Pemerintah Resmikan Rumah Mutiara Indonesia

Budidaya Non Perikanan

Kamis, 20/02/2014

NERACA

Lombok - Untuk pengembangan komoditas mutiara, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendirikan Rumah Mutiara Indonesia (RMI) di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). “Rumah rujukan Mutiara Laut Selatan ini mempunyai multi fungsi bagi perkembangan bisnis mutiara ke depan. RMI yang dijadikan sebagai Bursa Mutiara Regional, juga berfungsi untuk melayani sorting dan grading mutiara yang memenuhi SNI untuk ekspor. Fungsi ini sangat penting mengingat kualitas mutiara menjadi prasyarat yang menentukan harga mutiara di pasar dunia,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif C. Sutardjo, seusai meresmikan Rumah Mutiara Indonesia, di Lombok NTB, Selasa (19/2).

Menurut Sharif, RMI juga berfungsi untuk memberikan informasi dan edukasi mengenai mutiara Indonesia kepada masyarakat serta mempromosikan mutiara Indonesia ke pasar dunia. RMI juga merupakan rumah lelang Mutiara Indonesia, yang dibangun di depan kawasan Bandara Internasional Lombok di Tanah Awu, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, NTB. Selain sebagai wahana pelelangan mutiara berkualitas dunia yang diproduksi di pulau lombok NTB, RMI juga diharapkan bisa menarik wisatawan sebanyak-banyaknya ke daerah NTB. “Nantinya RMI menyediakan fasilitas untuk melakukan transaksi/bisnis mutiara serta memberikan bimbingan dan pelatihan kepada pelaku usaha agar dapat meningkatkan mutu produk sesuai standar internasional,” ujarnya.

Sharif mengatakan, mutiara merupakan salah satu komoditas unggulan sektor kelautan dan perikanan yang memiliki prospek pengembangan usaha sangat baik. Untuk itu, keberlangsungan mutiara Indonesia menjadi fokus perhatian KKP. Diantaranya, KKP telah melakukan penyusunan tata ruang (zonasi) untuk kawasan budidaya yang ramah lingkungan, penyediaan induk/bibit yang berkualitas, memenuhi volume/kuantitas yang dibutuhkan, serta pemanfaatan dan pengelolaan RMI semaksimal mungkin untuk pengembangan mutiara, baik untuk Provinsi NTB maupun daerah lainnya yang memiliki potensi pengembangan Mutiara Laut Selatan (South Sea Pearl). Prospek Mutiara sangat baik. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan permintaan perhiasan dari mutiara dan harganya yang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Sharif menjelaskan, pasar mutiara dunia saat ini didominasi 4 jenis mutiara. Yaitu, Mutiara Laut Selatan (South Sea Pearl) dengan negara produsen adalah Indonesia, Australia, Filipina dan Myanmar dengan produksi per tahun sebesar 10-12 ton. Kedua, Mutiara Air Tawar (Fresh Water Pearl) dengan negara produsen adalah China dengan produksi per tahun sebesar 1.500 ton. Ketiga, Mutiara Akoya (Akoya Pearl) dengan negara produsen adalah Jepang dan China dengan produksi per tahun sebesar 15-20 ton. Keempat, Mutiara Hitam (Black Pearl) dengan negara produsen adalah Tahiti dengan produksi per tahun sebesar 8-10 ton.

Sejak tahun 2005, tambahnya, dari segi volume Indonesia merupakan produsen SSP terbesar di dunia. Indonesia memasok 43% kebutuhan dunia. Sedangkan dari segi nilai perdagangan, Indonesia menempati urutan ke-9 dunia. Dengan nilai ekspor sebesar US$ 29.431.625, atau 2,07% dari total nilai ekspor mutiara di dunia yang mencapai US$ 1.418.881.897. Indonesia berada di bawah Hongkong, China, Jepang, Australia, Tahiti, USA, Swiss dan Inggris. "Negara tujuan ekspor mutiara Indonesia adalah Jepang, Hongkong, Australia, Korea Selatan, Thailand, Swiss, India, Selandia Baru dan Perancis," jelasnya.