Pemerintah Diminta Konsisten Jalankan Kebijakan

Selasa, 18/02/2014

NERACA

Jakarta - Ekonom Eugenia Mardanugraha menjelaskan soal penguatan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS terjadi karena surplusnya neraca pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan IV tahun 2013.

“Itu otomatis kalau NPI surplus maka rupiah menguat, itu merupakan kinerja bagus dari pemerintah, kan Menteri Keuangan mengklaim surplusnya NPI itu dihasilkan dari kebijakan pemerintah untuk mengurangi impor sudah terlihat kan hasilnya,” kata Eugenia kepada Neraca Senin (17/2).

Untuk terus mempertahankan penguatan nilai tukar tersebut, Eugenia mengatakan seharusnya pemerintah bisa mempertahankan kebijakan untuk menekan impor. “Ya pemerintah harus konsisten jika ingin menekan impor, ya jalankan saja sampai target kurs rupiah yang diinginkan, tapi kalau penguatan rupiah hanya sementara, misalnya besok melemah lagi itu artinya kebijakannya tidak efektif,” tambah dia.

Namun dia juga menjelaskan jika rupiah terlalu kuat, juga tidak baik dan tidak disukai oleh eksportir. “Jadi misalnya target penguatan itu Rp11 ribu, ya kebijakannya harus berkelanjutan sampai di angka itu, kalau tidak ya nantinya bisa melemah lagi,” ujarnya.

Dia juga mengungkapkan, salah satu faktor yang turut mempengaruhi penguatan kurs Rupiah adalah bencana alam yang masih terjadi di dalam negeri seperti banjir, gunung meletus dan gempa. “Sebenarnya bencana alam tersebut juga mengakibatkan penguatan, karena daya konsumsi masyarakat agak menurun dan mereka tidak membeli barang-barang impor untuk sementara waktu,” jelas dia.

Sebelumnya Bank Indonesia mencatat Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) triwulan IV-2013 kembali surplus sebesar US$4,4 miliar, setelah selama tiga triwulan terakhir mengalami defisit. Perbaikan NPI triwulan IV-2013 ditopang defisit transaksi berjalan yang menurun cukup tajam menjadi US$4,0 miliar atau 1,98% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Defisit ini jauh lebih rendah dari defisit triwulan sebelumnya yang sebesar US$8,5 miliar (3,85% PDB) maupun perkiraan awal Bank Indonesia (BI). Surplus NPI triwulan IV-2013 juga ditopang oleh peningkatan surplus transaksi modal dan finansial yang mencapai US$9,2 miliar, lebih besar dari surplus pada triwulan sebelumnya sebesar US$5,6 miliar.

Surplus NPI triwulan IV-2013 pada gilirannya mendorong kenaikan cadangan devisa dari US$95,7 miliar pada triwulan III-2013 menjadi US$99,4 miliar pada Desember 2013, atau setara 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah. Bank Indonesia menilai NPI triwulan IV-2013 yang kembali tercatat surplus tidak terlepas dari kontribusi positif bauran kebijakan yang telah dilakukan BI bersama dengan Pemerintah dalam menurunkan defisit transaksi berjalan dan memperkuat ketahanan sektor eksternal.

Penurunan defisit transaksi berjalan terutama didukung oleh naiknya surplus neraca perdagangan barang, yang bersumber dari bertambahnya surplus neraca perdagangan nonmigas dan menyempitnya defisit neraca perdagangan migas.

Surplus neraca perdagangan nonmigas meningkat karena ekspor nonmigas kembali tumbuh positif (3,8%, yoy) didukung kenaikan ekspor manufaktur sejalan meningkatnya permintaan dari AS dan Jepang, nilai tukar rupiah yang cukup kompetitif, dan koreksi harga komoditas yang semakin terbatas, di samping didorong pula oleh peningkatan ekspor sumber daya alam terkait dengan antisipasi pemberlakuan Undang Undang tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (UU Minerba).

Sementara itu, pertumbuhan impor nonmigas mencatat kontraksi 6,6% (yoy) sejalan dengan moderasi permintaan domestik. Di sisi neraca perdagangan migas, berkurangnya defisit dipengaruhi turunnya impor migas di saat ekspor migas masih tumbuh positif. [sylke]