Distribusi Terhambat, Pengusaha Makanan Naikkan Harga Hingga 5%

NERACA

Jakarta - Dampak kerusakan jalan di Pantai Utara Jawa (Pantura) dan wilayah lainnya berpengaruh pada biaya distribusi barang. Gangguan distribusi ini berimbas langsung pada kenaiikkan harga produk, khususnya makanan dan minuman.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan dalam waktu dekat pengusaha sepakat akan menaikkan harga produk makanan dan minuman hingga 5%. Selain karena faktor jalan yang rusak, turunnya permintaan ikut menjadi pemicu kenaikan harga.

"Jalan rusak ini distribusi kita terganggu dan kita pikirkan untuk menaikkan harga bahan makanan dan kita sudah evaluasi pasar menurun dan penjualan retail juga menurun. Kita mesti naikkan produk makanan dan minuman besarannya 3%-5%," kata Sofjan di Jakarta, kemarin.

Kenaikan harga tidak terjadi pada semua produk. Ia mencontohkan produk otomotif seperti motor dan mobil malah mengalami penurunan harga. "Tetapi banyak yang tidak bisa dinaikkan seperti otomotif yang malah banyak diskon untuk jualan," imbuhnya.

Ia pun menjelaskan mengapa pengusaha tidak menaikkan harga secara signifikan. Pengusaha takut konsumen nantinya akan lebih memilih produk impor karena harga yang jauh lebih murah. Untuk itu, Sofjan meminta pemerintah segera memperbaiki jalan yang rusak agar distribusi barang kembali lancar.

"Apapun itu kita juga menahan agar tidak menaikkan akan dihajar oleh barang-barang impor. Secepatnya perbaikan jalan dan setelah itu budgetnya harus segera dikasih jangan ditunggu-tunggu prosedur birokrasinya sehingga macet lagi nanti," jelasnya.

Lonjakan Harga

Sebelumnya Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati mengatakan, kelangkaan dan kekurangan pasokan akibat kendala distribusi akan menimbulkan lonjakan harga yang cukup signifikan. "Pemerintah harus cepat mengantisipasi kondisi ini. Daya tahan yang relatif pendek serta terhambatnya distribusi akan mengakibatkan produk pertanian mudah membusuk," katanya.

Menurut dia, antisipasi terhadap kendala distribusi barang tersebut harus terus dilakukan oleh pemerintah dan instansi terkait lainnya.

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengakui, cuaca buruk akan membuat distribusi pangan ke masyarakat terganggu. Kondisi tersebut telah dirasakan sebagian masyarakat di sejumlah daerah pada saat ini. Pasalnya, para pedagang sudah banyak yang mengeluh soal hambatan distribusi barang dan jasa. "Sudah ada beberapa harga pangan yang naik," ujarnya.

Hatta mengaku, pihaknya sudah berkoordinasi dengan tim pengendali harga bahan pokok agar tidak melonjak terlalu tinggi, terutama beras. Dengan koordinasi yang baik, diharapkan dampak cuaca buruk dan banjir tidak membuat harga melonjak tinggi sepanjang Januari 2014.

Di samping itu, Hatta juga mengatakan, cuaca buruk yang melanda Tanah Air akhir-akhir ini berpotensi mengakibatkan tingginya indeks harga konsumen atau inflasi Januari 2014. Menurutnya, hal tersebut tidak boleh dibiarkan. "Itu akan mengganggu pasokan dan akibatnya inflasi. Jadi, kita antisipasi di situ," kata Hatta.

Untuk itu, Menko Perekonomian menyatakan, sudah minta tim pengendali inflasi segera bekerja. Karena, menurut dia, hal tersebut harus diantisipasi dengan benar. "Harus diantisipasi dengan baik," ujarnya.

Senada dengan Menko Perekonomian, terkait masalah inflasi, Menteri Keuangan (Menkeu) Chatib Basri pula mengakui, tingkat inflasi pada Januari 2014 akan tinggi dengan kondisi iklim yang ekstrem seperti sekarang ini. Karenanya, untuk mengendalikan kenaikan harga, pemerintah akan menjaga jalur distribusi dan pasokan bahan makanan tetap lancar.

Chatib berharap cara itu mampu untuk menekan inflasi hingga akhir 2014 tetap sesuai target yang ditetapkan pemerintah dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) 2014, yakni 5,5 persen. "Angka pastinya bisa diketahui akhir Januari," tuturnya.

Meningkatnya laju inflasi akibat dampak cuaca buruk, juga dinyatakan Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo, saat ditemui di sela-sela pembukaan Wirausaha Mandiri Muda Expo 2014 di Jakarta, Rabu. Dia menilai, tingginya curah hujan di awal 2014 berpotensi meningkatkan laju inflasi Januari akibat kemungkinan terhambatnya distribusi produk pangan.

"Selama ini yang menjadi tantangan di awal tahun ini yakni kondisi alam yang bisa membuat distribusi, khususnya pangan, menjadi terhambat," tutur dia. Meski begitu, dia menambahkan, inflasi secara tahunan (year-on-year/yoy) di Januari 2014 akan lebih rendah dari tahun sebelumnya, 4,57 persen.

BERITA TERKAIT

Musim Panen, Harga Beras Masih Mahal di Kabupaten Sukabumi

Musim Panen, Harga Beras Masih Mahal di Kabupaten Sukabumi NERACA Sukabumi - Harga beras di sejumlah pasar tradisional Kabupaten Sukabumi…

BTN Telah Salurkan Kredit Hingga Rp437 triliun

  NERACA Jakarta - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. mengklaim telah menyalurkan kredit sekitar Rp437 triliun selama 68 tahun…

BOSS Patok Harga IPO Rp 400 Per Saham

NERACA Jakarta – Perusahaan tambang batu bara di Kutai Barat Kalimantan Timur, PT Borneo Olah Sarana Sukses Tbk (BOSS) telah…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Sepanjang Januari 2018 - Panen Belum Merata, Harga Gabah Kering dan Beras Tercatat Naik

NERACA Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya kenaikan harga gabah kering panen dan gabah kering giling selama Januari…

KLHK Optimistis Ekspor Produk Kayu 2018 Meningkat

NERACA Jakarta – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan optimistis ekspor produk kayu nasional pada 2018 akan meningkat dibandingkan…

Niaga Bilateral - Pakistan-Indonesia Realisasikan Kerjasama Impor Jeruk

NERACA Jakarta – Pakistan dan Indonesia merealisasikan kerja sama impor jeruk jenis kino sebanyak 1.500 kontainer atau 30.000 ton pada…