Perumahan Kelas Menengah Masih Akan Tumbuh

Sektor Properti

Kamis, 13/02/2014

NERACA

Tangerang – Kondisi ekonomi nasional yang lagi lesu ditambah lagi tahun pemilu 2014 ini berdampak pada lambatnya pertumbuhan bisnis maupun usaha nasional, salah satunya pada sektor properti yang pertumbuhannya makin tak menggairahkan. Kendati demikian, pengembang optimis jika untuk perumahan tipe middle calass masih punya potensi dan peluang tumbuh ditengah kondisi ekonomi dan tahun pemilu ini walaupun tidak signifikan.

Ervan Adi Nugroho, Presiden Direktur Paramount Land mengatakan, memang kondisi sekarang secara umum bisnis properti berjalan lambat, mengingat kondisi ekonomi nasional yang lagi tidak bagus ditambah lagi tahun 2014 ini meeupakan tahun pemilu biasanya semua sektor usaha maupun bisnis tidak bisa tumbuh signifikan. Hanya saja, untuk rumah tinggal untuk tipe menengah masih punya potensi tumbuh walaupun tidak signifikan. “Untuk kelas menengah terutama tipe rumah middle class saya rasa masih punya peluang bagus di tahun ini,” katanya saat ditemui pada acara Peluncuran Klaster Terbaru Gading Sepong, Tangerang, Rabu (12/2).

Diakui oleh Ervan, memang saat ini untuk bisnis properti pertumbuhannya sangat sulit mengingat kondisi rupiah yang terus melemah. Suku bunga acuan BI Rate yang tinggi sekitar 7,5%, sehingga banyak masyrakat mengurungkan niatnya untuk membeli rumah. Maka dari itu pengembang harus jeli dan dapat membangun konsep agar demain yang kurang diserap. “Sebagai pengembang kejadian apa pun harus terus performe tinggal bagaimana bisa menjaring market dengan konsep dan fasilitas serta kemudahan yang kita tawarkan,” imbuhnya.

Menurutnya walau dalam kondisi apa pun rumah atau tempat tinggal sudah menjadi kebutuhan, sehingga dalam kondisi apa pun pasarnya tetap ada tinggal bagaimana pengembang mampu menciptakan peluang-peluang yang masih berpotensi dan membangun konsep yang diinginkan oleh market. “Prospek konsep perumahan masih bagus tahun ini, tinggal bagaimana membuat konsep yang bagus dan sesuai dengan keinginan konsumen,” terangnya.

Untuk saat ini yang masih punya potensi bagus pada segmentasi menengah, karena pada level ini biasanya didominasi oleh para usahawam muda yang memang kebutuhan tempat tinggalnya tinggi. “Indonesia mayoritas penduduknya berpenghasilan menengah, jadi disegmen ini yang masih punya potensi tumbuh dibandikan perumahan level atas maupun level bawah,” jelasnya.

Tahun Waspada

Sebelumnya Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch ( IPW) Ali Tranghanda, menyatakan, bila kondisi perekonomian tidak kunjung membaik, pasar properti di tahun 2014 diperkirakan akan anjlok dengan tingkat penurunan pertumbuhan hingga 25% dan merupakan tahun waspada bagi pasar properti. "Kondisi politik 2014 saat ini relatif agak berbeda dengan iklim pemilu sebelumnmya dan diperkirakan lebih bergejolak dibandingkan pemilu yang lalu," kata Ali.

Dia mengatakan, kondisi tersebut akan mempengaruhi pertumbuhan pasar properti nasional yang relatif akan berdampak merosotnya pasar properti lebih besar lagi. Namun demikian, Ali memperkirakan, pasar properti menengah bawah relatif masih bisa bertumbuh di 2014. "Karena banyak pembelanjaan partai-partai yang dapat mendongkrak daya beli masyarakat meskipun dalam jangka waktu tertentu," katanya.

Dengan kondisi tersebut, Ali melanjutkan, melambatnya pasar properti saat ini juga dibarengi dengan kondisi-kondisi yang bisa memungkinkan pasar properti akan jatuh lebih rendah lagi. Namun, hal itu bukan semata karena pasar properti itu sendiri, melainkan akibat dampak bersamaan antara siklus properti yang sedang melambat dan tengah terpuruknya perekonomian nasional. "Kita berharap perekonomian nasional dapat segera diatasi dengan baik sehingga siklus properti yang telah mengalami perlambatan saat ini tidak jatuh terlalu dalam lagi," ujarnya.

Sedangkan menurut Kepala Riset Cushman & Wakefield Arief Rahardjo, mengatakan Pertumbuhan bisnis properti di Indonesia pada 2014 bakal melambat terutama pada produk apartemen dan perkantoran strata title. “Melambatnya sektor properti terutama akan terjadi di jenis apartemen dan kondominium, termasuk perkantoran. Misal strata office tahun ini pertumbuhannya 27%, nanti 2014 perkiraan hanya akan tumbuh 20%. Biasanya cenderung properti yang pakai sistem jual seperti apartemen dan kondominium akan cepet berpengaruh," katanya.

Isu melemahnya ekonomi makro Indonesia dan luar negeri khususnya China dan Amerika Serikat berdampak pada pengembang properti dan konsumen. Mereka lebih memilih untuk menunggu saat yang tepat untuk mengambil keputusan terutama untuk sektor gedung perkantoran strata title, kondominium, dan perumahan.