Indonesia Genjot Ekspor ke Negeri Ginseng

Manfaatkan ASEAN-Korea Center

Senin, 17/02/2014

NERACA

Jakarta - Kinerja ekspor tahun 2013 cukup baik. Pasalnya ditengah melemahnya ekonomi global, namun ekspor Indonesia bisa melebihi target. Namun demikian, pemerintah masih belum puas dengan pencapaian tersebut. Kali ini, pemerintah mengandalkan ASEAN-Korea Center (AKC) untuk memperkuat kinerja ekspor Indonesia ke Korea. Hal tersebut seperti diungkapkan Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Nus Nuzulia Ishak, dalam keterangan persnya, akhir pekan kemarin.

"Indonesia akan memanfaatkan ASEAN-Korea Centre yang terdiri dari tiga pilar kegiatan, yaitu perdagangan dan investasi (trade and investment chapter), budaya dan pariwisata (culture and tourism chapter), hubungan masyarakat dan informasi (public relations and information chapter), agar Indonesia dapat mengambil manfaat dari keterbukaan pasar Korea yang lebih terintegrasi yang pada akhirnya dapat memperkuat kinerja ekspor Indonesia di pasar Korea," ungkap Nus.

Nus juga menyampaikan program AKC, terutama pilar perdagangan dan investasi. telah memberikan kontribusi dan manfaat bagi perdagangan dan investasi Korea ke Indonesia dan Indonesia ke Korea. Ke depannya, sambung dia, diharapkan dapat dilakukan penajaman terhadap kegiatan AKC guna meningkatkan utilisasi ASEAN-Korea FTA sehingga mampu meningkatkan kinerja ekonomi antara negara anggota ASEAN dan Korea.

Nus mengakui bahwa sejauh ini AKC telah melaksanakan 23 program kerja di tahun 2013 dan program kerja ini akan lebih diintensifkan pada tahun 2014, bahkan ditambahkan program khusus guna memperingati lima tahun berdirinya AKC dan peringatan ulang tahun ke-25 terbentuknya ASEAN-Korea Dialogue Partnership. "Untuk tahun anggaran 2014, kontribusi Pemerintah Korea untuk program program AKC ini meningkat 10%, mencapai KRW 6,6 miliar atau senilai US$ 6,254 juta," ungkapnya.

Lebih jauh lagi, Nus menyatakan Indonesia akan terus berperan aktif dalam program kegiatan AKC dan memanfaatkannya secara optimal guna meningkatkan daya saing produk-produk unggulan dan potensial Indonesia, seperti furnitur, tekstil, makanan dan minuman olahan, serta kulit dan produk kulit sehingga mampu bersaing di pasar Korea dan kawasan ASEAN, serta meningkatkan kapasitas sumber daya baik UKM maupun aparat Kementerian Perdagangan.

Guna mencapai tujuan tersebut, lanjut Nus, AKC diharapkan tidak hanya fokus pada upaya meningkatkan kapasitas produsen atau eksportir melalui pameran, kunjungan perdagangan dan investasi, serta pertukaran budaya, tetapi juga meningkatkan kapasitas UKM dan pemangku kepentingan. "Hal ini antara lain dapat dilakukan melalui diseminasi informasi mengenai akses pasar, pelatihan atau workshop bagi UKM dan pemangku kepentingan di Indonesia, serta penyusunan strategi promosi ekspor untuk produk-produk Indonesia," imbuhnya.

Sekedar informasi, AKC merupakan pusat kerja sama ASEAN Korea (trade and investment, tourism and culture, public relations and information) yang aktivitasnya dibiayai oleh Republik Korea dengan prioritas kerja untuk penguatan hubungan ekonomi, investasi, budaya dan pariwisata antara negara-negara anggota ASEAN dan Korea, pengembangan UKM, peningkatan kemampuan wirausaha di kawasan, serta kemampuan sumber daya manusia Trade Promotion Organization (TPO) di negara anggota ASEAN.

ASEAN-Korea Center (AKC) dibentuk pada tahun 2009 sebagai bentuk realisasi komitmen para pemimpin di bidang ekonomi dan sosial budaya yang disampaikan pada. ASEAN-ROK Summit ke-12. AKC beranggotakan 10 negara ASEAN dan Republik Korea. Hingga saat ini, AKC telah menyelenggaran 107 kegiatan yang meliputi promosi perdagangan dan investasi, pertukaran pariwisata dan budaya, serta hubungan masyarakat dan pengembangan informasi.

Tidak Mudah

Sebelumnya, Direktur Pengembangan Ekspor Kemendag Dody Edward juga sempat mengungkapkan bahwa untuk menembus pasar ekspor ke Korea bukanlah hal mudah. Syaratnya adalah memperhatikan hal yang dipersyaratkan atau kebiasaan pasar agar produk dari Indonesia bisa menembus pasar ekspor. Menurut dia, ada beberapa yang harus diperhatikan. "Di samping selera masyarakat, pemerintah Korea Selatan sangat tegas terhadap upaya perlindungan konsumen. Ada beberapa standar kesehatan yang harus segera diketahui oleh eksportir produk makanan olahan," tutur Dody.

Dia menjelaskan saat ini Indonesia telah menjalin kerja sama dengan ASEAN-Korea Centre (AKC). Kerja sama ini bertujuan untuk membuka akses pasar bagi negara-negara di kawasan Asean ke Korea Selatan, maupun sebaliknya. Kerja sama tersebut, lanjutnya, bisa memberikan wawasan dan pengetahuan kepada para pelaku usaha Indonesia dalam meningkatkan kualitas produk yang sesuai dengan selera pasar. Terlebih, pihak AKC akan memberikan panduan dalam menentukan strategi pemasaran yang efektif termasuk prosedur ekspor. Kerja sama AKC ini bisa menjadi penghubung informasi dan bimbingan kepada eksportir.

Dia mengungkapkan beberapa sektor yang akan digenjot pengapalannya ke Korea Selatan adalah produk makanan, produk perikanan, dan produk pertanian. Rincinannya antara lain produk karet, minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), elektronik, mebel, alas kaki, produk perikanan, dan produk makanan olahan.

Dody menyebutkan produk ekspor Indonesia saat ini yang telah mendapatkan respon baik dari masyarakat Korea Selatan diantaranya ban, kerupuk udang, biskuit, dan bubuk coklat. Khusus untuk produk makanan olahan, pasar Korea Selatan menyerap US$67 juta dari US$8 miliar total ekspor Indonesia ke seluruh dunia.

Nilai ekspor makanan Indonesia ke Korea mengalami peningkatan sepanjang 2008-2012. Pada 2008 nilai ekspor mencapai US$36,7 juta dan meningkat hingga 80,4% menjadi US$66,2 juta pada 2012. Adapun, nilai ekspor produk perikanan dan pertanian tahun lalu mencapai US$53,2 juta dan US$29,9 juta.

Secara umum, Kementerian Perdagangan (Kemendag) menargetkan ekspor 2013 mencapai US$179 miliar, sementara realisasi ekspor tahun 2013 telah mencapai US$182,6 miliar. Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi menilai pencapaian ini perlu diapresiasi. Pasalnya pada 2013, keadaan ekonomi global sedang tidak menentu sehingga membuat ekspor jadi tertahan. Menurut dia, hal ini cukup positif, karena di 2013 tidak mudah dalam menggenjot ekspor lantaran pasar belum sepenuhnya pulih. Dengan capaian tersebut, Bayu merasa optimis kinerja ekspor di 2014 akan jauh lebih baik dari pada 2013.