Penurunan Performance Bakrie Grup Makin Nyata

Dibalik BSDE Akuisisi Ritel Epicentrum

Jumat, 14/02/2014

NERACA

Jakarta – Akuisisi PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) terhadap salah satu ruang ritel milik grup Bakrie yaitu PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) dinilai dapat menjadi indikator menurunnya kinerja grup Bakrie,”Bakrieland Development dan grup Bakrie lainnya bisa diindikasikan mengalami penurunan performa, karena aksi korporasi ini menjadi cerminan dimana emiten properti lain gencar berekspansi seperti membeli tanah, justru sebaliknya Bakrieland gencar jual aset”, kata analis PT danareksa Sekuritas Lucky Bayu Purnomo saat dihubungi Neraca di Jakarta, Kamis (13/2).

Menurutnya, akuisisi ini akan membuat saham BSD naik, namun sebaliknya saham ELTY akan turun. Karena aksi orporasi ELTY berbanding terbalik dengan emiten properti lainnya. Selain itu, dia menyebutkan ELTY tidak lagi menjadi emiten properti yang masuk dalam jajaran teratas. Saat ini, APLN, Summarecon, SSIA, Ciputra, menjadi beberapa emiten yang memiliki kinerja cemilang selama 2013 dan hingga saat ini.

Selain saham BSDE meningkat, dia menyebutkan grup Sinar Mas Land lainnya seperti Bank Exim yang juga listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan ikut terkerek sahamnya. “Hal ini karena didorong kinerja BSDE yang cemerlang, imbasnya akan dirasakan sesama anak usaha Sinar Mas Land yaitu Bank Exim”, katanya.

Pada keterbukaan informasi BEI, Rabu (12/2) disebutkan BSDE mengakuisisi ruang ritel (strata title) di Rasuna Epicentrum, CBD Kuningan senilai Rp297 miliar. Sekretaris Perusahaan BSDE, Hermawan Wijaya mengatakan bahwa pembelian ini untuk meningkatkan pertumbuhan bisnis secara an-organik terutama untuk memperkuat segmen pendapatan recurring income (pendapatan berkelanjutan) perseroan,”Transaksi ini dilakukan dengan PT Bakrie Swastika Utama (BSU) selaku entitas anak PT Bakrieland Development Tbk yang mengelola kawasan CBD Kuningan, dikenal dengan nama Rasuna Epicentrum”, katanya.

Adapun anchor tenant di antaranya Farmer Market, Electronic City, Avara Lounge, dan restoran Ming. Epicentrum Walk merupakan life style mall yang menyasar konsumen bersegmentasi A-AB+ yang berkantor dan bertempat tinggal di sekitar kawasan premium Kuningan.

Dia menambahkan, langkah akuisisi lahan ritel ini diharapkan akan memperkuat proporsi recurring income menjadi 20:80 dalam lima tahun mendatang. Di mana saat ini posisi recurring income berada di kisaran 15:85 terhadap pendapatan penjualan produk.“Akusisi tersebut pada prinsipnya sudah tuntas. Akuisisi ini hanya tinggal menunggu masalah administrasi saja. Pembahasannya sudah dari tahun lalu. Pada dasarnya sudah closing baru-baru ini. Tinggal ada beberapa dokumen saja yang perlu ditandatangani”, ujarnya.

Adanya rencana menambah reccuring income perseroan mungkin disebabkan target penjualan 2014 yang hanya sekitar Rp 5,5 - 5,7triliun. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan penjualan pada tahun sebelumnya yang sebesar Rp 7,35 triliun.

Sebelumnya dia mengatakan, bahwa kondisi pasar yang belum stabil saat ini di tambah dengan tingkat suku bunga yang terbilang masih tinggi, membuat pihaknya sangat berhati-hati dalam menargetkan penjualan.“Memang target penjualan tahun ini sedikit lebih rendah dibanding tahun lalu. Hal itu disebabkan oleh tingkat suku bunga yang belum turun dan cenderung naik”, katanya.

Selain itu, faktor lebih rendahnya target kali ini juga disebabkan oleh adanya peraturan Bank Indonesia (BI) soal Loan to Value (LTV) yang cukup menekan Perseroan. Pasalnya, sebanyak 50% penjualan properti milik Perseroan dilakukan melalui Kredit Pemilikan Rumah (KPR). (nurul)