Mobil Angkutan Pedesaan Belum Juga Diproduksi Massal

Sektor Otomotif

Jumat, 14/02/2014

NERACA

Jakarta - Setelah program mobil irit bahan bakar dengan harga terjangkau telah berjalan sejak akhir tahun lalu, pemerintah juga rencananya akan meluncurkan mobil murah khusus untuk angkutan pedesaan. Namun hingga saat ini program tersebut belum juga terdengar gaungnya.

Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan, hal tersebut lantaran masih menunggu kebijakan pemerintah soal pendanaan dari mobil murah tersebut. "Tinggal kami meminta kebijakan pemerintah apakah itu diproduksi langsung secara komersial dalam program pemerintah melalui APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara)," ujar Hidayat di Jakarta, Kamis (13/2).

Menurut Hidayat, persoalan teknologi yang akan diterapkan pada kendaraan ini sendiri tidak ada masalah, karena telah disiapkan sebelumnya. "Angkutan pedesaan itu teknologinya sudah ada," lanjutnya.

Meski demikian, dia mengatakan, Kementerian Perindustrian telah meminta agar program tersebut bisa tetap berjalan, paling tidak pada tahun depan. "Saya sudah meminta tahun depan itu dipastikan," tandasnya.

Seperti diketahui, pemerintah sebenarnya telah menunjuk tiga produsen kendaraan tersebut, yaitu merk Ghea buatan PT INKA, Tawon buatan PT Super Gasindo Jaya dan PT Triangle Motorindo yang merupakan produsen sepeda motor lokal bermerk Viar.

Mobil angkutan pedesaan ini akan didesain dengan mesin berkapasitas kecil yaitu 1.000 CC ke bawah, sehingga dapat menekan biaya produksi dan terjangkau oleh masyarakat pedesaan.

Di sisi lain rencana pemerintah mengembangkan angkutan umum murah pedesaan tampaknya bakal semakin berat, menyusul perusahaan yang memegang prototype angkutan pedesaan ini pesimistis menatap pengembangan mobil nasional ini ke depannya.

Dewa Yuniardi, Ketua bidang Marketing dan Komunikasi Asia Nusa yang membawahi PT Tawon Mobil Industri mengatakan pihaknya sebenarnya sudah memproduksi angkutan pedesaan ini namun dalam jumlah yang terbatas.

"Kami tidak memproduksi dalam jumlah besar karena tidak bisa menjual mobil ini secara kredit karena tak mendapat jaminan perbankan, sehingga kami hanya menjual mobil ini secara tunai," ujar Dewa.

Dia memaparkan bahwa kemampuan produksi Tawon cukup memadai yakni dapat memproduksi 200-300 unit mobil setiap bulannya, tapi hal itu tidak dilakukan karena khawatir hasil produksi tidak dapat diserap pasar dan menumpuk digudang.

Lebih lanjut, Dewa mengatakan sudah mengusulkan kepada pemerintah agar menjamin fasilitas kredit para konsumen yang meminati produk ini, namun belum memperoleh respon positif sejauh ini.

Hingga kini, angkutan pedesaan milik Tawon sudah terjual sekitar 30 unit seluruh Indonesia. Ia pun kini pesimis bahwa produk yang menjadi harapan mobil nasional (mobnas) ini dapat bersaing di tengah ingar-bingar produk Low Cost Green Car (LCGC) atau mobil murah yang diluncurkan pemerintah belum lama ini. "Kalau sudah begini, kami pun mencoba realistis memandang program ini," ujarnya.

Sementara itu, Agus Purnomo, Direktur Utama PT Industri Kereta Api (INKA) menyatakan bahwa perusahaan pelat merah ini sedang fokus dalam bisnis inti mereka. "Kami sedang fokus dalam bisnis sarana perkeretaapian dan tidak lagi menggarap mobil murah," kata Agus.

Asal tahu saja, INKA merupakan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang menjadi salah satu dari empat perusahaan pengembang prototype angkutan pedesaan.

BPPT Siap Membantu

Sementara itu, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) terus berkoordinasi dengan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) agar program moda transportasi kendaraan bermotor roda empat yang hemat energi dan harga terjangkau (low cost green car/LCGC) untuk angkutan pedesaan terus berjalan. Demikian disampaikan Kepala BPPT Marzan Iskandar "Untuk merealisasikannya memang diperlukan upaya yang berkesinambungan," kata Marzan.

Menurut Marzan, BPPT memiliki berbagai fasilitas untuk mendukung program tersebut. Fasilitas itu antara lain desain sampai pengujian mobil. "Akhir 2013, desain platform pertama akan dihasilkan dengan beberapa komponen, terutama engine (mesin) yang masih impor. Tapi, telah dilakukan optimasi kapasitasnya (mesin)," ujarnya.

Meskipun begitu, Marzan menyebut terdpat sejumlah kendala untuk pengembangannya. Kendala-kendala itu terutama dari sisi industri pendukung. "Industri yang terlibat umumnya masih industri kecil dengan volume yang kecil, belum ada industri besar yang tertarik untuk terlibat dalam program ini," kata Marzan.

Masing-masing industri tersebut mempunyai platform masing-masing sehingga untuk pengembangannya, memerlukan sumber daya yang besar. Rantai pasok (supply chain) komponen pendukung, ujar Marzan, juga belum terbentuk. "Untuk itu, BPPT mulai tahun ini membuat program untuk membantu pengembangan tersebut yang diharapkan dapat menjadi platform bersama," ungkapnya. "Kami masih mencari BUMN yang bisa melaksanakan itu. Investor swasta baru akan tertarik jika BUMN telah memulainya terlebih dahulu," ujar Marzan.