Mencetak Individu yang Bertalenta dan Unggul

Oleh: Fauzi Aziz, Pemerhati Masalah Industri dan Perdagangan

Kamis, 20/02/2014

Tema ini telah menjadi sebuah kebutuhan bagi sebuah negara yang sedang membangun dirinya untuk menjadi bagian dari masyarakat dunia. Jika progam ini dapat dlaksanakan secara masif, maka dampaknya pada peningkatan produktifitas dan kreatifitas dapat menjadi eksplosif bagi negara yang bersangkutan maupun bagi kepentingan masyarakat global pada umumnya. Indonesia sangat berkepentingan dengan adanya progam tersebut jika ingin membangun posisi tawarnya dalam pelakanaaan perjanjian internasional di bidang ekonomi kebudayaan, dan politik, ketika sudah menjadi bagian integral dari Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), dan kerjasama ekonomi Asia Pasifik.

Asean atau Asia sedang naik daun, dan Indonesia harus dapat mengambil manfaat yang sebesar-besarnya bagi kepentingan politik, ekonomi dan budaya di kawasan.Sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia setelah AS dan India, negeri ini mempunyai fondasi yang cukup kuat untuk menjadi "pemimpin" di kawasan jika sistem politiknya yang demokratis dapat berjalan sehat dan kondusif untuk membangun sistem ekonomi yang berdaya saing, dan ditopang oleh masyarakatnya yang memiliki "budaya industri" yang unggul. Berderap maju menuju modernitas adalah menjadi obsesi kita sebagai bangsa.

Keterbukaan yang telah menjadi kebijakan nasional membawa konsekwensi tertentu, antara lain bahwa bangsa ini harus banyak menghasilkan individu yang bertalenta dan unggul di berbagai bidang agar bangsa ini dapat berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Menjunjung tinggi budaya industri berarti mempersiapkan diri untuk mendidik masyarakatnya menjadi bagian dari masyarakat industri yang kreatif dan inovatif. Menjadi bangsa pembelajar adalah salah satu ciri dari sebuah bangsa yang berpotensi untuk menjadi adi daya.

Jepang adalah salah satu contoh sebuah superpower economy yang dulunya hanya sebuah negara agraris yang miskin. Sejak era restorasi meiji, Jepang bangkit secara besar-besaran karena bangsa Jepang adalah pembelajar yang tekun untuk mengejar ketertinggalannya kala itu. Di Asia muncul superpower baru yang dimotori oleh China dan India.

Di abad 21, China bangkit menjadi kekuatan baru raksasa ekonomi di dunia. Dan kebangkitannya ternyata memilki kultur sebagai bangsa pembelajar yang ulet. China membangun negerinya bukan dilakukan dengan pendekatan yang bersifat idiologis, tetapi lebih berbasis pada membangun kinerja.

Rakyat China percaya dengan legitimasi kinerja daripada legitimasi idiologis atau politis. Secara terus menerus China selalu menyediakan lingkungan yang kondusif bagi wirausaha, tempat bakat baru dapat muncul dan berkembang. India maju karena penguasaan teknologi informasinya yang unggul dan kemampuan bahasa Inggris rata-rata masyarakatnya yang cukup tinggi.

Kini giliran Indonesia yang juga harus bisa melakukan upaya yang sama, yaitu harus berhasil menjadi bangsa pembelajar. Tahun 2030, Indonesia diproyeksikan akan menjadi salah negara dengan kekuatan ekonomi dunia pada urutan ketujuh. Proyeksi ini adalah masuk akal dan bisa menjadi sebuah kenyataan jika negara ini mampu mengorganisir seluruh kekuatan sumber daya nasionalnya dengan tata kelola yang baik.

Pemerintah juga harus memberikan ruang yang seluas-luasnya bagi tumbuhnya wirausaha baru, tempat bakat baru dapat muncul dan berkembang. Kewirausahaan adalah salah satu budaya industri yang sangat diperlukan untuk mendukung pembangunan sektor pertanian yang tangguh dan industri penglohan yang kuat dan berdaya saing. Sejalan dengan perkiraan Kishore Mahbubani bahwa tidak terelakkan lagi telah terjadi pergeseran kekuatan global ke Timur.

Maka dari itu, Indonesia harus mengambil bagian dalam prosesnya. Secara by design di bidang penyiapan kekuatan sumber daya manusia yang produktifitasnya tinggi harus dilakukan oleh pemerintah untuk mencetak individu yang berbakat dan unggul agar menjadi bagian dari masyarakat industri yang menghargai efisiensi dan produktifitas.Progam pendidikan dan pelatihan menjadi progam nasional yang prioritas dan tidak boleh sampai gagal.

Untuk mencapai tujuan itu. Pemerintah tidak boleh setengah hati menyelenggaran progam pendidikan dan pelatihan yang berkualitas dengan fokus yang lebih terukur.Meningkatkan taraf pendidikan seluruh bangsa dengan memberikan bobot pelatihan yang jauh lebih tinggi bagi individu-individu yang inovatif adalah sebuah pilihan kebijakan yang tepat.

Progam audisinya harus dilakukan merata di seluruh tanah air untuk menjaring mereka yang mempunyai bakat dan minat di bidang teknologi atau kewirausahaan pada umumnya.Terus berupaya menciptakan kondisi yang kondusif bagi inovasi dan berupaya mendidik ilmuwan menjadi para peneliti ilmiah dan teknologi berkelas dunia.Pemerintah dituntut untuk lebih memberikan kesempatan lahirnya inovasi mandiri dan menciptakan sistem yang berorientasi pasar untuk inovasi teknologi.

Progam inkubator industri dan bisnis harus diperbanyak dan sebaiknya harus menjadi progam andalan yang prioritas. Mau tidak mau, pemerintah harus bisa menambah APBN-nya untuk meningkatkan pengeluaran/belanja untuk keperluan inovasi mandiri. Tidak hanya itu, pemerintah juga harus membangun sistem pembiayaan sebagai "start up capital", yaitu sejumlah dana yang dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan yang baru berdiri pada saat memulai operasionalisasi kegiatan usahanya.

Start up capital ini sangat membantu perusahaan-perusahaan dalam proses pendirian usaha, karena pada saat awal pendirian sangat sulit bagi perusahaan baru untuk mendapatkan dana dari jalur komersial biasa seperti dari perbankan maupun yang berasal dari lembaga investasi lainnya. Hal-hal yang disampaikan adalah bersifat obyektif, dan ketika bangsa ini sudah menyatakan tekadnya untuk berderap maju menuju modernitas, maka ketersediaan sumber daya manusia unggul dalam jumlah yang besar harus bisa dicukupi dari dalam negeri.

Kita memerlukan banyak individu yang mempunyai inner creatif yang tinggi, yaitu kemampuan untuk bertindak kreatif dan inovatif. Inilah budaya industri yang penting untuk dikembangkan di masyarakat selain pembelajaran dan masalah kewirausahaan yang para ahli ekonomi dan sosial menyebutnya sebagai faktor produksi yang langka. Modal manusia dan modal sosial sudah banyak kita miliki, hanya saja perlu dibangun kekuatannya agar dapat menjadi modal dasar pembangunan yang berproduktifitas tinggi dan bersaing.

Oleh sebab itu mencetak individu yang bertalenta dan unggul menjadi sebuah keniscayaan jika bangsa ini hendak menempatkan dirinya menjadi bangsa yang unggul secara ekonomi, politik dan budaya. Bahan dasarnya sudah ada semua tinggal bagaiamana cara mengolahnya. Demokrasi sudah kita dapatkan, desentralisasi sudah kita jalankan. Proses selanjutnya adalah membangun produktifitas dan daya saing, yang selama ini Indonesia masih tertinggal dengan bangsa lain. Semoga bermanfaat.