Industri Komponen Lokal Harus Jadi Prioritas Utama - Sambut Pasar Bebas, Perkuat Basis Produksi

NERACA

Karawang - Pemerintah terus mendorong pengembangan industri elektronika di dalam negeri agar mempunyai peran penting dan menjadi bagian dari supply chain dunia dengan menyatukan langkah strategis bersama para pelaku industri. Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian terus mengajak semua pihak untuk menjaga iklim usaha industri yang sudah berjalan baik saat ini agar terus tumbuh dan berkembang sehingga mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Menteri Perindustrian Mohamad S Hidayat mengatakan penguatan industri komponen lokal, harus menjadi prioritas utama, ini ditujukan untuk memperkuat basis produksi dari sektor industri elektronika di dalam negeri, seiring dengan adanya ASEAN Economic Community (AEC) 2015.

“Penggunaan komponen lokal yang cukup tinggi di sektor industri elektronika telah mampu memberikan dampak positif terhadap tumbuhnya supporting industry, yang saat ini sudah mencapai 153 pabrik industri komponen. Di samping itu, industri ini juga terus berupaya menciptakan produk-produk dengan teknologi yang ramah lingkungan," jelas Hidayat dalam sambutannya acara Opening Ceremony Pabrik Baru PT. Sharp Electronics Indonesia di Karawang, Rabu (12/2).

Lebih lanjut, mantan ketua Umum Kadin ini mengatakan industri elektronika dan komponen pada tahun 2014 dapat mencapai pertumbuhan rata-rata 10% pertahun dengan kemampuan penyerapan tenaga kerja sebanyak 387.000 orang. Oleh karena itu, Pemerintah akan berupaya untuk terus memperbaiki iklim usaha yang kondusif, seperti pengembangan kebijakan insentif dan perpajakan, serta pengamanan pasar domestik. “Selain itu, kita dituntut untuk meningkatkan keunggulan kompetitif agar industri kita dapat bertahan dan unggul dalam persaingan global,” tegas Menperin.

Selanjutnya, Pemerintah akan terus mengambil langkah strategis seperti pembangunan infrastruktur, energi dan transportasi, serta fasilitas lainnya yang dapat mendongkrak keunggulan kompetitif industri nasional. Di lain pihak, Menperin mengharapkan industri terus melakukan peningkatan efisiensi dan produktivitasnya karena masih memiliki peluang yang cukup luas. Selain itu, diharapkan pelaku industri mulai mengembangkan pusat-pusat research and development (R&D) di Indonesia.

Perluasan Pabrik

Sebagai informasi, berdasarkan data yang dirilis pada acara peletakan batu pertama, pabrik baru PT. Sharp Electronics Indonesia tersebut merupakan perluasan dari pabrik sebelumnya yang berada di Pulogadung, Jakarta guna memenuhi permintaan pasar dalam negeri akan kebutuhan produk home appliances.

Pabrik yang dibangun di areal seluas 31 ha ini, mampu meningkatkan kapasitas produksi lemari es sebesar 2.640.000/tahun dan kapasitas produksi mesin cuci mencapai 1.680.000/tahun. Pabrik baru ini juga akan memenuhi 80% pasar dalam negeri dan 20% kebutuhan pasar ekspor dengan menargetkan market share untuk produk lemari es sebesar 36% dan produk mesin cuci sebesar 2%. Sementara itu, nilai investasi pembangunan pabrik baru ini sebesar Rp. 1,2 Trilyun dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 1200 – 1500 orang sampai tahun 2015.

Pada kesempatan tersebut, Menperin juga memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada PT. Sharp Electronics Indonesia atas peran sertanya dalam membangun dan mengembangkan industri elektronika rumah tangga di Indonesia sejak tahun 1970. “Kesungguhan PT. Sharp Electronics Indonesia dalam membangun industri di Indonesia telah ditunjukkan dengan terus meningkatkan kapasitas produksi dan perluasan investasi melalui pembangunan pabrik baru di Karawang ini,” tukasnya.

Pertumbuhan Investasi

Di sisi lain, dengan semakin banyaknya investasi yang masuk ke Indonesia tiap tahunnya, membuat pertumbuhan investasi di dalam negeri semakin kuat. Hal ini menepis anggapan Indonesia memasuki era perlambatan pertumbuhan industri.

"Kalau ada pemberitaan atau analisis yang menyatakan bahwa Indonesia telah memasuki ke era deindustrialisasi, itu salah besar. Kita justru sedang memasuki ke era penguatan industri. Untuk itu saya semata-mata menggunakan analisis nilai investasi terutama pada sektor industri yang meningkat pesat paling tidak dalam 4-5 tahun terakhir," ujar Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Mahendra Siregar.

Dia menjelaskan, bila dilihat secara keseluruhan dari 12 sektor industri yang masuk dalam klasifikasi investasi, total nilai investasi dari penanaman modal asing (PMA) pada 2010 baru mencapai US$ 3,3 miliar atau hanya sekitar 20%.

Sedangkan nilai investasi meningkat menjadi US$ 15,8 miliar atau naik hampir 5 kali lipat atau 55% pada 2013 dari total investasi di Indonesia."Jelas dalam empat tahun terakhir pertumbuhan investasi Indonesia mencapai 5 kali lipat, naik dari 20% menjadi 55%. Maka terjadi perkuatan investasi terutama pada sektor industri," kata Mahendra.

Selain itu, sumbangan nilai investasi ini terhadap PDB Indonesia juga mengalami peningkatan dari 22% pada 2000 menjadi 32% pada 2013. "Tetapi pertanyaannya, apakah ini akan berlangsung terus?," lanjutnya.

Mahendra juga menyebutkan, berdasarkan data dari JBIC, sebesar 30% investor Jepang menilai bahwa pasar Indonesia sangat menarik untuk melakukan investasi, namun 80% dari 500 responden investor Jepang tersebut menyatakan pada masa depan konsumsi dan pasar Indonesia akan lebih besar lagi.

"Kepada industri yang telah melakukan investasi karena pasar Indonesia yang besar, Anda telah melakukan langkah yang terbaik. Kami juga siap dan mendukung kebijakan Kementerian Perindustrian dan dukungan kepada industriawan baik PMA dan PMDN," tutur Mahendra.

Namun untuk menjaga pertumbuhan investasi ini, menurut Mahendra, Indonesia harus bisa menjaga tantangan iklim investasi ini antara lain, menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, memperbaiki infrastruktur dan logistik terutama di daerah yang dekat dengan kebutuhan investasi, serta terus memperbaiki meningkatkan hubungan industial yang semakin harmonis.

Related posts