,” tambah Djoko. [mohar]

BERITA TERKAIT

Ikhtiar Melihat Indonesia-Tiongkok Secara Benar

Oleh: Edy M Yakub Melihat dan mendengar adalah dua kata yang berbeda dan perbedaan keduanya juga mengandung makna yang sangat…

Indonesia Dukung China Promosikan Sarang Burung Walet

NERACA Jakarta – Indonesia mendukung langkah China mempromosikan sarang burung walet untuk meningkatkan nilai ekspor salah satu komoditas andalan nasional…

Produk Teh Indonesia Terima Penghargaan di Paris

NERACA Jakarta – Teh Indonesia menerima sertifikat penghargaan "AVPA Gourmet Product 2018" untuk kategori Black Tea yang berasal dari produsen…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Pemerintah Antisipasi Asumsi APBN 2018

      NERACA   Jakarta - Pemerintah akan terus mengantisipasi pergerakan asumsi dasar ekonomi makro pada APBN 2018 agar…

Lebih Efisien, Kemenlu Siapkan Diplomasi Digital

  NERACA   Jakarta – Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) menyiapkan diplomasi digital untuk memudahkan proses diplomasi baik antar negera maupun…

Presiden Harap Pemangkasan PPH Dorong UMKM

      NERACA   Tangerang - Presiden Joko Widodo berharap pemangkasan pajak penghasilan (PPh) final untuk usaha mikro, kecil…