Indonesia Impor Bahan Baku Tekstil US$5,6 Miliar

Jumat, 14/02/2014

NERACA

Jakarta – Indonesia masih mengandalkan bahan baku impor untuk memproduksi produk fesyen. Menurut Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian Euis Saedah, saat ini impor bahan baku tekstil mencapai US$5,6 miliar. Namun demikian, ekspor produk tekstil yang mencapai US$10,9 miliar atau lebih tinggi dari pada impornya sehingga di sektor tekstil tidak mengalami defisit.

“Untuk bahan baku produk fasyen, Indonesia masih mengimpor sebesar US$5,6 miliar sementara ekspornya mencapai US$10,9 miliar. Ini terlihat masih surplus, akan tetapi kalau dilihat lebih dalam lagi impor lebih banyak digunakan untuk komunitas fasyen atau UKM. Harusnya barang-barang impor tersebut dipenuhi dari dalam negeri,” ungkap Euis saat membuka konferensi pers Indonesia Fashion Week 2014 di Jakarta, Kamis (13/2).

Ia menjelaskan bahwa bahan baku tekstil yang sering diimpor dan sangat dibutuhkan di dalam negeri adalah jenis serat buatan seperti polyester dan serat rayon. Pemerintah ingin penggunaan bahan baku serat buatan bisa dialihkan ke serat alam. Menurutnya hal itu akan dilakukan secara bertahap mengingat produksi serat alam Indonesia cukup banyak dan berlimpah. “Bagaimana porsi impor kita ini kita isi dengan serat alam secara bertahap apakah 5%, 10% atau kalau bisa semuanya. Bahan baku dari mana? fesyen Indonesia memang sangat kuat di rayon dan polyester,” katanya.

Selama 10 tahun terakhir, kementeriannya mencoba menggali Sumber Daya Alam yang bisa dimanfaatkan untuk menjadi bahan baku teksil. Indonesia punya pasokan serat alami seperti sutera, katun dan SANT (Serat Alam Non Tekstil). “Ternyata ada juga dari pisang, nenas, ulat doyo sedang terus kami dorong untuk menghasilkan serat alam dan warna alam yang kami coba diangkat dengan teknologi yang ada menjadi teknologi tinggi,” ungkapnya.

Sementara itu, berdasarkan data BPS pada periode Januari–November 2013, nilai ekspor produk fesyen mencapai US$ 10,97 miliar, atau meningkat 4,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sedangkan bila dilihat dalam kurun waktu lima tahun terakhir (2008–2012), ekspor produk fesyen terus mengalami tren pertumbuhan sebesar 10,95% per tahun. Adapun 10 besar negara tujuan ekspor produk fesyen Indonesia yaitu Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Inggris, Belgia, Korea Selatan, Belanda, China, Italia, dan Uni Emirat Arab.

Untuk pasar di dalam negeri, dengan jumlah penduduk yang mencapai lebih dari 237 juta jiwa (sensus tahun 2010), Indonesia merupakan pasar yang potensial termasuk bagi pemasaran produk fesyen. Hal ini juga ditunjang dengan daya beli masyarakat yang terus membaik dimana tercatat pendapatan per kapita pada tahun 2012 mencapai US$ 3.562,6, meningkat sebesar 9,54% bila dibanding tahun 2011 yang mencapai US$ 3.498,2.

Peluang pasar industri fesyen ini semakin besar dengan terjadinya peningkatan jumlah masyarakat kelas menengah di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini dapat menjadi salah satu faktor meningkatnya konsumsi masyarakat terhadap fesyen, dimana masyarakat kelas menengah sudah mulai menjadikan fesyen berkualitas dan bermerek tertentu sebagai kebutuhan.

Bakal Meningkat

Namun demikian, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat memperkirakan impor produk TPT dari Cina akan meningkat. Menurut Ade, peningkatan impor TPT dari Cina sudah terjadi sejak beberapa tahun terakhir, dan semakin melonjak setelah diberlakukannya perdagangan bebas. “Mulainya 2010 mulai Free Trade Agreement, melonjaknya luar biasa, penetrasinya sudah hampir 50-50, 50% sudah diambil alih sama Cina, sementara produk dari negara-negara lain 10% kita hanya 40%,” jelas Ade.

Ade mengatakan produk tekstil ataupun garmen Indonesia kalah bersaing dengan Cina dari sisi harga, kenaikan BBM dan upah buruh juga mempengaruhi kenaikan harga produk dalam negeri. “TPT menguntungkan Cina dibandingkan Indonesia, dengan defisit yang bertambah dari tahun ke tahun, sehingga menyebabkan kita seperti kurang daya saing, dan akan bertambah besar jika kita tidak melakukan apapun, harus ada tindakan pengamanan lebih awal,” kata Ade.

Pemerintah juga diminta untuk meningkatkan perlindungan terhadap produk-produk dalam negeri agar dapat bersaing dengan produk impor. Selain itu menurut Ade, peluang untuk merambah pasar Cina sebenarnya cukup besar hanya saja perlu dukungan, termasuk infrastruktur.

Sejauh ini, produk pakaian dan tekstil dari Cina yang dijual di Pasar Tanah Abang telah menggeser produk lokal. Meski demikian, produk lokal masih dapat bertahan karena pakaian dan tekstil asal Cina lebih diminati oleh konsumen bawah, seperti disampaikan oleh pengurus Koperasi Pedagang Tanah Abang Afrial Rifa'i .

“Sekitar 50-60% bahan -bahan cina mengasai pasar tanah abang, memang harganya murah tetapi kualitasnya kurang, biasanya untuk pasaran ke daerah, pakaian jadi itu harganya sekitar 100 ribu atau dibawahnya,” jelas Afrial.

Afrial mengatakan para pedagang di pasar Tanah Abang ada yang mengimpor langsung pakaian jadi dari Cina dan menjualnya dengan harga murah. Amran salah seorang pedagang pakaian asal Cina di Tanah Abang mengatakan produk impor dari Cina yang banyak diminati yaitu celana dan busana muslim.