Bursa Hadirkan Pedoman Remote Trading

Guna menyempurnakan remote trading untuk mengantisipasi meningkatnya transaksi saham di pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia menerbitkan keputusan baru tentang pedoman mediator "remote trading" untuk menyempurnakan sistem pengembangan infrastruktur pasar modal Indonesia. Hal tersebut disampaikan BEI dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa Samsul Hidayat mengatakan, sejalan dengan perkembangan sistem perdagangan di Bursa, telah dilakukan kajian atas persyaratan dan prosedur bagi pihak-pihak yang memberikan jasa penyedia perangkat "remote trading" Anggota Bursa Efek.

Aturan tersebut diterapkan melalui surat Keputusan Direksi Nomor 00001/BEI/01-2014 terkait pedoman mediator "remote trading". Dia menambahkan, keputusan itu juga untuk menstandardisasi persyaratan dan prosedur pihak-pihak yang dapat memberikan jasa penyedia perangkat "remote trading", sehingga keputusan itu dipandang perlu untuk menjadi panduan bagi mediator "remote trading.

Samsul menjelaskan, mediator "remote trading" merupakan pihak yang telah menandatangai kontrak dengan Bursa untuk menyediakan jasa "remote trading" bagi anggota bursa efek koneksi tidak langsung untuk dapat melakukan perdagangan efek secara "remote trading".

Sementara "remote trading" adalah perdagangan saham yang diselenggarakan oleh Bursa dengan menggunakan JATS (Jakarta Automated Trading System), perangkat "remote trading" Bursa, jaringan dan perangkat "remote trading" Anggota Bursa Efek. Lanjutnya, bagi mediator "remote trading" yang telah terdaftar di Bursa sejak berlakunya surat keputusan Direksi ini, wajib memenuhi persyaratan paling lambat sampai dengan 1 Juli 2014.

Sementara bagi calon mediator wajib memiliki perangkat "remote trading" anggota bursa efek sesuai ketentuan atau persyaratan. Selain itu, Bursa juga mengatur pengenaan sanksi atas pelanggaran dari keputusan itu bagi mediator "remote trading". Disebutkan, sanksi yang berikan berupa teguran tertulis, peringatan tertulis dan denda paling banyak sebesar Rp500 juta. Disamping itu, Bursa juga berhak mencabut status sebagai mediator 'remote trading'. (bani)

BERITA TERKAIT

PSSI Catatkan Pendapatan Tumbuh 20%

Sampai dengan November 2019, PT Pelita Samudera Shipping Tbk (PSSI) mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 20%. Pencapaian ini terutama dikontribusi oleh…

Indah Kiat Terbitkan MTN Rp 2,16 Triliun

Perkuat modal guna mendukung ekspansi bisnisnya, PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP) menerbitkan surat utang jangka menengah (medium…

Pendapatan SGRO Terkoreksi Tipis 0,87%

Di kuartal tiga 2019, PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) mencatatkan pendapatan sebesar Rp2,26 triliun atau terkoreksi tipis 0,87% dibandingkan priode…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Platform Bersama e-KYC - Dukcapil Tegaskan Tak Ada Pemberian Data NIK

Era digital yang serba cepat dan agile, industri perbankan dituntut untuk menyediakan layanan berbasis teknologi digital. Layanan digital akan memudahkan…

Divestasi Bank Permata - Astra Luluh Ke Tawaran Bank Bangkok

NERACA Jakarta – Sikap bersikukuh PT Astra International Tbk (ASII) untuk tetap mempertahankan kepemilikan saham di PT Bank Permata Tbk…

Wujudkan Perusahaan Sehat - Garuda Bekukan Rute London Yang Bikin Tekor

NERACA Jakarta – Perdagangan saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (12/12) pada sesi…