Indo Tambangraya Lakukan Transaksi US$8,39 Juta

Kamis, 20/02/2014

NERACA

Jakarta- PT Indominco Mandiri yang merupakan perusahaan terkendali dari PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dengan Banpu Pablic Company Limited (“Banpu”) melakukan transaksi senilai US$8,39 juta. Informasi tersebut disampaikan manajemen perseroan dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu (19/2).

Disebutkan, transaksi yang dilakukan pengendali perseroan senilai US$8,39 juta adalah untuk pembelian sejumlah sistem pendukung operasional. Tercatat, perusahaan terkendali telah melakukan pembelian dari Banpu berupa semi mobile crusher ‘MMD’ 4500 TPH 1300 series, twin shaft sizer type, completed unit with accessories S/N , transport crawler takraf model RT 250 completed unit with accessories, dan parts of conveyor system (new)comprising.

Diketahui, dalam pengembangan usahanya di tahun ini, Indo Tambangraya Megah Tbk akan mengembangkan tambang operasi Indominco sebesar Rp 295,8 miliar. Rencananya perseroan akan menggunakan dana hasil PUT tahun 2007. Demikian mengutip keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (22/1).

Rencana kegiatan ini menggantikan rencana awal pembangunan pembangkit listrik tenaga barubara di Indominco senilai Rp 126,1 miliar. Namun karena pembangunan tersebut sudah selesai maka ada perubahan rencana penggunaan dana hasil PUT tahun 2007 tidak seperti dalam prospektus awal. Perseroan akan menggunakan dana Rp188 miliar untuk mengembangkan tambang operasi di Indominco di Blok Timur.

Sebagai informasi, perseroan menggunakan hasil PUT 2007 tersebut untuk menambah kapasitas dan ekspansi di terminal barubara Bontang di Indominco seniai Rp 600-656 miliar. Untuk membangun pembangkit listrik tenaga batu bara Rp 188-234 miliar. Sementara untuk mengembangkan tambang operasi Indominco di Blok Timur senilai Rp 188 miliar.

Sedangkan untuk mengembangkan tambang operasi Bharinto senilai Rp 375-469 miliar. Tercatat sisa dana sekitar Rp 1,5-1,7 triliun untuk membayar utang perseroan dan anak usaha perseroan kepada pemegang saham dan akuisisi di bidang batu bara dan pembangkit listrik.

Sementara itu, untuk mendukung bisnisnya di bidang pertambangan, perseroan pada tahun lalu mendirikan entitas anak baru yang akan bergerak di bidang usaha jasa pertambangan, PT Tambang Raya Usaha Tama. Targetnya, manajemen perseroan mengharapkan volume penjualan batu bara pada tahun ini akan mencapai 29 juta ton. Memang, jika dibandingkan tahun 2012, pertumbuhan yang diincar perseroan ini terbilang lebih kecil. Tercatat, pada tahun lalu volume penjualan perseroan sebesar 27,2 juta ton atau naik 10,12% dari realisasi 2011 yang 24,7 juta ton.

Untuk mencapai target tersebut, perseroan akan mengupayakan dengan melakukan efisiensi dan peningkatan volume produksi dan penjualan. "Setiap tahunnya kami targetkan pertumbuhan 10% untuk volume produksi,” kata Direktur Keuangan Perseroan, Edward Manurung. (lia)