Surplus Neraca Perdagangan Barang Tekan CAD

Senin, 17/02/2014

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia menilai penurunan defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) pada kuartal IV 2013 lantaran didukung oleh naiknya surplus neraca perdagangan barang. Secara spesifik, Kepala Grup Neraca Pembayaran Bank Indonesia, Endy Dwi Tjahjono menuturkan, surplus neraca perdagangan barang yang dimaksud yakni meningkatnya surplus neraca perdagangan nonmigas serta menyempitnya defisit neraca perdagangan migas.

Surplus neraca perdagangan nonmigas meningkat karena ekspor nonmigas kembali tumbuh positif sebesar 3,8% (year on year/yoy) yang didukung kenaikan ekspor manufaktur sejalan meningkatnya permintaan dari Amerika Serikat dan Jepang. Selain itu, lanjut Endy, ekspor nonmigas tumbuh juga karena nilai tukar rupiah yang cukup kompetitif, dan koreksi harga komoditas yang semakin terbatas.

“Di samping itu, tumbuhnya ekspor nonmigas didorong pula oleh peningkatan ekspor sumberdaya alam (SDA) terkait dengan antisipasi pemberlakuan Undang-Undang tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (UU Minerba),” ungkap Endy di Jakarta, Jumat (14/2) pekan lalu.

Sementara itu, pertumbuhan impor nonmigas mencatat kontraksi sebesar 6,6% (yoy) sejalan dengan moderasi permintaan domestik. Endy menambahkan, di tengah masih berlanjutnya ketidakpastian pasar keuangan global, transaksi modal dan finansial di triwulan IV-2013 mencatat surplus sebesar US$9,2 miliar, atau meningkat dibandingkan triwulan III 2013 yang hanya surplus US$5,6 miliar.

"Kenaikan surplus transaksi modal finansial terutama didorong meningkatnya penarikan pinjaman luar negeri swasta dan penarikan simpanan bank domestik di luar negeri, yang sebagian ditempatkan pada beberapa instrumen yang disediakan Bank Indonesia," kata Endy.

Selain itu, arus masuk investasi langsung asing (foreign direct investment/FDI) pada triwulan IV 2013 tetap kuat, meskipun lebih rendah dibandingkan dengan perolehan FDI di triwulan III 2013 akibat divestasi beberapa perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA). Di samping itu juga, investasi portofolio asing juga masih tercatat surplus, walaupun menurun akibat berkurangnya penempatan nonresiden di pasar saham domestik.

Tetap defisit

Dengan demikian, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan IV-2013 tercatat surplus sebesar US$4,4 miliar, setelah selama tiga triwulan terakhir mengalami defisit. Meskipun begitu, secara year on year, NPI keseluruhan di 2013 tercatat masih defisit sebesar US$7,3 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mengalami surplus US$0,2 miliar.

Di satu sisi, defisit NPI 2013 dipengaruhi melebarnya CAD menjadi US$28,5 miliar atau 3,26% dari PDB), lebih besar daripada defisit pada 2012 yang sebesar US$24,4 miliar atau 2,78% dari PDB). Perkembangan ini dipengaruhi melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia dan turunnya harga komoditas global, yang kemudian berdampak pada penurunan ekspor Indonesia yang banyak berbasis sumberdaya alam.

Defisit neraca transaksi berjalan juga dipengaruhi belum kuatnya kapasitas produksi domestik dalam memenuhi kebutuhan bahan baku dan barang modal serta kebijakan energi nasional yang belum optimal, yang pada gilirannya mendorong masih besarnya impor, meskipun telah mencatat pertumbuhan negatif di 2013.

Selain itu, neraca jasa dan neraca pendapatan yang masih mencatat defisit juga berpengaruh pada defisit neraca transaksi berjalan. Namun pada sisi lain, defisit NPI 2013 juga berasal dari berkurangnya surplus transaksi modal dan finansial dari sebelumnya US$24,9 miliar pada 2012 menjadi US$22,7 miliar pada tahun lalu. [ardi]