Pemerintah Kembangkan Budidaya Ikan Nila Srikandi

Jumat, 14/02/2014

NERACA

Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mengembangkan berbagai jenis ikan yang mampu berkembang baik di air payau. Apalagi luas perairan rawa payau dan hutan bakau mencapai luas hingga 39,5 juta ha dari total perairan daratan di Indonesia yang mencapai 54 juta ha. KKP melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan (Balitbang KP) kembali merilis ikan Nila Srikandi ke masyarakat. Ikan yang telah mendapat pengujian varietas sejak Nopember 2011 ini terbukti mampu tumbuh cepat di perairan payau.

Kepala Balitbang KP, Achmad Poernomo menjelaskan, nila Srikandi merupakan strain ikan nila unggul hasil cross breeding yang diproduksi Balai Penelitian Pemulian Ikan yang berada di bawah Balitbang KP. Ikan nila Srikandi dirakit dengan tujuan untuk mendapatkan strain ikan nila yang mampu tumbuh cepat di perairan payau. Ikan nila Srikandi merupakan hasil perkawinan silang antara ikan nila Nirwana betina (Oreochromis niloticus) dengan ikan nila biru jantan (Oreochromis aureus).

Ikan nila Nirwana (Nila Ras Wanayasa) yang dirilis tahun 2006, merupakan strain ikan nila hitam hasil seleksi yang diproduksi oleh Balai Pengembangan Benih Ikan (BPBI), Wanayasa, Purwakarta, Jawa Barat. “Ikan nila Nirwana mempunyai keunggulan dapat tumbuh cepat di perairan tawar. Ikan nila biru (Oreochromis aureus) merupakan ikan yang berasal dari Afrika Utara danTimur Tengah,” Kata Achmad dalam siaran persnya yang diterima redaksi Neraca, Kamis (13/2).

Ikan nila biru kata Poernomo, mempunyai keunggulan berupa daya toleransi yang tinggi di perairan payau. Perkawinan silang antara kedua strain ikan nila ini menghasilkan ikan nila Srikandi yang mempunyai karakter tumbuh cepat di perairan payau dengan salinitas atau tingkat kadar garam cukup tinggi diantara 10-30 parts per thousand (ppt). Sedangkan dari hasil pengujian nila Srikandi di tambak-tambak pantai utara Jawa seperti Karawang, Pekalongan, Tegal serta pantai selatan Yogyakarta menunjukkan perkembangan sangat baik. ikan nila Srikandi memiliki karakter pertumbuhan dan sintasan yang lebih baik dibandingkan ikan nila sebelumnya yakni Nirwana dan ikan nila biru. Nila Srikandi memiliki nilai heterosis 13,44 pada karakter bobot dan 20,33 pada karakter sintasan. “Selanjutnya melalui Keputusan Menteri Nomor KEP.09/MEN/2012, ikan nila Srikandi dapat disebarluaskan kepada masyarakat luas untuk keperluan budidaya ikan di lahan payau,” ujarnya.

Poernomo mengatakan, Balitbang KP juga telah merilis jenis udang galah GI Macro II. Udang galah berlabel Genetic Improvement of Macrobrachium rosenbergii (GI Macro) ini terbukti tumbuh lebih cepat baik pada fase pembenihan maupun pembesaran. Bahkan, udang galah GI Macro II hasil seleksi Balai Penelitian Pemuliaan Ikan ini juga sudah dinyatakan bebas virus MrNV berdasarkan proses skrining yang diikutkan pada prosedur seleksi. “Udang Galah GI Macro II merupakan hasil pemuliaan udang galah unggul hasil pemuliaan yang telah dilepaskan ke masyarakat pada tahun 2001 dengan nama udang galah GI Macro,” katanya.

Udang galah macro II kata Poernomo, merupakan hasil program seleksi individu di Balai Penelitian Pemuliaan Ikan (BPPI) Sukamandi - Puslitbang Perikanan Budidaya - Balitbang KP. Udang ini dibentuk oleh empat strain udang galah alam yang secara geografis berasal dari tempat yang berbeda, yakni Barito (Sungai Barito, Kalimantan Selatan), Musi (Sungai Ogan, Sumatera Selatan), Asahan (Sungai Asahan, Sumatera Utara) dan Ciasem (Sungai Ciasem, Jawa Barat) serta strain udang galah GI Macro koleksi BPPI Sukamandi yang telah melalui proses peremajaan sejak dirilis pada tahun 2001. “Pembentukan populasi dasar sintetis dilakukan pada tahun 2010 melalui persilangan dua arah (diallele cross) diantara jantan dan betina masing-masing strain udang galah koleksi yang telah didomestikasikan,” tuturnya.

Menurut Poernomo, Udang Galah GI Macro II memiliki ketahanan lebih baik dengan sebelumnya. Demikian juga pertumbuhannya lebih cepat, dimana total respon seleksi berdasarkan karakter panjang standar selama empat generasi (F1 sampai F4) diperoleh sebesar 17% atau setara dengan 68% jika berdasar pada karakter bobot udang galah. Hal ini berarti udang galah hasil pemuliaan telah mengalami peningkatan pertumbuhan dari populasi pembentuknya sebesar 17% pada karakter panjang standar atau sebesar 68% pada karakter bobot udang galah. “Berdasarkan hasil uji ketahanan pasca larva udang galah GI Macro II terhadap kenaikan salinitas, penurunan pH, penurunan suhu dan rendaman formalin dapat dinyatakan bahwa pasca larva udang galah hasil seleksi memiliki ketahanan yang tinggi terbukti dengan nilai sintasan yang tinggi ≥ 95%,” jelasnya.

Poernomo menambahkan, pengembangan udang galah GI Macro II tidak mensyaratkan teknologi khusus sehingga dapat dikembangkan oleh masyarakat luas, baik melalui teknologi tradisional, semi intensif dan intensif. Kandidat strain udang galah unggul tersebut juga dapat dikembangkan dalam sistem UGADI (Udang Galah Bersama Padi). Pemanfaatan benih udang galah unggul GI Macro II diharapkan dapat mendukung peningkatkan produktivitas usaha budidaya udang galah nasional. Perluasan lahan budidaya udang galah akan menambah lapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Penggunaan Induk maupun benih udang galah GI Macro II diharapkan mampu mendorong keberhasilan budidaya udang galah, sehingga mengurangi kegiatan penangkapan yang berlebihan terhadap populasi udang galah di alam. “Dengan rilis udang Galag GI Macro II, diharapkan kelestarian udang galah di alam tetap terjaga,” tutupnya.