Targetkan Ekspor US$ 5 Miliar, AMKRI Tolak SLVK

Senin, 17/02/2014

NERACA

Jakarta – Di tengah melebarnya defisit neraca perdagangan Indonesia, berbagai upaya memang harus dilakukan untuk menggenjot ekspor berbagai macam komoditas yang bahan bakunya sudah barang tentu melimpah di dalam negeri. Dengan tujuan apabila diolah terlebih dahulu akan mendapatkan nilai tambah yang besar. Untuk industri agro, para pengrajin rotan ,mebel dan kayu meminta kepada pemerintah untuk menunda atau membatalkan peraturan Sistem Legalitas Verifikasi Kayu (SLVK) karena, peraturan ini dianggap sebagai penghambat kinerja ekspor mereka yang sedang meningkat.

Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia (AMKRI), Soenoto mengatakan dalam 5 tahun kedepan, pihaknya menargetkan ekspor furniture dan kerajinan mencapai US$ 5 miliar tentu saja ditopang dengan pertumbuhan ekspor yang tidak kecil juga, yaitu sebesar 25 % pertahun. “Kami yakin target tersebut bisa tercapai dan didukung dengan aturan dari pemerintah juga. Secara tegas kami (AMKRI) menolak SVLK, karena akan menghambat kami sebagai pengrajin furniture untuk berkembang dan meningkatkan ekspor, Furniture ke berbagai negara," jelas Soenoto di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Lebih lanjut Soenoto mengatakan dalam penerapan SVLK sikap pemerintah harus tegas kepada bandar bandar besar kayu, jangan kami yang hanya pengrajin kayu yang ditindak.Ini jelas tidak adil karena akan menyulitkan sektor usaha kami yang terbilang kecil. "SVLK sebaiknya di,moratorium atau direimburse, karena banyak hal-hal yang tidak relevan,terhadap kami para pengrajin" tuturnya.

Menurut Soenoto, jika SLVK diterapkan pada awal tahun ini saja, pengusaha bisa kehilangan lebih dari US$ 1 miliar potensi ekspor produksi kayu dalam negeri. Penundaan SLVK itu, karena sebagian besar pengusaha belum memiliki SLVK pada sektor usaha kecil dan menengah yang masih kesulitan mendapatkan sertifikasi terhambat biaya dan birokrasi perizinan.

Menurut data yang ada, saat ini ekspor mebel Indonesia hanya berada di peringkat 13, dengan nilai US$ 1,7 miliar atau sebesar Rp 20,2 triliun. Nilai itu, ujarnya, dari total ekspor mebel dunia yang mencapai US$ 112 juta.

Sebelumnya, Furniture dan industri kerajinan dari sektor-sektor strategis dengan tujuan dapat memiliki suara signifikan terhadap pertumbuhan negara. Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian ( Kemenperin ) tetap mendorong pengembangan industri sebagai Indonesia memiliki probabilitas menimpa produsen utama furnitur dan kerajinan di wilayah tersebut, bahkan diprediksi menjadi utama di bumi, terutama dalam mendukung produk berbasis rotan.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Jenderal Industri Agro Panggah Susanto mengatakan menjadi indikasi yang indah untuk dapat dengan cepat dimasukkan ke dalam program aksi bersekutu dengan memperluas ekspor dan target produksi pada furnitur dan kerajinan industri, sektor ini mampu mempromosikan ke kontribusi besar untuk keuntungan yang dikelola negara dan lapangan kerja.

Mengambil bagian dalam kaitannya dengan memperluas ekspor furnitur dan kerajinan industri, di samping melalui penerapan prosedur dengan tujuan melarang ekspor rotan pasokan baru, Departemen Perindustrian ditambah melakukan kegiatan promosi melalui pameran untuk memperkenalkan superior produk furnitur di samping dikelola negara dan tingkat internasional.

Pada tingkat internasional, Kementerian Perindustrian hari ini untuk mendukung pameran furniture, antara lain, The koleksi ke-19 International Furniture Expo, koleksi International Furniture Fair CIFF Home Furniture, Desain Pameran International ( Index ) di Dubai, National Furniture Trade Fair di dukungan dari Northeastern Daerah Brazil, dan FIDexpo, Pameran Internasional Rusia.

Pameran ini diikuti industri furnitur yang dikelola negara untuk memasuki pasar Afrika, Amerika Latin, India, dan Rusia, yang mengontrol bazaar bakat didominasi oleh koleksi dan Vietnam. Oleh karena itu, terus memperluas pangsa pasar dan negara dengan produk kerajinan mebel di negara-negara dengan tujuan tumbuh.

Beberapa program dengan tujuan kontrol dilaksanakan dalam olahraga dasar desain furniture, antara lain, pelaksanaan Pelatihan dan kemajuan HR kompetensi desain furniture, Pelaksanaan Lomba Desain Furniture sebagai bagian dari desain pengembangan silabus sorot, desain furniture Pelaksanaan lokakarya dan Pengembangan Design Center Furniture di Jepara dan Cirebon.

Pada kesempatan yang sama, Sekertaris Jenderal AMKRI, Sobur mengatakan diadakan Indonesia saat ini memiliki keunggukan komparatif mebel dan kerajinan industri, antara lain, ketersediaan pasokan baru dari hutan yang memuaskan, makhluk pendapatan manusia berlebihan jumlah yang cukup, dan pertumbuhan iklim investasi yang menjanjikan.