Pefindo Proyeksikan Positif Untuk Kimia Farma

Jumat, 14/02/2014

NERACA

Jakarta - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memperoyeksikan PT Kimia Farma Tbk (KAEF) dalam jangka panjang memiliki prospek usaha lebih positif dan menarik. Hal tersebut di sampaikan Pefindo dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Kata analis Pefindo Achmad Kurniawan Sudjatmiko, prospek positif KAEF tersebut didukung Indonesia yang merupakan negara baik untuk industri farmasi karena jumlah pendudukanya yang besar ditambah kelas menengah yang terus tumbuh,”Meningkatnya jumlah penduduk kelas menengah sejalan dengan meningkatnya kesadaran kesehatan membuat permintaan untuk kualitas obat-obatan dan pelayanan kesehatan yang lebih baik terus meningkat,”ujarnya dalam riset.

Di samping itu, berlakunya program jaminan pemeliharaan kesehatan, yang dikenal dengan nama Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) pada tahun ini akan membuka kesempatan lebih baik bagi perusahaan farmasi untuk tumbuh.

Maka untuk mendukung program tersebut, PT Kimia Farma Tbk berencana meningkatkan kapasitas produksi untuk obat generik serta menambah 100 klinik dan apotek di seluruh Indonesia, dengan mengalokasikan dana belanja modal tahun ini sebesar Rp250 miliar,”Meski mengalokasikan belanja modal, namun kami berpandangan bahwa KAEF memiliki saldo kas yang cukup karena mereka sudah memiliki saldo kas di tangan Rp170 miliar dan Rp667,2 miliar dari piutang pada kuartal III tahun lalu, yang dapat digunakan untuk membiayai ekspansi tersebut,”tutur dia.

Faktor lain yang akan mendukung prospek positif KAEF adalah dipercayanya perusahaan ini oleh pemerintah sebagai satu-satunya perusahaan yang memproduksi narkotika untuk keperluan pengobatan. Keunggunalan ini, menurut Achmad, membedakan KAEF dengan perusahaan farmasi lainnya.

Dia menambahkan, KAEF juga merupakan pemimpin di bidang ritel farmasi di Indonesia. Per akhir 2013, jumlah apotek KAEF di seluruh Indonesia mencapai 500 unit. Didukung sejumlah faktor tersebut, dia memperkirakan, penjualan KAEF pada tahun ini bisa menembus Rp4,47 triliun dengan laba bersih Rp217 miliar. Angka ini meningkat dibanding proyeksi akhir tahun lalu, di mana penjualan sebesar Rp3,92 triliun dan laba bersih Rp189 miliar.

Sementara harga saham perusahaan farmasi plat merah ini untuk 12 bulan ke depan diprediksi bisa berada pada kisaran Rp950-1.155 per saham. Diawal perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia, harga saham perseroan dibuka stagnan dengan penutupan Rabu (12/2)kemarin pada level Rp765 per saham. (bani)