Persiapan Masa Pensiun Belum Jadi Prioritas Utama

Lebih dari separuh investor belum merencanakan masa pensiun. Bahkan, banyak dari mereka salah dalam membuat perhitungan.

NERACA

Masyarakat Indonesia mulai menunjukkan kesadaran akan pentingnya perencanaan masa pensiun. Mereka sadar bahwa masa pensiun yang diidamkan tidak akan tercapai tanpa adanya perencanaan. Namun, dari hasil survei terbaru Manulife Investor Sentiment Index (MISI) untuk kuartal keempat 2013 menunjukkan, orang semakin menyadari bahwa masa pensiun akan membutuhkan biaya yang lebih besar daripada yang diperkirakan sebelumnya dan mereka harus menanggung sendiri pengeluaran tambahan yang ada.

“Yang kami lihat adalah pendekatan yang semakin bijak terhadap masa pensiun di Indonesia. Jumlahnya masih sedikit, karena masih banyak orang yang belum merencanakannya, dan bahkan mereka yang telah memiliki rencana pensiun masih menyepelekan kebutuhan masa depan mereka. Namun demikian melihat orang Indonesia menyadari bahwa mereka harus mengatasi kekurangan ini merupakan pertanda baik, seiring munculnya persepsi mereka akan perlunya bekerja lebih lama dan bekerja selama masa pensiun,” ujar Chief of Employee Benefits PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia Nur Hasan Kurniawan.

Inflasi dan nilai suku bunga yang lebih tinggi, serta depresiasi rupiah tampaknya telah mempengaruhi estimasi investor Indonesia terhadap kemungkinan pengeluaran masa pensiun mereka, yang kini diperkirakan akan mencapai 61% dari pendapatan mereka saat ini. Secara substansial angka ini lebih tinggi daripada 50% yang telah dilaporkan pada kuartal ketiga.

Walaupun hal ini tampak lebih realistis, investor masih salah dalam memperhitungkan situasi. Pada kenyataannya, mereka mungkin memiliki pengeluaran lebih besar lagi mengingat kenaikan biaya-biaya yang sangat cepat. Misalnya biaya perawatan kesehatan. Di Indonesia, biaya perawatan kesehatan per kapita meningkat tiga kali antara tahun 2004 sampai 2011 saja.

Masalah lainnya, para investor memiliki pandangan yang lebih realistis adalah mengenai perlunya bekerja selama masa pensiun. Sebanyak 75% investor Indonesia saat ini berpikiran untuk terus bekerja – angka ini adalah yang tertinggi di Asia (angka rata-rata adalah 54%) dan naik dari 68% pada kuartal ketiga.

Mereka mengantisipasi untuk terus bekerja selama tujuh tahun lagi, sehingga mereka baru akan berhenti bekerja pada usia rata-rata 68 tahun - sesuatu yang dipandang secara optimistis oleh mereka. Sebagian besar memandang bekerja setelah pensiun sebagai cara yang baik untuk tidak menyusahkan anggota keluarga mereka, menghabiskan waktu, dan akan membantu otak dan tubuh mereka tetap sehat.

Pernyataan lainnya yang menunjukkan bahwa investor semakin realistis adalah mereka yang berusia di atas 48 tahun, lebih dari 80% diharapkan akan melewati masa pensiun tanpa dukungan dari anak-anaknya, sebuah angka yang sangat tinggi apabila dibandingkan dengan Malaysia yang hanya 60%.

Satu temuan yang menunjukkan bahwa investor kurang realistis adalah bahwa 70% investor mengatakan mereka pasti atau kemungkinan dapat memiliki masa pensiun yang diinginkan (naik dari 59% di kuartal ketiga). Namun, kenyataannya, lebih dari setengah investor yang disurvei belum memulai perencanaan masa pensiun mereka. Satu dari lima orang yang belum mulai ini mengatakan bahwa mereka tidak bermaksud untuk memulai perencanaan. Hal ini berpotensi menyebabkan sulitnya mendapatkan masa pensiun yang nyaman.

Kurangnya perencanaan masa pensiun ini mengakibatkan konsekuensi yang serius. Responden mengatakan bahwa mereka harus bergantung pada tabungan masa pensiun selama 16 tahun, berdasarkan perkiraan pensiun di usia 61 tahun dan harapan hidup hingga usia 77 tahun. Namun berdasarkan asumsi pengeluaran selama masa pensiun, estimasi tabungan mereka hanya akan mencukupi rata-rata sampai 9 tahun, sehingga ada kesenjangan 7 tahun.

Dari segi prioritas tabungan, kata Nur Hasan, perencanaan masa pensiun menempati urutan ketiga setelah membayar pendidikan anak-anak mereka dan memulai bisnis sendiri. Selain kurangnya perencanaan masa pensiun secara umum, orang Indonesia merasa bahwa pilihan investasi yang tersedia masih kurang.

“Oleh karena itu mereka mengatasinya dengan cara mereka sendiri yaitu dengan menginvestasikan pada pendidikan anak-anak mereka dan bisnis mereka sendiri. Yang perlu mereka pertimbangkan bahwa ‘investasi’ seperti ini mungkin tidak memberikan pendapatan yang mereka perlukan di masa pensiun. Untuk itu mereka harus mencari pilihan lain – seperti pendapatan tetap – yang menghasilkan pengembalian yang aman, andal, dan stabil,” kata dia.

BERITA TERKAIT

Badan Riset Dorong Prioritas Riset dan Inovasi Lebih Terarah

    NERACA   Jakarta - Wakil Direktur Indonesian Medical Education Research Institute (IMERI) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI)…

Faktor Ekonomi Masih Jadi Penarik Utama Korban TPPO

Faktor Ekonomi Masih Jadi Penarik Utama Korban TPPO NERACA Jakarta - Faktor ekonomi masih menjadi penyebab utama banyak orang terjebak…

PENDAPAT SEJUMLAH PRAKTISI DAN PENGAMAT PERPAJAKAN: - Kebijakan Tax Amnesty Jilid II Belum Perlu

Jakarta-Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Piter Abdullah dan kalangan pengamat perpajakan meminta agar pemerintah memikirkan ulang…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

KUR, Energi Baru Bagi UKM di Sulsel

Semangat kewirausahaan tampaknya semakin membara di Sulawesi Selatan. Tengok saja, berdasarkan data yang dimiliki Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sulsel,…

Pemerintah Permudah Bank Ekspansi di Asean

Pemerintah berupaya mempermudah kesempatan perbankan nasional untuk melakukan ekspansi di kawasan ASEAN seperti Singapura dan Malaysia dengan mendorong ratifikasi protokol…

Bank Mandiri Incar Laba Rp24,7 T di 2018

PT Bank Mandiri Persero Tbk mengincar pertumbuhan laba 10-20 persen (tahun ke tahun/yoy) atau sebesar Rp24,7 triliun pada 2018 dibanding…