Peneliti Indonesia Yang Mengenyam Pendidikan Luar Negeri Masih Rendah

Sabtu, 15/02/2014

NERACA

Besarnya peluang pendidikan luar negeri belum dimanfaatkan dengan maksimal oleh masyarakat Indonensia. Padahal berbagai keuntungan bisa diraih saat mengikutipendidikan luar negeri. Di luar negeri banyak sekali diadakan seminar keilmuan, kajian dan diskusi yang gratis dengan fasilitas seabrek. Selain itu, peluang-peluang untuk berguru atau bertanya langsung pada ilmuwan dunia lebih terbuka. Dan masih banyak lagi tentunya.

Dalam sebuah dialog dengan tema Pendidikan di Luar Negeri “Peluang dan Tantangan” yang digelar oleh Pusat Informasi dan Pelayanan Partai Keadilan Sejahtera (PIP PKS UK) di Inggris beberapa pekan lalu, terungkap bahwa peluang bagi dosen, guru, peneliti di Indonesia untuk menimbapendidikan lanjutan di luar negeri sebenarnya terbuka lebar. Yang diperlukan adalah keberanian untuk keluar dari zona nyaman (comfort zone), kegigihan, dan izin struktural, terutama bagi mereka yang berstatus sebagai pegawai negeri.

Prof Adesta dari Universitas Islam Internasional Malaysia (IIUM) yang pernah bekerja di Inggris menduga, tidak banyaknya warga Indonesia yang memanfaatkan peluang studi lanjutan karena sudah terlalu nyaman meniti karier di Indonesia.Dia menilai daya juang orang Indonesia perlu ditingkatkan untuk mendapatkan dan memanfaatkanpeluang tersebut.

"Peluang dan kesempatan pendidikan di luar negeri sebenarnya sangat banyak. Saya bahkan kesulitan untuk mencari orang yang bisa memanfaatkan peluang ini," kata Erry.

Berbeda dengan Erry, salah satu pembicara peneliti di Universitas Exeter, Inggris Syahrul Hidayat mengatakan bahwa kendala struktural merupakan salah satu penghalang buat guru atau dosen di Indonesia untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri, terutama untuk program doktoral. Misalnya dengan kesulitan mendapatkan izin.

"Sulitnya mendapatkan izin atasan menjadi kendala tersendiri. Padahal program seperti ini berpotensi memberikan kontribusi yang lebih besar untuk pengembangan pendidikan di Indonesia," kata Syahrul.

Salah satu program/kegiatan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) untuk mendorong pertambahan angka dosen, guru, atau peneliti Indonesia yang bisa mengenyam pendidikan lanjutan di luar negeri adalah Scheme for Academic Mobility and Exchange(SAME). Programmobility and exchangeyang diperuntukkan bagi dosen tetap PTN/PTS yang sudah bergelar Doktor atau Guru Besar untuk berbagai bidang ilmu.

Program ini bertujuan memberi kesempatan kepada dosen untuk melakukan pendidikan dan/atau penelitian dengan mitra perguruan tinggi di luar negeri dan penyegaran keilmuan. Pengiriman dosen dalam rangka penugasan khusus dalam misi seni atau budaya, sebagai penutur bahasa Indonesia di perguruan tinggi luar negeri, serta sebagai staf perwakilan lembaga dunia/internasional di luar negeri. Program SAME diluncurkan pada tahun 2012, yang merupakan penyempurnaan dari PorgramAcademic Recharging(PAR) yang sudah dilaksanakan sejak tahun 2009.

Selain program SAME, DIKTI juga memberikan kesempatan bagi para dosen/peneliti perguruan tinggi di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk mengikuti program seminar di luar negeri.