Indonesia Ditargetkan Jadi Pusat Fesyen Dunia di 2025

Industri Kreatif

Jumat, 14/02/2014

NERACA

Jakarta – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu menargetkan Indonesia bisa menjadi pusat mode atau fesyen dunia pada 2025. pasalnya, Indonesia mempunyai potensi untuk menjadi pusat mode dunia dan industri mode. Namun untuk mencapai target tersebut, diperlukan kerja sama yang kuat antar pemerintah, industri, dan para pelaku mode.

Salah satu untuk mencapai pusat mode dunia adalah dengan gerakan local movement. Gerakan tersebut merupakan ajakan untuk bangga dan mencintai produk Indonesia. “Diharapkan hal tersebut dapat menumbuhkan jumlah penggunaan produk lokal sehingga dapat memacu percepatan produksi produk Indonesia serta promosi ke luar negeri. Local movement bukan hanya sekedar bangga akan produknya namun juga bangga akan Indonesia,” ungkap Mari Elka dalam konferensi pers Indonesia Fashion Week 2014 di Jakarta, Kamis (13/2).

Dijelaskan mantan menteri perdagangan tersebut, dibandingkan dengan negara-negara lain, Indonesia mempunyai kelebihan dari aspek sumber daya alam, kekayaan dan keragaman budaya dan kearifan lokal, serta yang tidak kalah pentingnya adalah orang kreatif. “Perpaduan beberapa aspek ini menjadikan Indonesia memiliki nilai tambah dan menjadi kekuatan tersendiri sebagai pusat mode karena didukung oleh kekuatan sumber daya lokal yang mampu bersaing di tingkat global,” komentar Mari Pangestu.

Gerakan local movement yang didukung penuh oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan green movement yang juga didukung penuh oleh Kementerian Perindustrian. Local movement juga didukung oleh Kementerian Perdagangan dalam program pengembangan branding dan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah dalam program kelompok kerja kreatif untuk mengembangkan kualitas produk nasional sehingga mampu diterima oleh dunia internasional.

Pro Lingkungan

Ketua Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Taruna Kusumayadi menambahkan bahwa gerakan bangga akan Indonesia akan mengantarkan kepada green movement. “Sesuai dengan namanya, ini adalah ajakan bagi para pelaku usaha dan pecinta fashion untuk sadar dengan konsep sustainable fashion atau eco-fashion,” ucapnya.

Ditambahkan Taruna, eco-fashion yang dimaksud bukan sekedar hanya memanfaatkan kain-kain sisa ataupun bentuk pola yang efisien namun juga telah lebih dalam dari segi penggunaan energi, air, bahan kimia. “Seperti untuk batik, kita lebih mendorong agar menggunakan bahan-bahan pewarna yang alami sehingga tidak merusak lingkungan,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa pemerintah telah membat blue print ekonomi kreatif fesyen Indonesia yang diresmikan oleh 4 Kementerian pada pagelaran Indonesia Fashion Week 2013 yang mensinergikan seluruh pelaku ekonomi kreatif fesyen seperti asosiasi, bisnis, akademisi, media dan komunitas. “Dengan ready to wear craft fashion sebagai kekuatan, produk Indonesia akan terus melaju ke pasar global,” tambahnya.

Sementara itu, salah satu perancang Dina Midiana sempat mengatakan banyak orang berbangga hati ketika membalut tubuh dengan busana-busana rancangan rumah mode ternama, seperti Louis Vuitton, Chanel, Prada, atau bahkan sekelas Topshop, dan Zara. “Masyarakat Indonesia sampai saat ini lebih bangga dan merasa dihargai ketika mereka menggunakan pakaian-pakaian mahal dari luar negeri,” ujar Dina.

Padahal kalau diperhatikan, produk buatan lokal pun tak kalah trendi dan berkualitas. Bahkan, perancang-perancang Indonesia dikenal memiliki kreativitas tinggi dalam memanfaatkan budaya dan kekayaan dalam rancangannya. Sedangkan produk-produk luar hanya memiliki garis rancang yang sederhana, dan cenderung berulang.

“Produk kita sebenarnya tidak kalah dengan produk buatan luar, hanya kekurangan kita ada pada branding. Sampai saat ini, belum ada brand yang kuat dari produk Indonesia sehingga belum dapat menembus pasar internasional,” kata Dina.

Dengan kalahnya merek-merek lokal dibandingkan merek luar, tak heran jika masyarakat lebih memilih berbelanja di luar negeri meski kualitasnya pun tak jauh berbeda. Selain memersiapkan produk dan brand yang kuat agar dapat menembus pasar global. Dina menyadari harus ada edukasi terhadap masyarakat Indonesia. "Jangan sampai kita hanya menjadi target pasar."

Ia mencontoh salah satu negara Asia seperti Jepang saat ini telah menjadi salah satu pusat mode dunia. Itu karena masyarakatnya sangat bangga menggunakan produk lokal. “Masyarakat Jepang sangat bangga dengan produk lokal mereka. Baik di dalam maupun di luar negeri, mereka bangga memamerkan produk mereka,” kata Dina.