Kemendag Kembali Buka Kran Impor Pangan

Jaga Stabilitas Harga

Selasa, 18/02/2014

NERACA

Jakarta – Indonesia saat ini dirundung bencana, mulai dari banjir hingga gunung meletus. Bencana ini kerap kali menjadikan produksi dan distribusi pangan nasional terganggu, al hasil harga pokok pangan melambung tinggi. Maka dari itu untuk menjaga stabilitas harga pangan nasional, Kementrian Perdagangan (Kemendag) membuka kran impor pangan.

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengatakan dalam rangka menjaga stabilitas harga opsi yang harus dilakukan adalah membuka keran impor. Karena yang terpenting adalah bagaimana dapat membuat harga lebih terjangkau dan tidak memberatkan masyarakat. "Saat ini yang terpenting harus kita pikirkan adalah bagamana harga kebutuhan pokok makanan bisa terkendali, kalau memang produksi dalam negeri tidak mencukupi harus kita impor,” kata Lutfi di Jakarta, Senin (17/2).

Saat ini, sambung dia tidak bisa untuk memproteksi produksi dalam negeri di tengah kebutuhan yang tidak mencukupi. Sehingga untuk membuat harga menjadi terjangkau adalah tambah pasokan melalui impor. "Kita ingin memproteksi produksi dalam negeri tapi pada saat bersamaan, untuk mendapatkan harga terbaik itu ada interaksinya. Jadi itu yang juga harus dijaga, jadi kalau barangnya nggak ada, harga melambung kan, jadi gitu, pokoknya sekarang kita lagi jaga supaya pertandingannya ini seimbang," imbuhnya.

Kendati demikian, dalam dua hari kedepan, pihaknya akan mencari upaya lain untuk membuat harga pangan turun dengan kebijakan yang cepat. Kembali pada target pemerintah adalah kestabilan harga pangan. "Waktu yang kita butuhkan singkat, intinya semua alternative kita pakai dalam rangka menyelesaikan harga pangan dalam waktu jangka pendek ini," terangnya.

Di tempat terpisah Winarno Tohir, Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), pernah mengungkapkan saat ini pemerintah udah keasikan impor, tapi tidak pernah berpikir bagaimana agar bisa meningkatkan produksi khusunya untuk pangan nasional. “Pemerintah saat lebih memilih jalan pintas dengan impor,” katanya.

Harusnya pemerintah sudah mulai untuk bisa lebih meningkatkan produksi nasional terutama untuk sektor pangan yaitu pertanian nasional. Jadi jika ada suatu gejolak seperti bencana atau yang lain produksi tidak terganggu, dan pasokan pangan aman. “Dalam kondisi normal saja impor pangan tinggi, apalagi jika dalam kondisi tertentu seperti ada bencana,” terangnya.

Maka dari itu, Winarno sangat berharap pemerintah untuk peduli dengan pertanian nasional agar produksi sektor pangan bisa dikendalikan, tentu saja dengan memberikan perhatian lebih pada pertanian nasional. “Pangan masalah vital, memang sudah seharusnya pemerintah lebih aware dengan petani nasional,” jelasnya.

Produksi Minim

Lebih jauh Winarno, menjelaskan impor pangan tinggi ini terjadi bukan karena penurunan harga di pasar global, tetapi produksi nasional yang tidak mencapai target. "Impor tinggi bukan karena pelemahan harga komoditas di pasar internasional. Saya melihat dari sisi pengusaha berbisnis, karena memang memanfaatkan produk pangan yang tidak mencukupi kebutuhan dalam negeri," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa harga komoditas di pasar dunia memang masih cenderung turun sejak tahun lalu. Akan tetapi, dengan fluktuasi rupiah justru mengalami pelemahan yang cukup besar. Akibatnya, harga komoditas impor cenderung lebih mahal dibandingkan dengan produk-produk dalam negeri. "Para pengusaha sebenarnya kurang tertarik untuk melakukan impor pangan karena rupiah masih melemah, karena tidak menguntungkan," tutur dia.

Akan tetapi, impor dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Empat dari lima komoditas pangan yang ditargetkan swasembada pangan di tahun ini masih impor. Empat komoditas tersebut antara lain kedelai, jagung, daging sapi, dan gula. "Beras tahun lalu kita tidak impor karena produksi bagus seiring dengan iklim yang baik," ungkap Winarno.

Sekadar informasi, impor kedelai sebanyak 40% dari total konsumsi nasional, impor jagung 20%, impor gula untuk industri seluruhnya, dan daging sapi bakalan dan beku.