Kapal MT Gunung Geulis, Kebanggaan Pertamina

Sabtu, 22/02/2014

Kapal MT Gunung Geulis, Kebanggaan Pertamina

Belum banyak masyarakat Indonesia yang tahu bahwa PT Pertamina telah memiliki kapal tanker raksasa berbobot mati 107.538 metrik ton (MT). Sumber lain menyebut 54,4 ton. Panjangnya 38 meter dan berkedalaman 22,3 meter.

Walaupun sudah singgah di Pelabuhan Refinery Unit (RU) I/ Cilacap pada 18 Januari 2014, namun kapal itu baru diresmikan pengoperasiannya oleh Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan, pada 12 Februari 2014 di Pelabuhan Tanjung Uban, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau. Kapal itu berjenis very large gas carrier (VLGC) itu buatan galangan Hyundai Heavy Industries di Kota Ulsan, Korea Selatan. Selesai dibuat pada 23 September 2013, dan telah mendapat dari Badan Klasifikasi International yaitu Lloyd Register di Inggris

Tugas penting pertama yang dijalani kapal yang dinahkodai kapten Brahma Adeyanto itu adalah mengambil minyak di kilang minyak di Pelabuhan Arzew, Aljazair, Afrika Utara. MT Gunung Geulis akan mengangkut minyak bagian negara (lifting) yang pertama, hasil produksi Blok 405a Aljazair, yang baru saja diakuisisi Pertamina dari Conoco Philips. Minyak yang akan diangkut sebanyak 600 ribu barel.

Rute yang dipilih dan terdekat adalah Samudera Hindia, Terusan Suez, dan Laut Mediterania. Butuh waktu berlayar sekitar 30 hari ke sana. Untuk mencegah aksi perompakan di kawasan Somalia, MT Gunung Geulis dilengkapi peralatan penangkal perompak.

"Kapal ini juga sudah dilengkapi dengan kawat berduri dan water canon yang berisi air panas. Semuanya disiapkan karena kita akan melewati perairan high risk area seperti perompak Somalia," kata Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Hanung Budya saat melepas Gunung Geulis di Cilacap, 18 Januari lalu. Polisi Sri Lanka juga akan ikut mengawal.

Selain di Aljazair, kata Hanung, Pertamina juga mengunduh minyak mentah dari tiga ladang minyak, yaitu di Menzel Lejmat North (MLN), EMK, dan Ourhoud. Pertamina memiliki 65% Participating Interest (PI) dan sekaligus bertindak selaku operator di lapangan MLN. “Selain itu, Pertamina memiliki 16,9% PI di lapangan EMK serta 3,7% PI di lapangan raksasa Ourhoud,” kata Hanung lagi.

Dia menjelaskan, produksi minyak bagian Pertamina (net to share) pada Oktober 2013, sebesar 23.300 barel minyak per hari (BOPD). Dia berharap, jumlah ini terus meningkat, hingga mencapai 32.000 BOPD pada 2016-2017.

Nantinya, melalui anak perusahaannya, yaitu PT Pertamna Irak EP berhasil mengakuisisi 10% PI di lapangan raksasa West Qurna Phase (WQ)-1 di Irak yang selama ini digarap Exxon Mobil. “Saat ini, produksi WQ-1 mencapai 500 ribu barrel per hari,” kata Hanung.

Saat ini, Pertamina telah mengoperasikan 201 unit kapal tanker. Sebanyak 59 unit di antaranya milik Pertamina, dan selebihnya dari sewa. Khusus MT Gunung Geulis, yang membanggakan adalah multifungsi. Yaitu, tak hanya sebagai pengangkut elpiji dan minyak, tapi juga sebagai gudang penyimpanan BBM bergerak (floating storage).

Dengan kehadiran MT Gunung Geulis ini, barangkali dapat mengubur kasus penjualan kapal tanker raksasa yang pernah dimiliki Pertamina pada era 2004. Penjualan tanker itu dengan alasan biaya perawatannya jauh lebih besar dibandingkan jika menyewa. Sempat dibawa ke meja hijau karena diduga menganung unsur manipulasi.

Yang terang, masih jauh lebih banyak kapal asing yang beroperasi di perairan Indonesia, dari pada yang dimiliki para bumiputera. Padahal, lagu ‘Nenek moyangku orang pelaut……". Masih sering kita dengar. (saksono)