Strategi Hancurkan Industri KA

Sabtu, 15/02/2014

Ahmad Safrudin, ketua Aspirasi Penumpang Kereta Api (Aspeka)

Strategi Hancurkan Industri KA

Diakui, manajemen KRL sudah berupaya meningkatkan kinerja dan layanan. Ada progressnya. Namun, upaya itu seolah sirna ketika nyaris setiap hari, penumpang terganggu dengan seringnya kereta mogok atau gangguan persinyalan atau perlistrikan.

Berikut wawancara Neraca dengan Ketua Aspirasi Penumpang Kereta Api (Aspeka) Ahmad Safrudin.

Apa saja yang Anda alami setiap hari saat naik KRL?

Kondisi KRL kita yang buruk, terutama AC dan mesinnya. Maklum barang bekas. Kami menghargai ada progress membaik seperti e_ticketing dan pembenahan stasiun. Tapi sayang, peron masih buruk, banyak yang bocor, ada genangan air, kualitas lantai yang buruk. Sepertinya, pekerjaan itu dikerjakan oleh kontraktor yang biasa KKN hingga membangunnya secara asal-asalan.

Seperti apa mutu layanan KA khususnya kereta api listrik (KRL) untuk Jabodetabek?

Mutu layanan masih buruk, terutama jadwal. Memang, ada progress membaik, yaitu petugas peron yang cukup informatif dan mau menjelaskan kepada penumpang. Namun secara keseluruhan, layanan informasi masih buruk. Infastruktur tak terawat baik seperti wesel, persinyalan, dan perlistrikan. Sering saya jumpai gangguan akibat masalah itu. Selama ini layanan masih tidak accessable bagi penyandang cacat.

Lalu, sebenarnya apa progress manajemen saat ini?

Sekali lagi, kami menghargai upaya KCJ/KAI dalam melakukan pembenahan. Bangun KCJ/KAI dengan orientasi layanan sesuai standar (SPM) yaitu standar operasi bisnis. Tapi sayang masih setengah-setengah. Terbukti kasus gangguan sering terjadi hampir setiap hari. Ini jelas membuat stress penumpang. Harus ada opname kondisi KRL dan melakukan perawatan yang intensif.

Mengapa KAI beli kereta bekas?

Memang harus ada prinsip bagi pemerintah bahwa produk domestik adalah strategi jangka panjang untuk menbangun kekuatan dan ketahanan bangsa. Dengan memakai KRL buatan dalam negeri, yaitu dari PT InKA, maka fundamental ekonomi kita akan menjadi kuat dan memperkokoh industri KA di dalam negeri, sekalipun perlu investment cost yang besar. Namun, jika hal itu dilakukan, pasti akan memberikan benefit yang besar pula.

Pejabat kita payah karena membiarkan pasar produk KA dalam negeri dikuasai KA bekas dari Jepang. Sehingga, industri KA nasional kehilangan opportunity (market). Untuk itu KAI harus berani membeli KA dari InKA. Soal tudingan bahwa InKA tak mampu memenuhi atau menyediakan puluhan gerbong, itu kan semata bicara soal order. Jika tak ada willingnenss dari pemerintah untuk memberikan kesempatan, maka industri domestik selamanya tak akan maju dan terus ketinggalan di negeri sendiri, bahkan ambruk.

Apa sesungguhnya keinginan para penumpang?

Yang ideal, menurut saya, headway atau masa tunggu antarkereta tiap tiga menit di seluruh stasiun. Lintasan sebidang liar harus ditutup termasuk yang dibuat oleh developer.

Membangun MRT, monorel, dan BRT harus komplementer dengan KRL. Adalah peranan gubernur dan Kementerian Perhubungan untuk mengatur integrasi rute atau trayek agar antar berbagai moda transportasi bisa saling menghidupi dan bukan sebaliknya saling berebut pasar dengan overlapping rute. Membangun MRT/LRT yang menghubungkan kawasan permukiman ke sentra ekonomi seperti bandara dan kawasan komersial lainnya. (saksono)