CAD Diprediksi Turun - Triwulan I 2014

NERACA

Jakarta - Kementerian Keuangan memprediksi bahwa defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) akan turun pada triwulan I-2014, karena adanya perlambatan dari sektor impor. Menurut Wakil Menteri Keuangan, Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, sektor ekspor memberikan kontribusi dalam neraca transaksi berjalan pada triwulan pertama, karena nilai rupiah yang sempat mengalami pelemahan terhadap dolar AS dapat membantu kinerja ekspor produk manufaktur.

"PPh (pajak penghasilan) impor kita baru efektif pada Januari kemarin. Mudah-mudahan itu bisa membantu memperkuat tekanan dari impor barang konsumsi. Ditambah lagi dengan nilai rupiah yang terdepresiasi juga bisa membantu, terutama produk-produk manufaktur kita volumenya bisa lebih tinggi,” ujar Bambang di Jakarta, Jumat (14/2) pekan lalu.

Dia juga memperkirakan defisit neraca transaksi berjalan pada triwulan I-2014, tidak terlalu jauh dari angka defisit transaksi berjalan pada triwulan IV-2013 yang tercatat sebesar 1,98% terhadap PDB atau sebesar US$4 miliar. "(CAD di triwulan empat) bagus dibawah dua persen. Seandainya ada penurunan mudah-mudahan tidak terlalu jauh dari dua persen," terangnya.

Tirta Segara, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia menambahkan, Bank Indonesia memperkirakan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada 2014 akan lebih baik dan ditopang oleh cadangan devisa (cadev) yang meningkat. “Prospek perbaikan NPI 2014 diperkirakan menurunnya defisit neraca transaksi berjalan, serta didorong prospek perekonomian global yang menguat di tengah perekonomian domestik yang diperkirakan masih melakukan konsolidasi,” ujarnya, kemarin.

Lebih lanjut Tirta mengungkapkan, perbaikan perekonomian global yang akan diikuti membaiknya harga komoditas ekspor Indonesia diperkirakan dapat mendukung peningkatan ekspor nonmigas. Sementara itu, impor nonmigas diprakirakan lebih terkendali seiring penyesuaian permintaan konsumsi domestik.

Prospek NPI 2014 yang membaik juga didorong perkiraan meningkatnya surplus transaksi modal finansial sejalan sentimen positif investor asing terhadap prospek penanaman modal di Indonesia. “Ke depan, Bank Indonesia akan terus mencermati risiko yang bersumber dari perekonomian global, terutama risiko dari normalisasi kebijakan The Fed dan risiko dari melambatnya ekonomi China yang dapat mempengaruhi prospek kinerja NPI,” terangnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Chatib Basri memperkirakan defisit neraca transaksi berjalan sepanjang 2014 akan berada pada kisaran 2%-2,5% terhadap PDB, meskipun neraca transaksi berjalan selalu mengalami fluktuasi per triwulannya. "Siklus CAD itu biasanya triwulan satu menurun defisitnya, kemudian meningkat di triwulan dua, dan nanti di triwulan tiga dan empat akan kembali menurun. Polanya memang selalu begitu," kata dia. [ardi]

BERITA TERKAIT

Pemerintah Yakin Dana Amnesti Pajak Tidak Kembali ke Asing

    NERACA   Jakarta - Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan menyatakan hingga masa penahanan dana (holding period)…

Eksploitasi Air Tanah Sebabkan Penurunan Tanah Jakarta

    NERACA   Jakarta - Penurunan tanah (landsubsidence) di DKI Jakarta salah satu faktornya adalah disebabkan eksploitasi air tanah…

Internet Lambat Ikut Hambat Bisnis

    NERACA   Jakarta - Lembaga riset global Legatum Institute mengungkapkan bahwa koneksi internet yang lambat dan bandwidth jaringan…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Haris Azhar Bakal Laporkan Majelis Hakim PT Jakarta ke KY dan Bawas - Diduga Tak Periksa Berkas Banding

      NERACA   Jakarta - Jaksa berprestasi Chuck Suryosumpeno tidak pernah lelah untuk menuntut keadilan hukum di Indonesia.…

ITDC Fokus Kembangkan The Mandalika - Katalisator Pembangunan Ekonomi NTB

    NERACA   Jakarta - PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), BUMN pengembang dan…

UMP 2020 Disebut Masih Mengacu PP 78 Tahun 2015 Tentang Pengupahan

    NERACA   Jakarta - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyebutkan besaran upah minimum provinsi (UMP) untuk 2020 diperkirakan masih…