Kinerja Positif, Saham ADHI dan WSKT Atraktif

Senin, 17/02/2014

NERACA

Jakarta- Di tengah tertekannya beberapa industri dalam negeri, konstruksi menjadi salah satu sektor industri padat modal yang bisa dibilang cukup cemerlang. Lihat saja, menyusul positifnya rilis laporan keuangan yang baru saja dikeluarkan PT Adhi Karya Tbk (ADHI), emiten konstruksi seperti PT Waskita Karya Tbk (WSKT) juga mencatatkan untung yang tidak sedikit.

Tercatat, laba bersih tahun berjalan perseroan hingga akhir Desember 2013 mengalami peningkatan sebesar 44,85% menjadi Rp367,97 miliar dari laba bersih tahun berjalan 2012 sebesar Rp254,03 miliar. Terjadinya peningkatan tersebut antara lain dipicu melonjaknya keuntungan selisih kurs yang mengalami peningkatan sebesar 871,56% menjadi Rp20,5 miliar.

Selain itu, dalam keterangan resmi yang dirilis akhir pekan kemarin (14/2), beban keuangan perseroan mengalami penurunan menjadi Rp96,85 miliar dari tahun sebelumnya sebesar Rp169,58 miliar. Adapun pendapatan usaha perseroan meningkat menjadi Rp9,68 triliun dari pendapatan usaha tahun sebelumnya sebesar Rp8,81 triliun.

Sementara laba kotor yang dicatatkan meningkat menjadi Rp910,69 miliar dari laba kotor tahun sebelumnya sebesar Rp732,25 miliar. Total aset yang dicatatkan perseroan hingga akhir tahun 2013, yaitu sebesar Rp8,78 triliun dari tahun sebelumnya senilai Rp8,36 triliun.

Memang, masifnya proyek pembangunan seperti pembuatan jalan, apartemen dan renovasi gedung menjadi berkah tersendiri bagi para kontraktor. Utamanya, untuk perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang sebagian besar memiliki mandat untuk menyelesaikan proyek-proyek tersebut. Jika dicermati, kapitalisasi saham-saham konstruksi pun saat ini masih didominasi oleh emiten pelat merah, sehingga tidak heran mampu memikat gairah investor.

Hal ini bisa dilihat dari apresiasi para investor terhadap saham tersebut. Sepanjang 52 minggu terakhir, saham WSKT tercatat di harga Rp1.080 sebagai harga tertingginya, dan harga terendahnya Rp400. Adapun pada perdagangan akhir pekan kemarin (14/2), saham emiten konstruksi pelat merah ini tercatat naik 2,46% di harga Rp625 dari harga sebelumnya Rp610. Sementara untuk saham ADHI, pada perdagangan akhir pekan kemarin tercatat mengalami kenaikan 4,15% di harga Rp2.010, dibanding hari sebelumnya yang berada di harga Rp1.930.

Adapun sepanjang 52 minggu terakhir sempat mencapai harga tertingginya di harga Rp4.000 dan harga terendahnya Rp1.425. Diketahui, kinerja keuangan ADHI masih cukup solid pada 2013, dengan peningkatan laba bersih sekitar 91,86% menjadi Rp405,97 miliar dari sebelumnya sebesar Rp211,59 miliar. Sementara itu, laba bersih per saham menjadi Rp225,38 dari sebelumnya Rp117,46 per saham di 2012.

Pendapatan usaha perseroan pada tahun 2013 menjadi Rp9,79 triliun, dari sebelumnya sebesar Rp7,62 triliun. Sementara beban pokok pendapatan sebesar Rp8,60 triliun dari sebelumnya Rp6,67 triliun. Total aset yang dicatatkan pada akhir tahun 2013 mencapai Rp9,72 triliun dari tahun sebelumnya Rp7,87 triliun, dengan saldo kas dan setara kas di akhir tahun 2013 sebesar Rp1,93 triliun.

Menilik kinerja emiten konstruksi dan kondisi perekonomian yang diprediksi akan lebih baik, sektor ini pun dinilai masih akan positif pada tahun ini. Kecuali jika terjadi kenaikan suku bunga dan pelaksanaan pemilihan umum (Pemilu) harus berjalan tidak seperti yang diharapkan. Bukan mustahil, hal ini bisa menjadi kendala terhadap sejumlah kontrak para emiten konstruksi. (lia)