Merencanakan Masa Depan Transportasi di Tanah Air

Sabtu, 22/02/2014

Merencanakan Masa Depan Transportasi

di Tanah Air

Untuk jangka waktu yang sangat lama ke depan, perdagangan dunia melalui laut masih akan mendominasi pergerakan barang antar negara dan antar benua. Apalagi, karena Indonesia adalah negara kepulauan (Prof Suyono Dikun).

Di zaman keemasannya, di akhir abad 14 hingga awal abad 15, Kerajaan Majapahit dan sebelumnya di abad 9 Kerajaan Sriwijaya mampu menguasai sebagian besar kawasan Asia Tenggara. Itu karena armada lautnya sangat tangguh. Pelabuhannya besar, industri galangan kapalnya juga besar, manajemen dan etos kerja para pelautnya pun tangguh. Tapi, begitu kedua kerajaan itu runtuh, maka surutlah dominasi bahari Nusantara. Beberapa saat kemudian, dominasi berikutnya berpindah tangan ke VOC dan Belanda hingga 3,5 abad lamanya.

Di akhir era Orde Baru, BJ Habibie dengan bendera Kementerian Riset dan teknologi/BPPT-nya, mempunyai konsep bagaimana membangun seluruh Indonesia melalui perbaikan sarana transportasinya. Di situlah didirikan sejumlah industri strategis di bawah Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS). Habibie pun merancang yang merintis pesawat jenis kecil melalui PT Nurtanio untuk menghubungkan seluruh wilayah kepulauan melalui jalur udara.

Untuk memperkuat jalur perhubungan laut, dibangunlah industri galangan kapal yaitu PT PAL. Sedang untuk memperkuat basis industri transportasi darat berbasis rel, dibangunlah PT Industri Kereta Api (Inka). Namun, pada kenyataannya, seluruh sarana transportasi darat, laut, dan udara tak dikuasai industri transportasi strategis tersebut, yaitu PT Inka, PT Dirgantara Indonesia (jelmaan dari PT Nurtanio yang berubah menjadi PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), maupun PT PAL. Nyaris semuanya produk impor, walaupun sebenarnya Indonesia merupakan gudang ahlinya.

Lalu, bagaimana wajah transportasi Indonesia kini dan mendatang? Pakar transortasi dari Universitas Indonesia (UI) Prof Suyono Dikun menyatakan, , transportasi Indonesia, khususnya pelabuhan dan akses transportasi darat ke pelabuhan, harus mampu mengantisipasi berkembangnya perdagangan internasional (global seaborne trade). Indonesia harus melakukan upaya besar untuk meningkatkan pangsa pasarnya dalam perdagangan global menggunakan peti kemas.

“Volume perdagangan dunia melalui laut memperlihatkan kecenderungan terus meningkat,” kata Suyono saat berbicara dalam acara Rakernis Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Perhubungan, pertengahan Februari lalu, di Padang. Dia pun mengungkapkan, dari 1970 sampai 2011, volme perdagangan tumbuh sebesar 4% dengan total volume menyentuh rekor 8,7 miliar ton. Data dari Unctad pun menunjukkan, pada 2012 sudah mendekati 10 ribu miliar ton.

Bahkan, "Transportasi di Indonesia merupakan produk kebijakan dan keputusan politik pembangunan dari pemerintah. Kualitas sistem transportasi saat ini merupakan cerminan dari seberapa kuat dan tepatnya politik pemerintah dalam pembangunan ekonomi memandang pergerakan ekonomi itu sendiri," ujar Suyono Dikun saat dikukuhkan menjadi guru besar Fakultas Teknik UI pada awal Mei 2011 lalu.

Itu sebabnya, Suyono mengingatkan agar pemerintah Indonesia harus memperbaiki daya saing globalnya dengan cara membangun banyak pelabuhan baru untuk menampung perkembangan mobilitas perdagangan regional Asia dan global. ”Jika gagal, akan membawa dampak yang buruk bagi perekonomian nasional,” kata Suyono.

Menurut Suyono, sesungguhnya tantangan yang dihadapi sektor perhubungan sangat besar dan komprehensif. Utamanya disebabkan oleh terjadinya defisit infrastruktur dan jasa pelayanan transportasi di semua lini. Semua fasilitas transportasi berada dalam tekanan besar yang muncul akibat kenaikan permintaan perjalanan yang sangat tinggi sebagai dampak dari pertumbuhan ekonomi, kependudukan, urbanisasi, energi, lingkungan, keterbatasan lahan, dan keterbatasan pembiayaan.

“Semua tekanan ini seakan-akan menafikan kemajuan yang sudah dicapai selama ini,” kata dia. Tantangan besar lainnya adalah terjadinya kesenjangan yang besar antar wilayah dalam sistem pasokan transportasi dan pelayanannya. Gap transportasi merupakan salah satu faktor utama terjadinya kesenjangan ekonomi antar wilayah dan menyebabkan biaya ekonomi sangat tinggi di kawasan Indonesia bagian timur, yang sangat sedikit sekali memiliki aksesibilitas dan konektivitas wilayah.

Dalam Rencana Nasional Strategis (Renstra) Transportasi 2015-2019, setidaknya ada empat pilar yang harus dilaksanakan, yaitu membangun konektivitas nasional, membangun industri transportasi nasional, mengintegraskan isu trategis lintas sektor, serta merevitalisasi transportasi perkotaan yang moderen, efisien, dan berkeadilan.

Infrastruktur Transportasi

Sementara itu, Menteri Perhubungan EE Mangindaan mengatakan, permasalahan transportasi yang masih tersisa pada akhir periode kedua dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2005-2025 merupakan tugas besar yang harus diselesaikan pada periode ketiga tahun 2015 – 2019 agar dapat terpenuhinya ketersediaan infrastruktur transportasi.

“Di sisi lain, Indonesia diproyeksikan oleh beberapa lembaga internasional sebagai satu dari negara ekonomi maju di dunia dalam beberapa dekade dari sekarang karena Indonesia memiliki semua prakondisi dan prasyarat untuk menjadi negara maju antara lain sumber daya alam dan penduduk yang besar dan makin berpendidikan,” kata Mangindaan, yang diwakili Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono, saat membuka Rakernis Balitbang Perhubungan tersebut. Oleh karenanya, untuk mempertahankan persatuan politik dan kesatuan ekonomi dari negara kepulauan ini diperlukan sistem dan jaringan transportasi terintegrasi, antarmoda, efisien, andal dan terjangkau. Itu semua merupakan hasil pembangunan dari sebuah perencanaan yang terpadu, canggih dan solid.

Dan, Kementerian Perhubungan pun telah memiliki ‘Rencana Strategis Kementerian Perhubungan Tahun 2015 – 2019’ yang disusun oleh tim ahli dari Indonesia Infrastructure Initiative (IndII) bersama Badan Litbang Perhubungan. Tapi, itu semua masih dalam tataran konsep dan wacana. Yang diinginkan seluuh warga masyarakat Indonesia dan juga masyarakat dunia adalah implementasinya: terwujudnya jaringan dan sarana transportasi yang mampu menghubungkan seluruh wilayah kepulauan Indonesia yang modern dan mudah diakses seluruh lapisan. Jawaban yang ditunggu tentu bukan ‘entah kapan’. (saksono)