Penguatan Rupiah Picu Kepercayaan Pasar

Selasa, 18/02/2014

NERACA

Jakarta- Menguatnya nilai tukar rupiah atas mata uang dolar dan sinyal positif dari bursa regional dinilai menjadi pendorong kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sejumlah saham pun menggoda pelaku pasar untuk menambah posisi. “Saham-saham konstruksi, properti, bank, ASII, kembali menembus resisten. Trend jangka pendek dari saham-saham tersebut sudah berubah menjadi trend naik.” kata Kepala Riset Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo di Jakarta, Senin (17/2).

Menurut dia, kepercayaan dari pasar terlihat bangkit kembali dengan rupiah yang sempat mencapai titik terkuat di 11670-an. Dengan kata lain, rupiah telah menguat sekitar Rp500 dalam seminggu terakhir. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun memasuki kisaran resisten 4550-4575, dengan aksi beli bersih yang dilakukan asing Rp1 triliun lebih.

Sementara dari regional, kata dia, Hang Seng ditutup di atas gap 22.222 – 22.435, di mana signal yang ditunjukkannya positif. Selain DJI yang libur, sentimen murni hanya dari Eropa. Sehingga dia pun mempertimbangkan untuk bisa menambah posisi. “Karena DJI tutup saya nambahnya besok pagi. Dengan harapan masih bisa dapat barang 2-3 poin lebih rendah dari sore ini.” tuturnya.

Analis Danareksa Sekuritas, Lucky Bayu Purnomo mengatakan, pergerakan IHSG antara lain juga dipengaruhi positifnya rilis kinerja emiten secara umum di tahun 2013. Tercatat, posisi IHSG pada perdagangan Senin (17/2) sempat mampu menanjak hingga di atas level 4.530 hingga akhirnya ditutup di level 4555. “Pasar ternyata memberi apresiasi positif terhadap laporan keuangan emiten untuk tahun kinerja 2013 lalu.” katanya.

Sektor perbankan, menurut dia, menjadi sektor yang mencatatkan kinerja positif. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) misalnya, yang memperoleh keuntungan sebesar Rp18 triliun dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) yang meraih Rp21 triliun. Dengan tingginya perolehan laba kedua bank BUMN tersebut, sambung Lucky, pelaku pasar merasa mendapatkan indikasi bahwa perekonomian Indonesia berada dalam kondisi yang cukup baik.

Sementara itu, Kepala Riset PT Buana Capital, Alfred Nainggolan mengatakan, selain perbankan dan konstruksi, pelaku pasar juga bisa melirik sektor properti. Dengan kinerja emiten yang masih cukup baik saat ini, saham properti dinilai tidak akan seburuk seperti yang diperkirakan.

Dia menyarankan , pelaku pasar dapat mengakumulasi untuk saham-saham blue chips karena masih banyak emiten yang belum menyampaikan laporan keuangannya. Apalagi diketahui, beberapa emiten yang telah merilis laporan keuangan, seperti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) dari sektor perbankan dan PT Adhi Karya Tbk (ADHI) dari sektor konstruksi tercatat positif. “Melihat apresiasi pasar pada saham-saham tersebut tentunya menunjukkan kinerjanya direspons positif.” ucapnya.

Kombinasi rendahnya current account deficit Indonesia di kuartal keempat 2013 sebesar -1,98%, dan bertahannya BI Rate serta penguatan rupiah ke level 11.820 di tengah net buy asing secara year date mencapai Rp 4,31 triliun dinilai menjadi faktor IHSG selama 1 minggu menguat sebesar +41,37 poin (+0,93%).