Adira Siap Bayar Pungutan OJK

Rabu, 19/02/2014

NERACA

Jakarta -Terkait dengan pungutan yang diberlakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan kepada industri jasa keuangan di tanah air, Adira Finance mengaku tidak keberatan untuk mendukung pungutan tersebut.“Dengan pungutan itu, kami tidak mempermasalahkan kami hanya mematuhi saja,” kata Direktur Keuangan dan Kepatuhan Adira Finance I Dewa Made Susila di Jakarta, Selasa (18/2).

Namun dia juga mengungkapkan, pungutan tersebut nantinya akan menambah beban operasional perusahaan. Selain itu dia juga mengharapkan dengan adanya pungutan tersebut OJK sebagai regulator bisa meningkatkan kualitas pengawasan. “Saya harap pungutan itu bisa meningkatkan kualitas pengawasan seluruh industri jasa keuangan,” tutur dia.

Sebelumnya, OJK telah memberlakukan pungutan sebesar 0,03% hingga 0,06% untuk industri jasa keuangan baik pasar modal, perbankan dan Industri Keuangan Non Bank (IKNB). Nantinya besaran pungutan ini diambil dari jumlah aset perusahaan.

Selain itu, Adira Finance sepanjang tahun 2013 berhasil mencatatkan laba bersih sebesar 20% menjadi sebesar Rp1,7 triliun dibanding dengan tahun sebelumnya Rp1,4 triliun. Made menjelaskan, peningkatan laba tersebut didorong oleh peningkatan perolehan operasional sebesar 14% menjadi Rp6 triliun, hal itu terjadi akibat kenaikan margin bunga bersih dan pendapatan operasional lain atau imbal jasa.

Biaya operasional hanya meningkat 5% menjadi Rp2,5 triliun. Penyaluran pembiayaan baru bertambah 4% dari Rp32,4 triliun menjadi Rp33,7 triliun. Piutang pembiayaan pun mengembang 5% menjadi Rp48,3 triliun.

"Pembiayaan kami salurkan untuk sepeda motor sebesar 60 persen dan mobil 40 persen. Sepertiga sepeda motor dan seperlima mobil yang dibiayai merupakan barang bekas. Kebanyakan mobil baru yang dicari nasabah ialah pikap, tapi untuk mobil bekas biasanya yang dicari untuk penumpang," ungkap Made.

Adira Finance tercatat telah memperbaiki rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (cost to income ratio) menjadi 42,1% pada 2013 dibandingkan 45,6% tahun sebelumnya. Rasio non performing loan (NPL), termasuk pembiayaan bersama, sebesar 1,3% atau lebih baik ketimbang 1,4% pada 2012.

Sepanjang tahun lalu, perusahaan meraih dukungan dana dari induk perusahaan, PT Danamon Indonesia Tbk, melalui skema pembiayaan bersama yang mencapai Rp18,9 triliun atau masih sekitar 39 persen dari piutang pembiayaan Adira Finance. Perusahaan juga menerbitkan efek utang senilai Rp4,5 triliun dari penawaran umum berkelanjutan II tahap II dan sukuk mudharabah berkelanjutan I tahap I yang diterbitkan Maret dan Oktober serta pinjaman sindikasi sebesar US$200 juta pada November.

Dengan begitu, hingga akhir 2013 perusahaan memiliki keseluruhan efek utang yang diterbitkan sebesar Rp11,4 triliun dan penjaman bank Rp11,2 triliun. "Meski demikian, rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio) kami hanya 3,8 kali. Ini jauh di bawah batas maksimum yang diizinkan sebesar 10 kali," ucap dia.

Sementara itu, Direktur Utama Adira Finance, Willy Suwandi Dharma menjelaskan, tahun 2013 lalu merupakan tahun yang penuh tantangan dan perubahan. Dimulai dengan pemberlakuan uang muka minimum untuk pembiayaan berbasis syariah pada awal tahun dan diikuti perubahan pada kondisi operasional pada sisi makroekonomi di pertengahan tahun.

Willy menjelaskan, dengan sepanjang tahun lalu naiknya BI Rate sebesar 175 bps menyebabkan suku bunga naik sehingga biaya pendanaan juga naik. “Selain itu kenaikan harga BBM juga menyebabkan inflasi yang tinggi sehingga menggerus daya beli masyarakat,” ucap dia.

Adira akan mengambil beberapa langkah untuk menyesuaikan bisnis perseroan terkait dengan perubahan-perubahan yang terjadi. “Kami memfokuskan diri pada faktor internal dengan melakukan optimalisasi infrastruktur dan efisiensi operasional, kami juga akan membangun landasan yang kokoh untuk pertumbuhan di masa yang akan datang,” tandas Willy. [sylke]