Indeks BEI Awal Pekan Dihantui Profit Taking

Senin, 17/02/2014

NERACA

Jakarta – Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) sepanjang perdagangan akhir pekan kemarin, berada di zona hijau karena dipicu aksi beli selektif yang dilakukan investor di seluruh lapisan saham. Alhasil, indeks sempat berada di level tertingginya di 4.512,749. Saham unggulan yang menjadi incaran diawal perdagangan langsung kompak menguat. Tercatat mengakhiri perdagangan Jum’at kemarin, indeks BEI ditutup menguat 16,384 poin (0,36%) ke level 4.508,044. Sementara Indeks LQ45 naik 2,915 poin (0,39%) ke level 757,592.

Menurut analis HD Capital, Yuganur Wijanarko, menguatnya indeks BEI disuport sentiment positif dari marko ekonomi, “Kami melihat bahwa sentimen positif dari segi makro ekonomi domestik masih tercermin di pergerakan harga IHSG yang kembali mengalami penguatan," katanya di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Dia menambahkan, saham konsumer dan ritel secara teknikal masih cukup kuat untuk melanjutkan penguatan. Kendati demikian, lanjut dia, beberapa saham cenderung memasuki jenuh beli harian sehingga diperkirakan kenaikan indeks BEI lebih lanjut bisa kurang optimal.

Dia merekomendasikan beberapa saham yang dapat diperhatikan untuk Senin(17/2) awal pekan diantaranya Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA), Indofood Sukses Makmur (INDF), Ace Hardware Indonesia (ACES), Ramayana Lestari Sentosa (RALS).

Sementara Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada menambahkan, pelaku pasar asing yang masih mencatatkan beli saham menjadi salah satu penopang indeks BEI meningkat. Dalam data perdagangan efek di BEI tercatat beli bersih asing (net buy) senilai Rp44,44 miliar pada akhir pekan kemarin.

Menurut dia, IHSG pada akhir pekan masih mencoba untuk tetap bertahan di area positif, namun beberapa pelaku pasar yang mencoba untuk melepas saham untuk ambil untung juga besar,”Adanya potensi untuk 'profit taking' dapat mengubah arah IHSG. Waspadai pergerakan IHSG selanjutnya,"ungkapnya.

Untuk perdagangan saham Senin awal pekan, diproyeksikan akan bergerak terkoreksi seiring sikap investor untuk mengambil untung selama sepekan yang mengalami penguatan cukup signifikan. Perdagangan kemarin, tiga sektor masih terjebak negatif, sektor tambang, industri dasar dan manufaktur. Saham-saham konstruksi memimpin penguatan bersama enam sektor lainnya.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 159.802 kali pada volume 3,891 miliar lembar saham senilai Rp 5,144 triliun. Sebanyak 175 saham naik, sisanya 107 saham turun, dan 79 saham stagnan. Bursa-bursa di Asia bergerak variatif akhir pekan kemarin. Data ekonomi AS yang kurang bagus membuat sebagian pelaku pasar regional menahan diri untuk bertransaksi.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Goodyear (GDYR) naik Rp 1.500 ke Rp 19.500, Lionmesh (LMSH) naik Rp 550 ke Rp 7.050, Matahari (LPPF) naik Rp 450 ke Rp 13.350, dan Mayora (MYOR) naik Rp 300 ke Rp 28.700. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Citra Tubindo (CTBN) turun Rp 1.100 ke Rp 4.650, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 700 ke Rp 43.650, HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 500 ke Rp 69.250, dan United Tractor (UNTR) turun Rp 325 ke Rp 18.300.

Perdagangan sesi pertama, indeks BEI ditutup menguat 8,066 poin (0,18%) ke level 4.499,726. Sementara Indeks LQ45 menguat 1,414 poin (0,19%) ke level 756,091. Investor tidak terlalu semangat berburu saham. Hanya beberapa saham unggulan saja yang bisa menguat, sisanya terkena aksi ambil untung sehingga membuat penguatan indeks tersendat.

Perdagangan sesi pertama berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 86.539 kali pada volume 2,1 miliar lembar saham senilai Rp 2,737 triliun. Sebanyak 155 saham naik, sisanya 81 saham turun, dan 82 saham stagnan. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Goodyear (GDYR) naik Rp 1.000 ke Rp 19.000, Matahari (LPPF) naik Rp 525 ke Rp 13.425, Lionmesh (LMSH) naik Rp 500 ke Rp 7.000, dan Mayora (MYOR) naik Rp 350 ke Rp 28.750.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Citra Tubindo (CTBN) turun Rp 1.100 ke Rp 4.650, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 500 ke Rp 43.850, Indocement (INTP) turun Rp 375 ke Rp 21.975, dan Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 325 ke Rp 27.175.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka menguat sebesar 12,99 poin atau 0,29% ke posisi 4.504,65. Sedangkan indeks 45 saham unggulan (LQ45) menguat 3,37 poin (0,45%) ke level 758,05,”Sejumlah pernyataan yang berkenaan pandangan baik terhadap ekonomi Indonesia menjadi sinyal positif terhadap indeks saham Indonesia seperti, pernyataan Menteri Keuangan bahwa 'cash flow' pemerintah dalam posisi aman," kata Head of Research Valbury Securities, Alfiansyah.

Alfiansyah menambahkan, nilai tukar rupiah yang mulai stabil menyusul kondisi ekonomi domestik maupun global terutama China yang diperkirakan membaik ikut mempengaruhi neraca perdagangan Indonesia. Hal itu akan semakin menyempitnya defisit neraca transaksi berjalan. Stabilitas dari nilai tukar rupiah berdampak positif bagi pergerakan IHSG.

Tercatat bursa regional, diantaranya indeks Hang Seng dibuka menguat 131,98 poin (0,60%) ke level 22.297,51, indeks Nikkei turun 38,49 poin (0,26%) ke level 14.496,25 dan Straits Times melemah 1,72 poin (0,06%) ke posisi 3.038,18. (bani)