Laba Vale Indonesia Meleset Dari Target

Tergerus Penurunan Harga Nikel

Kamis, 13/02/2014

NERACA

Jakarta – Menurunnya harga nikel dunia di tahun 2013, memberikan dampak bagi kinerja keuangan PT Vale Indonesia Tbk (INCO). Pasalnya, sepanjang tahun 2012, perserooan tidak dapat mencapai target laba yang ditentukan.

Presiden Direktur PT Vale Indonesia Tbk, Nico Kanter mengatakan, pada tahun 2013, harga nikel dunia di London Metal Exchange (LME) turun menjadi US$15.000 per ton dibandingkan rata-rata harga nikel dunia yang berkisar US$17.374 per ton. Selain itu, pada tahun 2013 produksi nikel perseroan hingga kuartal ketiga hanya mencapai 57.503 ton, padahal perseroan menargetkan produksi nikelnya mencapai 79.500 ton.

Sementara untuk laba bersih perseroan pada kuartal ketiga 2013 baru mencapai US$47,3 juta, sedangkan target laba bersih 2013 mencapai US$213,6 juta,”Untuk kuartal keempat belum bisa disampaikan. Memang kami perusahaan terbuka namun karena masih tahap penghitungan belum bisa disampaikan. Tidak tercapainya laba bersih akibat turunnya harga nikel dunia”, ungkapnya di Jakarta, Rabu (12/2).

Pada tahun 2014 ini, perseroan menargetkan produksi nikel mencapai 79.691 ton, sementara di sisi penjualan diharapkan mampu mencapai US$1 miliar. Sementara unutk laba bersih, perseroanmemprediksi dapat meraup US$112 juta, dengan asumsi harga nikel di LME US$16.000 per ton. “Selain itu, kami berharap agar proses renegosiasi kontrak dapat diselesaikan pada kurtal pertama tahun ini. Karena hingga saat ini masih ada beberapa poin pengajuan pemerintah yang harus dibicarakan lebih rinci lagi. Kami paham jika luas wilayah harus dikurangi”, tandasnya.

Tercatat sepanjang bulan Januari 2014 perseroan terus melakukan kegiatan eksplorasi di daerah-daerah yang terdapat dalam kontrak karya. Sekretaris Perusahaan, Ratih Amri mengatakan daerah eksplorasi yang digarap perseroan sepanjang Januari berada di Bukit Mahalona South West dan Konde South di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Sedangkan biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan eksplorasi di Januari mencapai US$205,72 ribu.

Untuk eksplorasi yang dilakukan di Mahalona South West, perseroan menggunakan metode pengeboran core drilling HQ-3 untuk program spasi 50m. Sedangkan untuk di daerah Konde South, pihaknya melakukan pengeboran study Colocated spasi 100m. Dia menyebutkan, saat ini pihaknya tengah melakukan pengujian hasil eksplorasi dengan proses penghitungan cadangan menggunakan metoda block modeling di Sorowako.

Rencananya, untuk Sorowako Project Area (SPA) perseroan akan melanjutkan kegiatan pengeboran sisipan di Bukit Mahalona South West dengan spasi 50m menggunakan 4 mesin bor serta melanjutkan kegiatan pengeboran study Colocated di Konde South spasi 100m dengan menggunakan 4 mesin bor.“Sementara untuk Sorowako Outer Area, kami rencananya akan melanjutkan proses tender untuk mendapatkan kontraktor kerjasama dalam melanjutkan eksplorasi di Bukit Petea”, ujarnya. (nurul)