Jaga Stok Tetap Aman, DJPT Tebar Benih Ikan

Penyikapan Terhadap Cuaca Buruk

Jumat, 14/02/2014

NERACA

Jakarta – Sebagai wujud melestarikan dan meningkatkan produksi ikan, serta menjaga stok ikan nasional Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melakukan penebaran benih ikan. Adapun penebaran itu dilakukan tidak hanya di laut, melainkan juga di perairan umum daratan.

Gellwynn Jusuf, Direktur Jenderal Perikanan Tangkap KKP mengatakan, adanya cuaca ekstrem berdampak besar pada nelayan, karena mereka tidak bisa lagi melaut. Kondisi seperti itu sangat rentan dan mengganggu produksi dan stok perikanan khususnya perikanan tangkap, untuk mengatasi dampak maka dilakukan penebaran benih agar produksi dan stok tidak terganggu.

“Upaya peningkatan produksi perikanan di perairan umum daratan ini dilakukan dengan asas kelestarian bahwa sumberdaya ikan di perairan umum daratan harus dikelola dalam kerangka penyedian stok ikan termasuk ikan endemik dan ikan lokal, secara lestari dan tentu saja agar produksi perikanan tidak terganggu,” kata Gellwynn dalam siaran persnya yang diterima redaksi Neraca, Kamis (13/2).

Penebaran ikan yang dilakukan oleh DJPT melalui Direktorat Sumberdaya Ikan bertujuan untuk pelestarian sumberdaya ikan asli disamping ikan introduksi yang diusahakan oleh masyarakat. Dalam kegiatan penebaran yang dilakukan ini, menggunakan jenis ikan asli perairan Indonesia.

Dalam kegiatan penyebaran benih, juga dilakukan pemasangan papan sosialisasi kelestarian sumberdaya ikan dan larangan penggunaan alat penangkapan ikan yang merusak, sebagai salah satu cara untuk memberikan pemahaman terhadap masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

“Upaya penebaran benih ikan merupakan upaya yang tepat dan sangat strategis untuk secepatnya dilakukan agar sumberdaya ikan tetap lestari sehingga usaha penangkapan ikan di perairan umum daratan tetap berlanjut,” imbuhnya.

Adapun pengkayaan stok ikan di perairan umum daratan melalui penebaran benih sudah dilakukan di beberapa lokasi, diantaranya adalah Kabupaten Bogor Jawa Barat, Danau Rawapening Kabupaten Semarang dan Danau Tondano Kabupaten Minahasa. Penebaran benih di Kabupaten Bogor dilakukan di Situ Moyan dan Situ Cilimus Kabupaten Bogor. Pada tanggal 2 November 2013, DJPT melaksanakan kegiatan penebaran benih ikan di perairan Danau Rawapening yang meliputi benih ikan Nilem (merupakan jenis ikan asli di Rawa Pening) sebanyak 170.000 ekor dan Grass Carp (digunakan dalam pengendalian gulma eceng gondok) sebanyak 5.000 ekor.

Kemudian, penebaran benih di perairan umum Danau Tondano Kabupaten Minahasa dengan total benih ikan Mas (Cyprinus carpio) ukuran 5-8 cm sebanyak 50.000 ekor dan Ikan Grasscarp (Ctenopphaycyngodon idellus) ukuran 5-8 cm sebanyak 12.000 ekor. “Penebaran ini pun berjalan sangat efekti karena hasilnya dalam waktu 2 bulan saja ikan–ikan penebaran di Kabupaten Bogor, sudah berukuran rata-rata 300 gr/ekor. Makanya nanati penyebaran ini akan kita perluas,” paparnya.

Nelayan Merugi

Sebelumnya Sharif C. Sutardjo Menteri Kelautan dan Perikanan mengatakan Akibat cuaca buruk yang melanda perairan Indonesia sejak awal tahun 2014 telah mengakibatkan mata pencaharian nelayan terganggu.

Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), jumlah nelayan yang tidak bisa melaut akibat cuaca buruk selama bulan Januari 2014 mencapai 15.459 orang nelayan, dengan potensi kerugian sekitar Rp 31 miliar. jumlah nelayan yang ada di Indonesia saat ini mencapai sekitar 2,6 juta orang tersebar di 12.179 desa pesisir. Sebagian besar nelayan merupakan nelayan kecil yang rentan terdampak oleh terjadinya cuaca buruk.

“Gelombang besar akibat cuaca buruk tersebut mengakibatkan nelayan yang sebagian besar mengoperasikan kapal-kapal penangkap ikan berukuran di bawah 30 gross ton (GT) tidak dapat melaut,” katanya.

Dampak yang ditimbulkan akibat nelayan tidak dapat melaut karena cuaca buruk antara lain tidak adanya penghasilan dari nelayan karena tidak dapat menangkap ikan. Selain itu berkurangnya suplai bahan pangan produk perikanan, baik untuk pasar domestik maupun untuk kebutuhan ekspor.

Laporan adanya kerugian terhadap nelayan tersebut diterima KKP dari PPN Karangantu, PPN Kejawanan, PPN Palabuhanratu, PPS Cilacap, PPN Pekalongan, dan PPN Prigi. "Sampai dengan saat ini, kita terus melakukan pemantauan dampak cuaca buruk di seluruh Indonesia," tutupnya.