Indonesia Pengekspor ke-9 Mutiara Dunia

Kamis, 20/02/2014

NERACA

Lombok - Kementerian Kelautan dan Perikanan mengaku bahwa 43% kebutuhan dunia akan mutiara jenis sea south pearl (SSP) dipasok dari Indonesia. Bahkan dari segi nilai, Indonesia menempati urutan ke-9 sebagai negara pengekspor mutiara bersaing dengan Australia, Filipina dan Myanmar.

“Sejak tahun 2005 Indonesia telah memasok 43% kebutuhan dunia mutiara jenis SSP. Dari nilai ekpor, kita menduduki urutan ke-9 dengan angka US$29 juta atau 2,07% dari total nilai ekpor mutiara dunia yang mencapai US$1,41 miliar,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif Cicip Sutardjo, dalam peresmian Rumah Mutiara Indonesia di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Rabu (18/2).

Lebih lanjut dia mengungkapkan, SSP produksi Indonesia memiliki keunikan berupa kilauan warnanya yang mempesona dan abadi sepanjang masa. Sehingga sangat digemari di pasar internasional. Biasanya, lanjut Sharif, diperdagangkan dalam bentuk loose dan jewelry.

Adapun sentra pengembangan SSP sendiri tersebar di Provinsi Lampung, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Maluku Malukur Utara dan Papua Barat. “Pelaku usaha budidaya SSP tercatat sudah sebanyak 23 perusahaan sejak 2003 hingga sekarang. Perusahaannya terdiri dari swasta nasional sebanyak 17 perusahaan dan swasta asing sebanyak 6 perusahaan,” terang Sharif.

Dengan demikian, Sharif optimistis dapat meningkatkan nilai ekspor mutiara mengingat Indonesia memiliki dan menguasai faktor-faktor pendukung dan teknologi. Hal tersebut sudah dilakukan dengan membangun broodstock centre kekerangan di Karang Asem, Bali. “Di situ terdapat stok induk sebanyak 190 ekor dan pada tahun 2013 ditambah menjadi 130 ekor,” tuturnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Asosiasi Budidaya Mutiara Indonesia, Antony Tanios menilai mutiara Indonesia kalah kualitas dibanding produksi Australia. Meskipun secara kuantitas, mutiara Indonesia masih menang ketimbang mutiara milik Negeri Kangguru tersebut.

“Masalah kualitas ini disebabkan kurang benarnya penanganan muitara antara lain seperti pengawinan dan pembibitan. Kalau awalnya sudah salah maka ke depannya akan salah terus,” papar Antony. Dia juga menjelaskan, perbedaan kualitas mutiara Indonesia dengan Australia dapat dilihat dari sisi harga.

Faktanya, kata dia, nilai ekspor mutiara Indonesia seberat 4 ton bisa setara dengan harga mutiara Australia yang hanya seberat 2 ton. Hal ini jelas bahwa untuk urusan kualitas mutiara Indonesia masih kalah. Perbedaan kualitas itu disebabkan mutiara produksi Australia dibuat secara alami.

Sedangkan mutiara Indonesia dengan cara pembibitan. Hal tersebut secara otomatis akan membuat perbedaan yang signifikan. “Kita tidak bisa lagi produksi mutiara secara alami karena memang laut Papua dan Maluku sudah terpolusi. Belum lagi kebiasaan pembibit yang masih mengambil kerang masih muda. Sedangkan di Australia kerang yang kecil tidak akan diambil karena kurang bernilai dan memang dapat dihukum,” tegas Antony.

Meski begitu Antony menilai Indonesia masih bisa meningkatkan kualitas mutiara. Dengan catatan banyak perusahaan pembibitan yang menyebarnya ke laut di lokasi mereka dengan sabar. Pasalnya mutiara yang baik baru bisa dipanen setelah 4 tahun sampai 5 tahun. “Tapi tetap ada catatan hasil mutiara pembibitan memang tidak akan sebagus yang alami,” pungkasnya. [lulus]