INSA Desak Pemerintah Dukung Industri Logistik Lokal

Asing Masih Mendominasi

Rabu, 19/02/2014

NERACA

Jakarta - Logistik mempunyai peranan penting terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, mengingat secara geografis Indonesia merupakan negara kepulauan dengan wilayah yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Kendati demikian, secara umum perusahaan logistik nasional masih dikuasai oleh asing yang punya modal besar dan jaringan lebih kuat. Oleh karenanya pemerintah dihimbau untuk dapat memproteksi perusahaan asing, dan mendukung pertumbuhan perusahaan logistik nasional.

Carmelita Hartoto, Ketua Umum Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) mengatakan sebagai negara kepulauan, bisnis logitik Indonesia mempunyai potensi yang besar, hanya saja saat ini industri logistik nasional masih didominasi oleh perusahaan asing. Harusnya pemerintah mampu mengambil kebijakan agar dapat memproteksi perusahaan asing atau memberikan proteksi kepemilikannya dimiliki oleh lokal sehingga potensi industri ini tidak diambil alih asing. “Industri logistik nasional punya potensi besar, maka dari itu pemerintah harus lebih kuat dan tegas dalam memproteksi ruang gerak perusahaan asing agar potensi besar itu tidak diambil alih oleh perusahaan multinasional,” katanya kepada Neraca Selasa (18/2).

Memang secara umum, sambung Carmelita perusahaan asing punya permodalan dan jaringan yang lebih kuat yang tidak banyak dimiliki oleh perusahaan lokal, maka dari itu bisa dibangun dengan pola join venture. Tapi kepemilikan tetap harus didomonasi oleh lokal sekitar 70% . “Secara kepemilikan kita harus lebih besar, karena sebagai tuan rumah jangan sampai diatur oleh mereka, tapi perusahaan asing yang harus ikut aturan disini,” imbuhnya.

Karena sebagai tuan rumah sudah sepatutnya Indonesia bisa menguasai industri nasional, dan bisa menjadi raja negeri sendiri. Tentu saja untuk mencapai itu perlu dukungan dan supporting penuh dari pemerintah. “Disini yang peunya kebijakan pemerintah, pelaku usaha mengikuti saja. Harapannya pemerintah bisa pro pada pengusaha lokal,” tegasnya.

Selain masalah proteksi, untuk mendukung pertumbuhan di indsutri ini menurut Carmelita poin utama yang harus dilakukan pemerintah adalah peningkatan pembangunan infrastruktur. Karena mustahil industri logistic dapat berkembang cepat jika tidak diimbangi dengan penguatan infrastruktur. “Bagaiamana mau tumbuh jika jalan, pelabuhan, bandara tidak mendukung. Jadi pemerintah harus bisa mendukung dari segi infrastruktur yang memadai,” paparnya.

Belum Siap

Sedangkan menurut Zaldy Ilham, Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI), mengatakan secara umum perusahaan logistik lokal masih belum siap menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015. “Kalau kami lihat secara kompetisi lokal, saya rasa tidak siap, karena rata-rata pengusaha lokal kita berperang melawan BUMN-BUMN di banding persiapan dengan asing,” katanya.

Zaldy menilai, seharusnya pemerintah mendukung para pengusaha logistik lokal, bukannya membentukan para pengusaha ini perusahaan-perusahaan logistik milik BUMN.

“Yang sebenarnya kami harapkan dari pemerintah untuk bisa mendukung pengusaha-pengusaha lokal agar mereka bisa bersaing dengan ‘musuh-musuh’ mereka di Asean. Tapi sekarang mereka harus berhadapan dengan perusahaan-perusahaan logistik milik BUMN yang saya rasa sekarang kondisinya sangat tidak fair,” imbuhnya.

Adapun agar sektor logistik bisa bersaing saat perdagangan bebas antar negara Asia Tenggara nanti, lanjut dia, ada tiga hal yang harus dilakukan pemerintah. Pertama yaitu peningkatan sumber daya manusia (SDM). Kedua, terkait intensif dimana pengusaha lokal seharusnya mendapatkan dukungan berupa keringanan dan kemudahan pembiayaan seperti yang didapatkan pengusaha logistik dinegara-negara tetangga.

“Kami lihat sekarang banyak perusahaan-perusahaan logistik dari luar seperti dari Singapura dan Malaysia. Dia bisa investasi truk yang baru, karena dia bisa memakai uang yang mereka pinjam di Bank Singapuara yang bunganya hanya 1,5%, sedangkan pengusaha lokal kita kalau mereka mau beli truk baru, mereka harus pinjam uang di bank kita yang bunganya 11%,” ujarnya.

Dan ketiga, yang harus dipersiapkan pemerintah yaitu terkait infrastruktur yang menjadi salah satu kunci berkembangnya sektor logistik suatu negara. Zaldy mengatakan, selama lima tahun terakhir tidak ada fasilitas logistik dibangun secara baik.”Semuanya masih tambal sulam yang ada aja sekarang, tapi infrastruktur baru sama sekali gak ada,” tutupnya.