Anak Pengungsi Kelud Tetap Peroleh Pendidikan

Sabtu, 22/02/2014

NERACA

Bencana alam yang terjadi di Tanah Air berlangsung cukup lama. Akibatnya, ketika bencana terjadi warga di lokasi pengungsian juga bisa berlangsung berbulan-bulan lamanya. Situasi demikian menyebabkan pendidikan bagi anak-anak pengungsian ikut terbengkalai.

Bagaimana pun juga, dalam kasus bencana yang panjang harus ada perhatian pada pendidikan anak-anak di pengungsian, baik saat bencana maupun pasca bencana. Ini penting agar pendidikan anak-anak di pengungsian tetap berjalan, tidak lagi tertinggal dengan pendidikan di daerah-daerah lain yang terbebas dari bencana.

Anak-anak di posko pengungsian korban erupsi Gunung Kelud misalnya. Ya, anak-anak terpaksa tak bersekolah akibat bencana itu. Bagaimana tidak? Pendidikan anak-anak terhenti karena harus berada dipengungsian, dan sekolah mereka hancur terkena letusan gunung Kelud.

Seperti diketahui, Gunung Kelud di Jawa Timur yang memiliki ketinggian 1.731 meter dari permukaan laut itu, meletus pada Kamis malam pukul 22.50 WIB pekan lalu. Melihat dampak akibat letusan itu, dinas pendidikan setempat diberi wewenang oleh Kemendikbud untuk meliburkan sekolahnya, sampai kondisi membaik.

Tak berhenti sampai disitu, hujan abu vulkanik tidak hanya terjadi di Kediri dan Blitar, yang merupakan kota di bawah kaki gunung itu. Namun juga di daerah lainnya seperti Kebumen, Sidoarjo, Surabaya, Solo, Madiun, Yogyakarta, Sukoharjo, Purwokerto, dan Ciamis.Tak ayal, sejumlah sekolah di Surabaya dan Solo juga turut diliburkan karena hujan abu vulkanik tersebut.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Mohammad Nuh mengatakan, kegiatan belajar-mengajar (KBM) anak-anak pengungsi letusan Gunung Kelud tetap berlangsung meskipun masih berada di pengungsian. "Anak-anak tetap diberikan suasana untuk belajar. Itu yang tidak boleh hilang. Di pengungsian disediakan satu tenda untuk belajar," ujar M. Nuh saat menghadiri musyawarah nasional Himpunan Pengusaha Alumni ITS di Tangerang belum lama ini.

Anak-anak yang berada di pengungsian tersebut diberikan bimbingan untuk menghilangkan trauma pascabencana.Hal tersebut dilakukan agar anak-anak tidak terjebak dalam peratapan atau duka berkepanjangan.

Pada tenda tersebut terdapat simbol-simbol sekolah seperti mobil pintar dan komputer. Hal itu dilakukan agar suasana belajar tetap ada. Saat ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyiapkan satu tenda untuk belajar.

"Kemendikbud juga punya kelas tenda yang diberikan Unicef. Tendanya tidak seperti tenda biasa, panjang. Di Sinabung juga memakai kelas tenda," kata dia.

Guru-guru yang mengajar, sambung dia, adalah guru yang ikut mengungsi. Untuk itu perlu koordinasi dengan sekolah-sekolah yang tidak terkena dampak letusan.

"Sehingga proses belajar-mengajar bisa dilakukan di sekolah itu. Misalnya sekolah itu pagi, nah adik-adik pengungsi bisa sekolah pada siang harinya," ujar dia.