Jalan-jalan Ke Pecinan Petak 9

Sabtu, 22/02/2014

Di setiap negara memang hampir semuanya memiliki kota atau daerah pecinan atau daerah yang banyak ditinggali masyarakat keturunan etnis China atau Tionghoa. Khusus di Jakarta, juga terdapat kawasan Pecinan yanglengkap dengan vihara. Salah satunya adalah Pecinan Glodok, Jakarta Barat ini. Dewi Vihara Dharma Bhakti, demikian nama yang tertera jelas di gerbang utama vihara berusia sekira 350 tahun itu.

Vihara Dharma Bhakti adalah satu dari 3 vihara tua di Jakarta yang masih berfungsi hingga kini. Lokasinya berada di Jalan Kemenangan III, Pecinan Glodok, Jakarta Barat. Dari ketiga vihara, Dharma Bhakti dikenal sebagai vihara paling tua yang dibangun pada tahun 1650 oleh seorang Luitnant Tionghoa, Kwee Hoen. Pada awal berdirinya, vihara ini dinamakan Koan Im Teng (Paviliun Koan Im).

Berada di kawasan yang juga dikenal dengan sebutan Petak 9, Vihara Dharma Bhakti termasuk vihara besar. Vihara ini menjadi tempat pemujaan bagi para dewa dari golongan Taois, Confucianis maupun Budhis Mahayana. Selain Vihara Dharma Bhakti, masih di kawasan bahkan jalan yang sama Jl. Kemenangan III, terdapat dua vihara lainnya, yaitu Vihara Tanda Bhakti dan Vihara Dharma Jaya (Toasebio).

Masing-masing vihara memiliki cirinya sendiri, termasuk gaya bangunan, benda-benda koleksi vihara, tuan rumah dan dewa yang dipuja. Kunjungi ketiga vihara tua ini dan temukan hal menarik yang menyimpan kekhasan masing-masing vihara itu sendiri. Mengabadikan bangunan yang didominasi warna merah ini pun menjadi hal yang tak boleh dilupakan.

Sebelum menuju kompleks vihara utama yang tampak dari luar gapura, amati di sisi kiriberjejer3 buah vihara yang interiornya didominasi warna merah. Lampion-lampion merah memenuhi langit-langit ketiga area ibadah yang terpisah dari vihara utama. Altar tempat pemujaan dewa ditata sedemikian rupa di beberapa sudut ruangan.

Melangkah memasuki halaman bangunan vihara utama, terdapat tempat sembahyang yang disangga 4 pilar berwarna merah dan dinaungi atap berundak dua berwarna dominan kuning. Kuntum teratai menjadi penghias puncak atapnya. Sementara itu, atap vihara utama khas berbentuk ekor burung walet berhiaskan dua ekor naga yang mengapit sebutir mutiara.

Deretan lilin merah sepanjang 1 meter tampak berjajar di salah satu dinding. Belum lagi yang bertumpuk di meja sebuah sudut. Puluhan lilin merah raksasa dibiarkan menyala memadati area tengah. Asap dari lilin dan hio yang dibakar itu menimbulkan efek dramatis saat terkena bias Matahari yang masuk melalui atap terbuka di area tengah vihara.

Selain lilin dan altar sembahyang, patung-patung dewa terbuat dari kuningan dipajang di etalase di salah satu sisi ruang utama ini. Dibandingkan dengan kedua vihara lainnya, vihara ini terbilang yang paling ramai dikunjungi meski sedang tidak ada perayaan apapun. Saat Imlek menjelang, Vihara Dharma Bhakti tentunya akan sangat sibuk dan menjadi salah satu pusat perayaan Imlek.