Fluktuatif Picu IHSG Berakhir di Zona Merah

Jumat, 14/02/2014

NERACA

Jakarta – Fluktuatif dan cenderung melemahnya laju bursa saham AS menjadi sentimen negatif bagi laju IHSG. Rilis pengumuman BI rate tetap di level 7,50% tidak cukup membantu IHSG untuk bertahan di zona hijau,”Pelaku pasar serta banyak pengamat kemungkinan melihat belum ada urgensinya BI ikut latah seperti Turki maupun India yang menaikkan suku bunga acuannya karena kian membaiknya kondisi makroekonomi Indonesia,”kata Kepala riset Trust Securities Reza Priyambada di Jakarta, Kamis (13/2).

Dia menyebutkan, kemungkinan pelaku pasar sudah mengantisipasi rilis BI rate yang akan tetap sesuai dengan perkiraan sebelumnya. Pelemahan IHSG tidak mampu diimbangi oleh menguatnya nilai tukar rupiah. Sepanjang perdagangan, IHSG menyentuh level 4500,32 (level tertingginya) di awal sesi 1 dan menyentuh level 4484,29 (level terendahnya) di pertengahan sesi 2 dan berakhir di level 4491,66. Volume perdagangan dan nilai total transaksi juga turun,”Investor asing mencatatkan nett buy dengan penurunan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell,”ujarnya.

Dia menilai, ekspektasi akan membaiknya kondisi makroekonomi Indonesia membuat nilai tukar Rupiah masih bertahan di jalur positifnya. Bahkan rilis tetapnya BI rate kali ini turut membuat laju nilai tukar Rupiah tidak mengalami pelemahan karena pelaku pasar lebih melihat pada keputusan tetapnya BI rate untuk menopang pertumbuhan ekonomi yang sempat melambat pasca BI rate dinaikkan.

Di sisi lain, kembali menarik melihat pergerakan laju nilai tukar Rupiah yang berhasil menguat di tengah pelemahan sejumlah mata uang emerging market a.l AUD, Rupee, Taiwan Dollar, SGD, dan lainnya. Rilis defisit neraca berjalan yang turun signifikan menjadi USD-4M atau 1,98% dari PDB turut menambah sentimen positif. Laju Rupiah di atas resisten Rp12104. Rp12094-12055 (kurs tengah BI).

Sementara itu, laju positif pada bursa saham Asia tampaknya juga turut tertahan setelah merespon fluktuasinya laju bursa saham Asia. Apalagi pelemahan terjadi seiring dengan aksi jual pelaku pasar pada saham-saham teknologi yang dinilai sudah overbought dan pelemahan saham-saham batubara seiring beredarnya spekulasi Pemerintah China akan membatasi kegiatan penambangan batubara terkait masalah polusi udara. Di sisi lain, mulai adanya berita negatif dari beberapa emiten turut memicu aksi profit taking.

Pada perdagangan Jumat (14/2) diperkirakan IHSG akan berada pada support 4475-4482 dan resistance 4525-4536. Berpola menyerupai upside tasuki gap dekati upper bollinger bands (UBB). MACD masih naik terbatas dengan histogram positif yang mendatar. RSI, William's %R, dan Stochastic upreversal terbatas. IHSG mengenai kisaran target support (4460-4485) dan hampir mendekati kisaran target resisten (4510-4532).“IHSG mencoba untuk bertahan dari downreversal namun, besarnya keinginan untuk profit taking dapat mengubah arah IHSG. Waspadai pelemahan lanjutan IHSG”, katanya. (nurul)