Saham Properti Masih Menarik Dilirik

NERACA

Jakarta- Meski industri properti diprediksi akan mengalami perlambatan sebesar 15%, saham-saham di sektor ini dinilai masih layak koleksi. Beberapa pelaku pasar mengaku masih dalam posisi hold sambil mencermati pergerakan harga saham dan menanti rilis laporan keuangan yang akan dikeluarkan emiten. "Di kami, cenderung hold hingga akhir pekan. Selain perbankan dan konstruksi, properti tampaknya juga tidak akan seburuk seperti yang diperkirakan." kata Kepala Riset PT Buana Capital, Alfred Nainggolan di Jakarta, kemarin.

Menurut Alfred, pelaku pasar dapat mengakumulasi untuk saham-saham blue chips karena masih banyak emiten yang belum menyampaikan laporan keuangannya. Apalagi diketahui, beberapa emiten yang telah merilis laporan keuangan, seperti perbankan dan konstruksi nyatanya di luar ekspektasi pasar. Sebut saja, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), dan PT Adhi Karya Tbk (ADHI). "Melihat apresiasi pasar pada saham-saham tersebut tentunya menunjukkan kinerjanya direspons positif." ucapnya.

Dari market data Reuters, pada perdagangan Kamis (13/2), saham BMRI berada di harga Rp9.000, naik 0,28% dari harga penutupan sebelumnya Rp8.975, sedang untuk saham BBTN berada di harga Rp1.020, turun 0,97% dari harga sebelumnya Rp1.030. Adapun saham ADHI berada di harga Rp1.930, naik 0,78% dari harga sebelumnya Rp1.915.

Sementara untuk saham properti yang mengalami penguatan, antara lain saham BSDE di harga Rp1.555, naik 0,65% dari harga sebelumnya Rp1.545, dan saham CTRA di harga Rp970, naik 1,57% dari harga sebelumnya Rp955. Adapun untuk saham SMRA berada di posisi minus 2,51% di harga Rp970, dari harga sebelumnya Rp995.

Sekadar tambahan informasi, lembaga pemeringkat Indonesia, PT Pemeringkat Indonesia (Pefindo) memberikan outlook stabil untuk sektor properti. Hal ini didukung dengan permintaan yang kuat, terutama dari segmen perumahan. "Karena masih adanya backlog yang besar atau kekurangan pasokan dari segmen perumahan." kata analis Pefindo, Niken Indriarsih.

Diakui Niken, tantangan bagi sektor properti, yaitu implementasi peraturan LTV dan suku bunga yang tinggi berpotensi menurunkan permintaan. "Karena seperti diketahui, era bunga rendah sudah meningkat sejak tahun lalu." ujarnya.

Selain itu, sambung dia, juga perlu dicermati terjadinya kenaikan biaya konstruksi yang berpotensi menurunkan laba. Adapun daftar emiten properti yang diperingkat Pefindo antara lain PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) dengan peringkat single A dan prospek stabil. PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) diperingkat AA-/stabil. PT Duta Anggada Realty Tbk (DART) diperingkat A-/stabil. PT Intiland Development Tbk (DILD) diperingkat A/stabil. PT Modernland Realty Tbk (MDLN) diperingkat A-/positif. Sementara untuk PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) berada diperingkat A+/stabil, dan PT Wika Realty Tbk (WIKA) A-/stabil.

Sementara terkait laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sendiri, tambah Alfred, masih bergerak variatif yang dipengaruhi sentimen global. Namun, untuk sentimen dalam negeri sendiri saat ini cenderung sangat minim. Diketahui, rilis data terbaru dari Bank Indonesia, yaitu dipertahankannya suku bunga acuan (BI Rate) di posisi 7,5%. Sehingga ini akan menjadi salah satu sentimen positif yang akan menopang pergerakan rupiah. “Yang menjadi kekhawatiran, yaitu dari kondisi geografis Indonesia. Kalau ada perbaikan, inflasi kemungkinan akan turun atau paling tidak tetap. Selain itu, juga masalah debt ceiling Amerika Serikat (AS).” jelasnya. (lia)

Related posts