Pelaku UKM Diminta Inovatif

Hadapi Pasar Bebas ASEAN 2015

Kamis, 20/02/2014

NERACA

Jakarta – Pasar bebas ASEAN akan dibuka pada 2015 atau yang dikenal dengan ASEAN Economic Community (AEC). Dalam menghadapai perdagangan bebas ASEAN tersebut, salah satu yang terancam adalah sektor Usaha Kecil Menengah (UKM). Atas dasar itu, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Nus Nuzulia Ishak meminta agar para pelaku UKM bisa melakukan produktif, kreatif dan inovatif.

“Para pelaku UKM harus selalu produktif, kreatif dan inovatif dalam menampilkan dan memproduksi produk. Hal itu untuk mengantisipasi perubahan selera pasar lokal maupun pasar dunia. Karena, sebagai persiapan menghadapi perdagangan bebas diantaranya AEC pada tahun 2015 yang akan membuka peluang sekaligus tantangan pasar yang cukup tinggi,” ungkap Nus di Jakarta, Rabu (19/2).

Ia memaparkan bahwa kinerja ekspor dan produk tekstil (TPT) pada 2012 mencapai US$12,46 miliar atau tumbuh 8,01% selama 5 tahun terakhir. Selama periode Januari-November 2013, ekspor TPT Indonesia mencapai US$11,59 miliar atau naik 1,62% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. “Negara tujuan ekspor TPT Indonesia adalah Amerika Serikat, Jepang, Turki, Korea Selatan, Jerman dan Cina,” katanya.

Mengenai pameran Adi Wastra Nusantara ke-7 yang mendorong kompetisi penenunan sutera Indonesia, Nus menilai bahwa selama ini pengembangan wastra tradisional didominasi oleh UKM, yang dalam periode krisis 1998 dan 2008 telah terbukti menumbuhkan kemampuan, kreativitas dan inovasi untuk berkembang ke arah yang lebih baik. Pameran kali ini diharapkan dapat mengajak para pemangku kepentingan untuk memberikan perhatian dan dorongan kepada UKM dalam menciptakan lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan.

Pada pameran kali ini diikuti oleh 450 UKM wastra, di mana jumlahnya lebih besar dibanding tahun lalu yang hanya 410 UKM. Untuk itu, dia meminta para UKM untuk lebih meningkatkan semangat dalam mengembangkan inovasi karya buatannya. “Persaingan semakin ketat tidak boleh melemahkan semangat berinovasi justru harus lebih mendorong semangat dalam menghasilkan produk-produk yang diminati pasar global maupun lokal,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Kadin bidang UKM Erwin Aksa mengatakan guna menghadapi AEC 2015, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mempunyai strategi khusus, terutama yang berkaitan dengan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan Koperasi.

Setidaknya, Kadin mempunyai dua cara untuk meningkatkan kualitas UMKM Indonesia menghadapi AEC. Pertama, Kadin akan bekerjasama dengan Kementrian Koperasi dan UKM untuk mendirikan sebuah lembaga keuangan yang dikhususkan untuk pelayanan dan fasilitas para UMKM dan Koperasi di seluruh Indonesia.

“Dengan ini nantinya ada satu pintu atap yang akan mendorong pelayanan usaha, pendampingan, konsultasi yang diharapkan nantinya Kadin Daerah akan terlibat secara langsung dalam program tersebut. Saya kira pertumbuhan UKM ini semakin besar dan pengisaha mikro menjadi pengusaha kecil, yang mengah skilling up menjadi besar,” ujarnya.

Menurut dia, pada 2015 mendatang akan ada setidaknya 591 juta pasar yang akan menjadi peluang bagi para pengusaha di seluruh ASEAN. Dari total penduduk negara ASEAN sebanyak 80% merupakan penduduk di bawah 45 tahun. “Peluang ini tentu kita tangkap sebagai peluang usaha yang nanti bisa menjadi bagian dari bisnis dinikamti UKM, jangan sampai nanti kita menjadi penonton,” kata dia.

Sementara untuk langkah yang kedua, Kadin akan menjadikan sistem transaksi perdagangan UMKM dan Koperasi secara elektronik. “Disamping itu kadin UKM juga dalam hal pemasaran yang selama ini menjadi salah satu pengembangan UKM, akan mendorong pengembangan E-Commers. Ini merupakan tren kedepan yang akan mengglobal,” ujar Erwin.

Peluang e-comners menurut Erwin masih sangat besar. Dia mencontohkan di China. Berdasarkan data tahun 2012 menunjukkan total perdagangan e-commerce sebesar Rp 2.000 triliun dengan total perdagangan 58 juta pengusaha UMKM.

Sedangkan di Indonesia, perdagangan e-commerce baru mencapai Rp 3 triliun dengan total pengusaha UKM yang terlibat tidak lebih dari 100 ribu pengusaha. “Tahun 2015 e-commerce akan kita harapakan menjadi 1 juta dan transaksi menjadi Rp 10 triliun,” tutup Erwin.

Berdasar data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KUKM) tahun 2011, usaha mikro 98,82%, kecil 1,09%, menengah 0,08%, dan usaha besar hanya 0,01%. Sementara itu, sumbangan sektor tersebut ke produk domestik bruto (PDB): usaha mikro 29,74%, kecil 10,46%, menengah 14,53%, dan usaha besar mencapai 45,27%. Ini menunjukkan kinerja UMKM belum sesuai harapan.

Meski sektor UMKM mencapai 99,99%, sumbangannya terhadap perekonomian nasional baru 54,73%. Kondisi ini tak lepas dari daya saing nasional. World Economic Forum (WEF) menempatkan indeks daya saing global Indonesia di peringkat 50 pada 2012. Dibanding anggota Asean, Singapura peringkat 2, Malaysia (25), dan Brunei Darusalam (25). Salah satu penyebabnya adalah minim inovasi. World Intelectual Property Organization (WIPO) mencatat indeks inovasi global Indonesia di posisi 100 dari 141 negara, sebelumnya di posisi 99 dari 125 negara. Posisi ini di bawah Malaysia (32), Brunei (53), dan Thailand (57).