Kapal Pinisi Produksi Bulukumba Tembus Pasar Dunia

NERACA

Bulukumba - Indonesia masih ketergantungan terhadap barang impor untuk pembuatan kapal. Pasalnya, hampir 70% komponen kapal didatangkan dari luar negeri. Namun begitu, Indonesia juga dikenal sebagai salah satu produsen kapal terbaik di dunia. Bupati Bulukumba Zainuddin Hasan mengatakan bahwa wilayahnya adalah salah satu pengrajin kapal pinisi yang mengandalkan bahan-bahan dari dalam negeri.

Zainuddin yang ditemui di kediamannya di Bulukumba, Sulawesi Selatan, ini mengaku bahwa masyarakatnya ahli dalam membuat perahu. "Masyarakat di Bulukumba sangat ahli membuat kapal Pinisi. Uniknya adalah mereka membuat perahu tanpa ada gambar jadi hanya berkhayal. Kapal Pinisi juga tanpa menggunakan mesin sehingga memanfaatkan layar untuk mengarungi lautan bahkan bisa sampai ke Afrika," ungkap Zainuddin di Bulukumba, Sulsel, Minggu (16/2).

Menurut dia, dalam pembuatan kapal Pinisi biasanya dikerjakan 10-20 orang dalam waktu pengerjaan yang beragam. Hal itu tergantung dari besar kecilnya kapal yang dibuat. "Kapasitasnya ada yang mencapai 1.500 ton. Itu dikerjakannya sampai setahun, untuk bahan bakunya masih menggunakan kayu yang didatangkan dari Jayapura, Kalimantan dan Sulawesi Tenggara. Pengerjaan untuk pembengkokan kayu juga masih menggunakan alat-alat yang sederhana," imbuhnya.

Ia juga membanggakan bahwa kapal Pinisi buatan masyarakat Bulukumba sudah dikenal di seluruh dunia. "Pemesannya itu mulai dari Venezuela, Belanda, Jerman sampai negara tetangga yaitu Malaysia. Untuk lokal juga banyak yang memesan seperti dari Banjarmasin, Lampung dan Banten. Akan tetapi, karena keunikan, daya tahan dan daya jelajah yang tinggi membuat kapal pinisi diminati oleh orang luar negeri," jelasnya.

Zainuddin mengungkapkan bahwa harga untuk satu kapalnya pun cukup mahal. Hal itu karena pengerjaan yang masih menggunakan cara tradisional dan menggunakan kayu yang terbaik. "Untuk satu kapal Pinisi, bermacam-macam harganya. Yang terakhir, ada pesanan dari Belanda dengan nilai Rp4 miliar dengan kapasitas sekitar 1.000 ton," tukasnya.

Kabupaten Bulukumba berada sekitar 153 kilometer dari Kota Makasar, Sulawesi Selatan. Kabupaten ini juga dikenal penduduk lokal dengan nama Butta Panrita Lopi atau Tanah dari Kapal Layar Pinisi. Bulukumba mendapat julukan tersebut karena tempat ini merupakan tempat lahirnya kapal pinisi yang terkenal. Pasalnya kapal layar Pinisi telah dibangun di sini sejak abad ke 14. Kapal ini sebagian besar dibuat di daerah yang disebut Tanah Beru, 176 kilometer dari Kota Makassar.

Pinisi sebenarnya merupakan nama layar dan umumnya memiliki dua tiang layar utama dan tujuh buah layar, yaitu tiga di ujung depan, dua di depan, dan dua dibelakang. Kapal pinisi biasanya digunakan sebagai kapal pengakutan barang antar pulau.

Dua tiang layar dari kapal pinisi memiliki arti yang melambangkan dua kalimat syhadat dan untuk ketujuh buah layar pinisi melambangkan jumalah ayat dari surat Al- Fatihah. Pinisi adalah sebuah kapal layar yang menggunakan jenis layar sekunar dengan dua tiang utama dan tujuh layar yang juga mempunyai makna bahwa nenek moyang bangsa Indonesia mampu mengarungi tujuh samudera besar di dunia.

Kapal kayu pinisi telah digunakan di Indonesia sejak beberapa abad yang lalu. Dan diperkirakan kapal pinisi telah ada sejak tahun 1500an. Menurut naskah lontarak, pada abad ke-14, Pinisi pertama kali di buat oleh Sawerigading, Putera Mahkota Kerajaan Luwu yang digunakan untuk berlayar menuju negri Tongkok yang hendak meminang Putri Tiongkok yang bernama We Cudai. Sawerigading berhasil menuju negri Tiongkok dengan kapal pinisnya dan berhasil memperistri Putri We Cudai.

Setelah beberapa lama di negri Tiongkok, Sawerigading kembali kekampung halamany ke negri Luwu dengan kapal Pinisinya. Menjelang masuk perairan Luwu kapal diterjang gelombang besar dan Pinisi terbelah menjadi tiga yang terdampar di desa Ara, Tanah Lemo, dan Bira.

Masyarakat ketiga desa tersebut kemudian merakit pecahan kapal tersebut menjadi perahu yang kemudian dinamakan Pinisi, Orang Ara adalah pembuat badan kapal, di Tana Lemo kapal tersebut di rakit dan orang Bira yang merancang kapal tersebut menjadi Pinisi dan ketujuh layar tersebut lahir dari pemikiran orang orang Bira.

BERITA TERKAIT

Produksi Lele Bioflok Sokong Suplai Pangan Berbasis Ikan

NERACA Sleman- Menteri Kelautan dan Perikanan yang diwakili Sekjen KKP, Rifky E Hardijanto melakukan panen perdana budidaya lele sisitem bioflok…

Produksi TBS Milik Austindo Tumbuh 8%

NERACA Jakarta – Mulai pulihnya harga komoditas dunia, memberikan dampak berarti terhadap bisnis PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT). Pasalnya,…

Bank Dunia Ingatkan Soal Investasi SDM

  NERACA Jakarta - Presiden Grup Bank Dunia Jim Yong Kim mengingatkan pentingnya investasi Sumber Daya Manusia (SDM) untuk mendukung…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Jelang 60 Tahun RI-Jepang - Menperin Pacu Kolaborasi Pengembangan Sektor Industri

NERACA Jakarta – Hampir enam dekade, Indonesia dan Jepang menjadi mitra strategis dalam upaya pembangunan ekonomi kedua negara. Oleh karena…

Produksi Lele Bioflok Sokong Suplai Pangan Berbasis Ikan

NERACA Sleman- Menteri Kelautan dan Perikanan yang diwakili Sekjen KKP, Rifky E Hardijanto melakukan panen perdana budidaya lele sisitem bioflok…

Industri Transportasi - Revolusi Media Digital Untuk Layanan Kereta Api

NERACA Jakarta - Saat ini DKI Jakarta dan sekitarnya sedang menggalakkan pembangunan infrastruktur untuk memenuhi kebutuhan transportasi umum di dalam…