Kunjungan John Kerry & Agenda AS Untuk RI? - Oleh: Jenar Wongsopati, Praktisi Seni Sastra Taman Budaya Jogjakarta

Berbagai pemberitaan media edisi Senin (17/02/2014), memotret kedatangan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, John Kerry untuk beberapa kegiatannya di Jakarta. Bahwa, agenda kedatangan “Bhatara Narada”nya AS itu ke Indonesia direncanakan selama 3 hari, dalam acara lawatannya ke Kawasan Asia. John Kerry, selain mengisi acara Seminar Tentang Perubahan Iklim di Pusat Kebudayaan AS, di Pacific Place Jakarta, juga sempat memukul Beduk di Masjid Istiqlal Jakarta, pada Minggu (06/02/2014).

Dan selanjutnya, berencana untuk menghadiri acara Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-4 Menteri Luar Negeri RI, Marty Natalegawa dan Menteri Luar Negeri AS. Ada perubahan iklim apa di AS?, hingga Kerry mendadak mampir ke Indonesia dalam keadaan kedaruratan bencana alam nasional ini?

Sebagaimana dipublikasi media nasional, bahwa agenda kunjungan kedua John Kerry ke Indonesia ini, dilansir untuk meningkatkan hubungan kerja-sama bilateral antara kedua negara. Selain itu, dalam Sidang Komisi Bersama (SKB) ini diagendakan membahas isu-isu krusial terkait masalah Keamanan, Perdagangan dan Investasi, Pendidikan, Perubahan Iklim dan Lingkungan Hidup, serta Energi. Dan, Kerry juga dijadwalkan untuk menandatangani Kesepakatan Bersama MoU (Memorandum of Understanding) Kerja-Sama Triangular, dan MoU South-South. Selain itu, Kerry juga akan menandatangani MoU tentang Pemberantasan Penyelundupan Hewan Liar dan Konservasi Hewan Liar. Apakah dalam peetemuan kedua Menlu it tidak membahas soal penyadapan Australia di Indonesia? Bagaimana sikap AS terhadap isu krusial ini?

Pada Senin (17/02/2014), dalam siaran pers Menteri Luar Negeri, Marty Natalegawa tentang pertemuan dengan Menlu AS tersebut, terkait masalah penyadapan yang dilakukan oleh intelijen NSA (National Security Agency) dan ASD (Australian Signals Directorate) Australia, agaknya tidak ditanggapi secara serius oleh Kerry. Meski, Menlu Marty Natalegawa telah menegaskan, bahwa Indonesia mengerti jika kinerja intelijen untuk menjaga keamanan. Akan tetapi, yang mengherankan adalah terkait dengan ulah Australia tentang penyadapan terhadap isu “Sengketa Udang AS dan Indonesia”? Dan, Pemerintah Indonesia kembali mempertegas kepada Pemerintah Australia terkait isu penyadapan tersebut, atau, justru mempertegas bagaimana sikap AS pada Australia?

Meski, profesi dunia intelijen difahami semata untuk menjaga kemanan negara. Namun, Pemerintah Indonesia menilai tidak habis mengerti, bagaimana isu Udang Indonesia bisa dianggap intelijen Australia akan berdampak membahayakan keamanan nasionalnya?

Selanjutnya, Menlu Marty Natalegawa kembali menegaskan, bahwa negara tetangga seperti Indonesia dan Australia, seharusnya saling menjaga dan bukan justru saling menyerang kepercayaan masing-masing negara. Negara tetangga, seharusnya tidak mendengar (menyadap) negara tetangganya, akan tetapi saling memahami satu sama lain. Sikap tegas yang disampaikan Menlu Marty Natalegawa dihadapan Menlu AS ini perlu diapresiasi oleh seluruh rakyat Indonesia, lalu bagaimanakah respon Australia?

Dugaan penyadapan terbaru ini terbongkar oleh Dokumen NSA yang dibocorkan oleh Edward Snowden. Dokumen itu diperoleh oleh “The New York Times” dan disebarkan oleh “The Guardian”. Penyadapan tersebut terjadi pada 2013 lalu, dan seperti mengulang kembali kasus penyadapan terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Ibu Negara Ani Yudhoyono. Dan aksi penyadapan Intelijen Australia kepada simbol Kedaulatan Pemerintah Nasional Indonesia ini sangat membuat kita marah.

Maka, berdasarkan dokumen yang diperoleh “The New York Times”, NSA (National Security Agency) bersama dengan ASD (Australian Signals Directorate) telah melakukan penyadapan terhadap sebuah Firma Hukum Amerika Serikat (AS). Firma Hukum AS tersebut mewakili Indonesia ketika terlibat “Sengketa Perdagangan” dengan AS. Sengketa tersebut, termasuk “Masalah Perdagangan Udang” serta “Masalah Rokok Kretek”. Luar biasa, ternyata Intelijen Australia juga penasaran dengan masalah Rokok Kretek di Indonesia, kurang kerjaan?

Apakah aksi penyadapan oleh Intelijen Australia itu terjadi karena lemahnya pengawasan jaringan telekomunikasi nasional, akibat penguasaan saham telekomunikasi nasional yang dikuasai oleh pihak asing? Kemudian, ASD bersama dengan NSA Australia juga diketahui telah memperoleh Data Enskripsi milil Indosat dan Telkomsel. Dan menurut dugaan, bahwa kedua Badan Intelijen Australia tersebut telah memperoleh 1,8 juta data dari Jaringan Telekomunikasi di Indonesia.

Apakah Australia ingin memanfaatkan polemik AS-RI soal perdagangan udang itu untuk mengganggu stabilitas keamanan nasional NKRI? Maka, bagaimana seyogyanya seorang Pemimpin Nasional bersikap tegas?, dan seluruh rakyat Indonesia yang tengah dirundung kedukaan akibat kedaruratan bencana nasional ini juga bersikap terhadap Australia? Sementara, John Kerry lebih memilih asyik mukul Beduk Masjid Istiqlal, tanpa kita tahu apa maksud pesan tersembunyi dibalik “No Comment”-nya AS? (mimbar-opini.com)

BERITA TERKAIT

Penggabungan PGN Ke Pertamina - Oleh : Jajang Nurjaman, Koordinator Investigasi Center for budget Analysis (CBA)

Hingga september 2017 total aset Perusahaan Gas Negara (PGN) mencapai USD6.307.676.412 atau setara Rp83.892.096.279.600 (Kurs Rupiah Rp 13.300). Bahkan PGN…

Kembalikan Lagu untuk Anak Indonesia

      Lagu merupakan suatu bentuk seni yang digemari setiap kalangan dan sebuah bentuk ekspresi yang dapat menembus banyak…

PII Jamin Proyek SPAM Di Bandar Lampung - Butuh Rp250 triliun untuk Sarana Air Minum

      NERACA   Lampung – PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero) / PT PII melaksanakan penandatanganan penjaminan proyek yang…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Peran Pers dalam Mewujudkan Stabilitas di Tahun Politik

  Oleh : Stevanus Sulu, Mahasiswa Universitas Nusa Cendana, Kupang Pers sebagai media komunikasi massa berfungsi untuk menyalurkan aspirasi rakyat…

Menolak Isu Pencopotan Kepala BIN

  Oleh: Dodik Prasetyo, Peneliti Senior LSISI   Belakangan ini, masyarakat Indonesia diramaikan oleh berita penganiayaan tokoh agama seperti yang…

Matinya Edisi Cetak ?

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo Realitas industrialisasi media berdampak sistemik…