Pemerintah Ingin Bisa Ekspor Unggas Lagi di 2020

Senin, 17/02/2014

NERACA

Jakarta - Indonesia pernah menjadi salah satu negara terbesar untuk ekspor unggas, hanya saja maraknya flu burung (Avian Influenza/ AI) yang mulai menyerang unggas nasional pada tahun 2003 lalu menjadikan unggas nasional dijegal dan tidak lagi bisa masuk ke negara lain. Kendati demikian, pemerintah menargetkan tahun 2020 Indonesia sudah bisa lagi ekspor unggas.

Pudjiatmoko, Direktur Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan) mengatakan Berdasarkan laporan tim Participatory Diseases Surveillans and Respons/PDSR sejak 2007 s/d 2014 perkembangan kasus AI pada unggas menunjukkan trend penurunan yang cukup signifikan setiap tahunnya. Pemerintah menargetkan paling lama tahun 2020 Indonesia sudah terbebas dari virus flu burung yang menyerang unggas nasional.

“Indonesia pernah menjadi negara pengekspor unggas sebelum virus flu burung menyerang unggas nasional, tapi setelah masuknya virus flu burung menyerang pada 2003 lalu Indonesia tak bisa lagi ekspor unggas. Kami menargetkan paling lama Indonesia sudah bebas dari virus flu burung pada 2020 dan sudah bisa kembali ekspor,” katanya pada acara konfersi pers tentang Tingkat Kewaspadaan Wabah AI di Jakarta, Jumat (14/2).

Sebelum virus flu burung menerpa, sambung Pudjiatmoko, Indonesia mensuplai daging dan telor ayam untuk Negara Singapura, Japan, dan Korea, tapi setelah flu burung menyerang Negara tersebut tidak lagi menerima produk kami. Dan untuk saat ini Indonesia merupakan negara ke 5 terbesar dunia industri pengunggasan dengan didominasi oleh 70% industry pengunggasan besar dan 30% industry kecil dengan populasi ternak sekitar 46 juta ternak per tahunnya. “Maka dari itu, pemerintah terus mendorong upaya pembersihan flu burung ini, agar Indonesia bisa ekspor unggas lagi,” imbuhnya.

Sebelumnya, Direktur Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Syukur Iwantoro mengatakan saat ini pemerintah sedang melakukan penjajakan untuk membuka kembali peluang ekspor produk ayam olahan ke Jepang setelah sempat terhenti lama. "Pada tahun 2000-an Indonesia telah melakukan ekspor daging ayam beku ke Jepang, namun dengan adanya outbreak penyakit flu burung di Indonesia, ekspor ini menjadi terhenti,” katanya.

Penjajakan dibukanya kembali ekspor produk ayam ke Jepang dilakukan untuk meningkatkan usaha industri perunggasan dalam negeri. “Apabila ekspor produk ayam olahan ke Jepang dibuka kembali, maka dapat meminimalkan fluktuasi harga pasar dalam negeri yang sering terjadi begitu tajam selama ini. Sehingga pada akhirnya diharapkan dapat menciptakan iklim usaha industri perunggasan lebih kondusif,” jelas Syukur.

Lebih lanjut Syukur meminta agar para investor Jepang dapat berinvestasi di bidang usaha peternakan khususnya sapi potong di Indonesia. "Dalam waktu dekat para investor Jepang akan datang ke Indonesia untuk menjajaki kemungkinan tersebut," terangnya.

Penyumbang Besar

Industri perunggasan Indonesia merupakan penyumbang terbesar terhadap PDB pertanian selain kelapa sawit. Hal ini mengindikasikan bahwa industri perunggasan telah memiliki peran yang makin besar dalam pertumbuhan ekonomi nasional.

Tidak kalah pentingnya adalah usaha perunggasan ikut berperan dalam meningkatkan kesehatan dan kecerdasan masyarakat. Produk unggas berupa daging ayam dan telur merupakan sumber protein yang berkualitas dengan harga terjangkau. Saat ini 65% daging konsumsi daging masyarakat Indonesia berasal dari daging ayam.

Dari sisi ekonomi, perunggasan telah menyerap 2,5 juta tenaga kerja langsung dengan total omzet berkisar Rp.120 triliun per tahun. Lapangan kerja di pedesaan dapat berkembang dengan adanya usaha peternakan unggas sehingga dapat menghambat laju urbanisasi ke kota. Disamping itu perunggasan juga merupakan faktor penggerak industri terkait lainnya di bidang pertanian, antara lain usaha budidaya jagung, usaha dedak padi dan sebagainya.

Kalau melihat Seminar Nasional Perunggasan ke 8 tahun pada 2012 lalu yang diselenggarakan ASOHI, diprediksi produksi DOC broiler Tahun 2013 mencapai 2,2 miliar ekor. Seiring pertumbuhan ekonomi, pelaku usaha perunggasan optimis bahwa tahun 2017 mendatang konsumsi daging dan telur ayam akan meningkat 2 kali lipat (double comsumption) dibanding konsumsi 2012.

Krissantono, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), kondisi ekonomi nasional sedang tidak kondusif nilai tukar yang fluktuatif menyebabkan pelaku usaha perunggasan perlu melakukan sejumlah langkah untuk mengamankan investasi. “Kondisi ekonomi mengganggu bisnis perunggasan secara umum. Tapi begitu produktifitas dan peningktan produksi memang harus terus didorong terus minimal untuk pemenuhan konsumsi dalam negeri. Harapannya jika sudah bersih dari flu burung, bisa kembali ekpansi untuk pemenuhan ekspor,” katanya.

Topik Terkait

pengunggasan