Apresiasi Saham Garuda Dinilai Masih Rendah

Jumat, 14/02/2014

NERACA

Jakarta- Apresiasi atas kinerja emiten penerbangan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) harus diakui terbilang masih rendah. Tercatat, dari level terendahnya dalam 52 minggu terakhir di level 460, saham GIAA hanya mampu mengalami kenaikan tipis. Pada perdagangan Kamis (13/2), saham GIAA menguat 0,41% di level 484 dari hari penutupan sebelumnya sebesar Rp482.

Diketahui, emiten penerbangan pelat merah ini baru saja merilis laporan keuangannya. Melemahnya nilai tukar rupiah atas dolar AS yang terjadi belakangan dinilai telah memukul kinerja PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) sepanjang 2013. Tercatat, laba bersih perseroan pada akhir 2013, hanya US$ 11,03 juta, anjlok hingga 89,9% dibandingkan laba bersih perseroan pada 2012 yang mencapai US$ 110,59 juta.

Pendapatan usaha emiten penerbangan plat merah ini hanya naik tipis dari US$ 3,47 miliar menjadi US$ 3,71 miliar, di samping peningkatan beban usaha dan rugi kurs yang harus ditanggung perseroan. Beban usaha yang dicatatkan perseroan menjadi US$ 3,7 miliar dari US$ 3,29 miliar. Adapun beban akibat selisih kurs tercatat mencapai US$ 47,92 juta, dan rugi lain-lain sebesar US$2,19 juta.

Bahkan, melihat laporan keuangan GIAA yang mengalami penurunan cukup drastis memaksa Menteri BUMN Dahlan Iskan turun tangan untuk segera melakukan evaluasi kinerja keuangan perusahaan maskapai penerbangan ini. Meskipun, sebenarnya perseroan berhasil membukukan pendapatan naik 7% menjadi US$3,72 miliar pada tahun 2013 dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$3,47 miliar.

Diakui Dahlan, melemahnya nilai tukar rupiah menjadi salah satu penyebab kinerja keuangan Garuda terpuruk. Termasuk adanya rencana perseroan untuk menaikkan fuel surcharge, akibat lonjakan dolar AS ditambah kenaikan harga bahan bakar avtur. ”Manajemen silahkan mencari cara mengatasi penurunan performa, tetapi sekarang ini lagi kita evaluasi, mengapa kinerja keuangan merosot,” kata Dahlan.

Sementara itu, Direktur Utama GIAA Emirsyah Satar mengatakan, selain melemahnya nilai tukar rupiah pada tahun 2013 perseroan melakukan investasi dalam jumlah besar dalam penambahan armada untuk menunjang peningkatan operasional. Salah satunya untuk mengembangkan bisnis Citilink sebagai armada berbiaya murah alias low cost carrier (LCC) yang beroperasi secara mandiri.

Tidak heran, beban usaha yang harus ditanggung perseroan pun sepanjang 2013 meningkat menjadi US$3,71 miliar dari sebelumnya US$3,29 miliar di 2012. Sedangkan dalam beban pendapatan usaha, perseroan mencatat adanya kenaikan pada rugi selisih kurs menjadi US$47,93 juta dan rugi lain-lain sebesar US$2,19 juta.

Kondisi ini membuat laba usaha turun di tahun 2013 menjadi US$56,45 juta dari sebelumnya US$168,07 juta di 2012 dan laba bersih turun menjadi US$11,20 juta dari sebelumnya US$110,84 juta di 2012. Dari sisi aset, perseroan mencatat adanya pertumbuhan dari US$2,52 miliar di akhir tahun 2012 menjadi US$2,95 miliar di akhir tahun 2013.

Adapun liabilitas perseroan di akhir tahun 2013 tercatat sebesar US$852,75 juta, naik dari sebelumnya US$648,83 juta di akhir tahun 2012. Sedangkan ekuitas naik menjadi US$1,12 miliar dari sebelumnya US$2,52 miliar di 2012. (lia)