Buka Jaringan Baru, PGN Kuras Dana Rp 2,4 Triliun

Tingkatkan Distribusi Gas

Kamis, 13/02/2014

NERACA

Jakarta - PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) berencana membangun jaringan gas baru dengan menyiapkan anggaran sebesar US$200 juta atau sekitar Rp2,4 triliun di seluruh wilayah Indonesia pada tahun ini. Seketaris Perusahaan PT Perusahaan Gas Negara Tbk Heri Yusup mengatakan, melalui pembangunan jaringan baru ini diharapkan akan lebih banyak rumah tangga yang menikmati gas bumi yang lebih ramah lingkungan, efisien dan aman,”Selain untuk rumah tangga, industri dan komersial, perseroan juga membangun infrastruktur gas untuk transportasi. Tahun ini, PGN akan membangun 16 SPBG dan MRU di Jakarta, Surabaya dan Sukabumi”, katanya dalam keterangan resmi perseroan, di Jakarta, Rabu (12/2).

Dia menambahkan, PGN SBU Distribusi Wilayah III hari ini meresmikan penyaluran gas bumi untuk rumah tangga di Kota Batam, Kepulauan Riau. Sehingga dengan terselesaianya proyek pembangunanan jaringan distribusi gas sepanjang 8,55 kilometer tersebut akan menambah jaringan distribusi gas yang sudah ada di Batam selama ini.“Pembangunan pipa distribusi untuk rumah tangga di Batam terus bertambah. Dengan tingginya respon dari masyarakat, PGN akan terus berusaha mengembangkan jaringan ke perumahan lainnya agar lebih banyak masyarakat yang menikmati energi baik PGN”, ungkapnya.

Sementara itu, untuk meningkatkan penggunaan gas bumi di masyarakat, perseroan akan melakukan pembangunan jaringan baru secara masif melalui Gerakan PGN Sayang Ibu. Dalam program ini PGN akan membangun jaringan gas baru untuk 1 juta pelanggan dan tahun ini menjadi awal dari program itu.

Terkait penggunaan gas bumi unutk bahan bakar kendaraan bermotor, perseroan mengharapkan bantuan dari pemerintah untuk menengahi komunikasi dengan pihak pabrikan perakitan kendaraan bermotor agar memasangkan tangki gas pada setiap kendaraan baru yang diproduksi.

Vice President Corporate Communication PGAS Ridha Ababil mengungkapkan, hal tersebut dimaksudkan guna meningkatkan jumlah pengguna gas sebagai salah satu upaya konversi bahan bakar dari minyak ke gas. Menurut dia, pihaknya perlu dukungan untuk meningkatkan pola konsumsi beralih ke gas.“Contoh kasus kami bangun di Pondok Ungu tapi masih sepi. Tapi pasar belum ada karena kendaraan yang pakai gas masih terbatas”, katanya beberapa waktu lalu.

Selain melakukan edukasi kepada masyarakat, kerja sama dengan pabrikan kendaraan bermotor memiliki andil yang penting mengingat di sanalah kendaraan-kendaraan dirakit. Artinya, penggunaan gas atau minyak akan sangat bergantung dengan standar tangki bahan bakar yang terpasang pada kendaraan-kendaraan baru itu.

Saat ini, lanjut dia, pabrik masih menggunakan tangki bahan bakar minyak dalam memproduksi kendaraan bermotor. Karena kalau tidak dari sekarang, nantinya akan sulit mengkonversi 100% dari penggunaan bahan bakar minyak menjadi gas.

Namun, dia mengakui bahwa pihaknya akan sulit unutk memaksa pabrik memasang tangki gas pada setiap produk kendaraan baru yang dihasilkannya. Sehingga diperlukan peran pemerintah sebagai fasilitator bagi kedua belah pihak.“Bagaimana kita mensingkronkan mereka membuat mesin gas, kita menyediakan SPBG-nya. Memang harus dikumunikasikan kapan ada konversi gas, kapan kita bangun SPBG-nya. Dengan harapan, ketika SPBG berdiri, masyarakat sudah bisa mulai konversi ke gas karena kendaraannya sudah pakai tangki gas”, tegasnya. (nurul)