Laba Bersih Konsolidasi CIMB Niaga Rp4,28 Triliun

Sepanjang 2013

Rabu, 19/02/2014

NERACA

Jakarta - PT Bank CIMB Niaga Tbk melansir perolehan laba bersih konsolidasi (audited) yang berakhir 31 Desember 2013 sebesar Rp4,28 triliun, atau tumbuh dari periode yang sama di 2012 senilai Rp4,23 triliun. Hal ini didukung oleh pertumbuhan pendapatan bunga bersih sebesar 4% secara tahunan (year on year/yoy)menjadi Rp10,12 triliun, dan pertumbuhan pendapatan nonbunga sebesar 8% yoy.

Adapun earning per share (EPS) meningkat menjadi Rp170,40, dibandingkan periode yang sama di 2012, sebesar Rp168,44. Dengan total aset mencapai Rp218,87 triliun per 31 Desember 2013 atau meningkat sebesar 11% yoy, CIMB Niaga melanjutkan posisinya sebagai bank terbesar kelima di Indonesia dari sisi aset.Hal ini seiring dengan meningkatnya jumlah kredit yang disalurkan sebesar 8% yoy menjadi Rp156,98 triliun di akhir tahun.

Pertumbuhan kredit ini sebagian besar dikontribusikan oleh perbankan komersial (commercial banking) dan perbankan mikro kecil dan menengah (SMME/Small Medium Micro Enterprise Banking) yang masing-masing tumbuh 13% yoy menjadi sebesar Rp34,12 trilliun dan Rp31,06 trilliun. Kualitas aset CIMB Niaga terus meningkat secara bertahap, tercermin dengan rasio NPL gross yang tercatat sebesar 2,23% di 2013, lebih baik dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2012 sebesar 2,29%.

Adanya penerapan aturan loan to value (LTV) dan financing to value (FTV) di perbankan konvensional dan Syariah, telah mempengaruhi pertumbuhan Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Kepemilikan Mobil (KPM). Namun, CIMB Niaga masih mencatatkan pertumbuhan untuk bisnis KPR dan KPM, masing-masing sebesar 8% YoY dan 5% YoY menjadi Rp22,41 triliun dan Rp18,35 triliun.

“Tahun 2013 menjadi tahun yang penuh tantangan bagi industri perbankan di Indonesia termasuk bagi CIMB Niaga, dengan naiknya suku bunga serta tekanan inflasi sebagai dampak dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dan pelemahan nilai tukar Rupiah, dan kami memperkirakan kondisi perekonomian ini akan berlanjut di 2014. Kinerja CIMB Niaga di 2013 cenderung datar sebagai akibat tekanan net interest margin/NIM yang berkelanjutan, sejalan dengan penerapan strategi pertumbuhan kredit yang mengedepankan prinsip kehati-hatian sejak 2013," ujar Direktur Utama Bank CIMB Niaga, Arwin Rasyid di Jakarta, Selasa (18/2).

Lebih jauh dia mengungkapkan, ini yang menjadikan penyaluran kredit CIMB Niaga hanya tumbuh 8% yoy, dibawah industri, dengan kredit korporasi hanya tumbuh 1% yoy. Kredit konsumer ditopang oleh bisnis Personal Loans dan Kartu Kredit yang tumbuh 72% dan 12% yoy menjadi Rp1,63 triliun dan Rp4,08 triliun. “Dalam kondisi ini, kami akan meneruskan investasi dalam pengembangan infrastruktur dan meningkatkan sistem perbankan kami untuk mendukung tahap pertumbuhan kami selanjutnya,” tambahnya.

Dana pihak ketiga (DPK) per 31 Desember 2013 tercatat sebesar Rp163,74 triliun atau tumbuh 8% YoY. Current Account Savings Account meningkat 10% YoY menjadi Rp72,03 triliun, dengan Current Account (Giro) dan Savings Account (tabungan) masing-masing memberikan kontribusi sebesar Rp36,80 triliun (tumbuh 13% YoY), dan Rp35,23 triliun (tumbuh 7% YoY). Hasil ini berdampak positif terhadap rasio CASA CIMB Niaga yang meningkat 52 basis poin menjadi 43,99%.

Dari sisi perbankan Syariah, Unit Usaha Syariah CIMB Niaga (CIMB Niaga Syariah) mencatatkan penyaluran pembiayaan sebesar Rp6,68 trilliun serta perolehan dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp6,47 trilliun. Sejalan dengan tantangan operasional, rasio keuangan CIMB Niaga menunjukkan hasil perpaduan. Return on Equity (ROE) turun menjadi 17,74%, sementara rasio Fee Income terhadap Total Income meningkat menjadi 25,17% di 2013 dibandingkan 2012 sebesar 24,59%, dengan loan loss coverage meningkat menjadi 116,5% di 2013 (2012: 114,2%).

"Menghadapi kondisi perekonomian yang masih kurang kondusif, permodalan menjadi hal yang diperhatikan, dan CIMB Niaga berhasil meningkatkan Capital Adequacy Ratio (CAR) menjadi 15,36% di 2013, naik 20 basis poin dibandingkan posisi CAR di periode yang sama di 2012 sebesar 15,16%," terang Arwin.

Di tengah kondisi operasional yang cukup menantang di 2013, CIMB Niaga juga berhasil mengembangkan pondasi sejumlah lini bisnisnya. Beberapa diantaranya adalah bisnis transaction banking dan trade finance dengan fee based income yang tumbuh sebesar 36% YoY di 2013 menjadi Rp162 miliar (2012: Rp119 miliar). Tingginya jumlah transaksi forex menghasilkan kenaikan fee based income forex sebesar 38% YoY menjadi Rp653 miliar, dibanding periode yang sama di 2012 sebesar Rp472 miliar. Sementara fee based income dari bisnis bancassurance tumbuh 17% YoY menjadi Rp1,20 triliun (2012: Rp1,02 triliun).

Pengembangan produk dan layanan

CIMB Niaga terus mengembangkan layanan tanpa kantor cabang (branchless banking) yang juga membuahkan hasil positif. Hal ini terlihat dari layanan branchless banking yang mampu memberikan kontribusi sebesar 92% dari total transaksi retail banking CIMB Niaga per 31 Desember 2013 yang mencapai 38 juta transaksi. Angka ini lebih besar ketimbang kontribusi yang diberikan layanan branchless banking pada periode yang sama tahun 2012 sebesar 88% dengan jumlah transaksi mencapai 30 juta transaksi.

Selama tahun 2013, CIMB Niaga terus berinovasi dan mengembangkan sejumlah produk dan layanan sebagai wujud komitmennya untuk memberikan yang terbaik kepada nasabah setianya. Pada kuartal I-2013, CIMB Niaga telah memperkenalkan dua inovasi terbaru dalam layanan perbankan, yaitu Rekening Ponsel (layanan perbankan berbasis ponsel) dan Digital Lounge.

Rekening Ponsel memungkinkan masyarakat melakukan transaksi perbankan hanya dengan menggunakan nomor ponsel, termasuk transfer dana ke nomor ponsel manapun tanpa membuka rekening di CIMB Niaga. Per 31 Desember 2013, jumlah pengguna Rekening Ponsel tercatat sebanyak 274 ribu pengguna dengan jumlah transaksi per bulan mencapai lebih dari 1 juta transaksi. Kemudahan dalam melakukan transaksi perbankan tanpa batas seperti pada Rekening Ponsel ini, menjadi bentuk dukungan CIMB Niaga terhadap program financial inclusion yang dicanangkan regulator. [rin]