TPID: Erupsi Kelud Picu Inflasi Naik

NERACA

Surabaya -Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Jawa Timur menyatakan erupsi Gunung Kelud di Kediri memicu kian meningkatnya inflasi di provinsi itu pada Februari."Namun secara umum ketahanan pangan di Jatim masih kuat menghadapi terjadinya bencana tersebut," kata Ketua TPID Jatim, Hadi Prasetyo, pada Rapat Pleno Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Jawa Timur, di Surabaya, Jawa Timur, Selasa (18/2).

Menurut dia, agenda itu sekaligus melakukan evaluasi dampak bencana terhadap ketersediaan pasokan dan tingkat harga, serta mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengendalikan potensi inflasi."Sementara, tindakan penanggulangan bencana erupsi Gunung Kelud dan sejumlah banjir yang melanda di beberapa titik telah diantisipasi dengan penanaman kembali lahan dan sawah yang terendam banjir serta pemberian bantuan sarana pertanian berupa bibit dan pupuk kepada petani," ujarnya.

Hal itu, jelas dia, berbeda dengan daerah lain di Pulau Jawa di mana banjir yang terjadi di Jatim berada pada skala yang lebih kecil sehingga dampak yang ditimbulkan masih terkendali. Bahkan, hanya menambah kenaikan inflasi sebesar 0,05%-0,15% menjadi antara 0,25%-0,35%."Terjadinya erupsi Gunung Kelud pada 13 Januari 2014 berdampak pada kerusakan beberapa lahan pertanian antara lain padi, cabai rawit, jagung, nanas, dan komoditas pertanian lainnya. Khususnya di daerah Kediri, Malang, Blitar, dan Nganjuk," katanya.

Kerusakan itu, tambah dia, berpotensi menyebabkan berkurangnya produksi komoditas tersebut pada triwulan I/2014. Untuk menanggulangi dampak lebih lanjut, TPID memastikan tersedianya pasokan bahan pangan di Jatim."Hal ini tercermin dari ketersediaan stok beras di Bulog yang masih mencukupi sampai 13 bulan ke depan. Selain itu tidak adanya gangguan di sentra produksi lainnya di Jatim seperti Lumajang, Jember, Banyuwangi (cabe rawit) dan Jember, Banyuwangi, Bojonegoro (beras)," katanya.

Dia menyatakan, dalam jangka pendek kegiatan TPID difokuskan pada peningkatan koordinasi antarTPID lintas wilayah dan Provinsi untuk memperkuat ketahanan pangan serta penyelamatan tanaman pertanian di daerah bencana sehingga dapat meminimalkan terjadinya "shortage" bahan pangan di wilayah tertentu."Kami juga mengurangi asimetri informasi dengan teks harga berjalan yang dipublikasi di beberapa media dan strategi komunikasi inflasi yang efektif. Kamipun bekerja sama dengan Kepolisian untuk mencegah penimbunan yang mengarah pada spekulasi," katanya.

Di sisi lain, lanjut dia, TPID juga membentuk "Focus Group Discussion" untuk mengeksplor dan menyelesaikan isu strategis di Jatim. Kalau pada jangka menengah panjang ditujukan untuk memastikan kelancaran jalur distribusi pangan ke seluruh wilayah Jatim."Misalkan, melalui peningkatan status pelabuhan-pelabuhan di Jatim termasuk akses jalan yang diperlukan," katanya. [ant/ardi]

BERITA TERKAIT

BI Sebut Ada Capital Inflow Rp6 Triliun - Bunga Acuan Naik

      NERACA   Jakarta - Modal asing masuk melalui Surat Berharga Negara sebesar Rp6 triliun setelah imbal hasil…

KABUPATEN SUKABUMI - Rupiah Melemah, Picu Kenaikan Harga Telur

KABUPATEN SUKABUMI Rupiah Melemah, Picu Kenaikan Harga Telur NERACA Sukabumi – Kenaikan harga telur bukan ras (Buras) di sejumlah pasar…

Waspada Inflasi, Harga Telur Tembus Rp30 Ribu Per Kilogram

  NERACA   Jakarta – Salah satu penyumbang angka inflasi adalah sektor pangan. Telur juga menjadi satu diantara bahan pangan…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Pemerataan Harus Jadi Mainstream Strategi Pembangunan - Mindset Pembangunan Perlu Diubah

    NERACA   Jakarta - Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang PS Brodjonegoro mengatakan pemerataan tidak boleh lagi dilhat sebagai efek…

Serikat Pekerja Dukung Pemberantasan Korupsi Di PLN

      NERACA   Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggeledah rumah Dirut PLN Syofyan Basir terkait dengan OTT…

Peserta Gerakan OK Oce Lampaui Target

      NERACA   Jakarta - Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan peserta gerakan One Kecamatan One…